Posted by: deddyek | November 14, 2011

Masjid Agung Banten di Serang (Banten Lama)

Sekilas bentuknya mengingatkan diriku pada Masjid Gede Kauman di Yogyakarta. Baik serambinya, ruang sholatnya ataupun atapnya. Yang paling membedakan adalah adanya Menara Besar yang berdiri tegak di depannya.

Sebuah masjid yang menyimpan nilai sejarah masa lalu. Sejarah akan kebesaran Kesultan Banten.

Telah lama diriku berencana untuk mengunjunginya. Akhirnya, baru hari itu, Minggu 13/11/2011, diriku berkesempatan berada di sana.

Masjid Agung Sultan Banten Maulana Hasanuddin. Begitulah nama lengkap dari masjid yang biasa orang sebut Masjid Agung Banten.

Tepat jam 10:00 pagi, diriku sampai di Terminal Pakupatan di Kota Serang. Panasnya udara kota Serang langsung menyambut.

Daretean angkot biru menarik perhatianku. Terutama yang bernomor 01. Setelah bertanya-tanya dengan pengemudi angkot tentang tujuanku, ia memintaku untuk naik angkotnya dan nanti akan diturunkan di lokasi angkot menuju Karangantu ngetem. OK deh, akhirnya diriku naik angkot tersebut.

Sekitar 20 menit perjalanan menuju lokasi pengeteman angkot. Sebuah pasar di Jl. Maulana Hasanudin diriku diturunkan. Rp 3000 ongkosnya. Begitu turun, setelah tengok kanan kiri, diriku bertanya dalam hati kok tak ada angkot yang ngetem ya. Akhirnya diriku mencoba untuk jalan-jalan di lokasi sekitar. Hingga akhirnya sebuah angkot meluncur dari sisi belakangku. Dan seorang kernetnya berteriak “Karangantu – Karangantu”.

:) .. wah senang banget rasanya. Tanpa berpikir ulang, diriku langsung naik angkot tersebut. Di dalam angkot diriku berpesan untuk diturunkan di depan Masjid Agung Banten. Sippp pak, begitu kata abangnya. Dan langsung saja, angkot yang sudah penuh itu melaju menyusuri jalan menuju Karangantu.

Setengah jam kemudian sampailah di lokasi. Ongkos angkot yang dikenakan Rp. 5000. Masjid tersebut berlokasi agak jauh dari jalan. Untuk menuju ke sana, diriku mesti melewati deretan para pedagang yang berjualan bak etalase sepanjang lorong menuju Masjid. Keberadaanya memang berguna bagi para pengunjung. Selain mudah untuk mendapatkan aneka makanan, minuman atau pernak-pernik, pengunjung juga tidak kepanasan karena atap dari terpal melindungi.

Lima sampai enam menit berjalan kaki, sampailah diriku di Masjid Agung Banten.

Hal pertama yang membuat menarik bagi para pengunjung adalah menara masjidnya yang besar. Hanya ada satu menara di sana. Letaknya di sisi timur dari masjid. Menara yng terbuat dari batu bata tersebut memiliki tinggi +/- 24 meter dengan diameter 10 meter (pada bagian bawah). Menurut informasi yang ada, untuk naik ke atas menara mesti menaiki 83 buah anak tangga. Tapi sayangnya, diriku tak berkesempatan untuk naik ke atas menara. Siang itu pintu menara dalam keadaan di kunci.

Hendrick Lucasz Cardeel adalah seorang arsitek Eropa yang membangun menara tersebut dengan fungsi sebagai tempat untuk mengumandangkan adzan serta tempat penyimpanan senjata.

Di sekitaran menara masjid banyak terdapat pengunjung / peziarah yang duduk di sana. Sementara para pedagang, nampak berjualan di halaman masjid.

Diriku masih di pelataran masjid sambil menikmati pemandangan yang ada. Pandanganku terah pada atap kubah masjid. Bentuknya khas seperti arsitektur masjid di jawa. Bedanya kalo pada masjid-masjid di Jawa bertumpuk tiga, pada masjid ini bertumpuk lima. Dua tumpuk merupakan atap yang besar sementara tiga tumpuk merupakan atap yang kecil.

Diriku lantas masuk melalui sisi kanan masjid. Di sana ada bangunan semacam koridor untuk menuju ke tempat wudlu. Nampak pula di sana ada deretan kotak amal besar untuk diisi oleh pengunjung / peziarah yang selalu ramai datang ke sana.

Sebagai informasi, di sisi kanan dari masjid atau di arah utara, terdapat makam dari Sultan Banten Maulana Hassanudin serta beberapa sultan yang lain. Sultan Banten Maulana Hassanudin ini merupakan putra dari Sunan Gunung Jati. Beliau adalah yang berperan dalam mendirikan Masjid Agung pada sekitar tahun 1560-1570.

Masjid ini telah beberapa kali mengalami renovasi atau pembangunan di antaranya pada tahun 1969, 1975 dan 1991. Begitulah setidaknya informasi yang didapat dari batu prasasti yang ditempel di dinding serambi masjid.

Setelah mengambil air wudlu, diriku berjalan menuju ruang serambi masjid. Ruang sholat masjid masih belum dibuka. Menurut salah satu petugas masjid, pintu-pintu masjid akan dibukan sebelum adzan dzuhur dan ditutup lagi pada pukul 21:00.

Selepas menunaikan sholat takhiyatul masjid di serambi, sambil menunggu waktu dzuhur diriku sempatkan melihat-lihat ruang serambi masjid ini.

Sekilas bentuknya seperti serambi di Masjid Gede Kauman. Hanya saja, ornamen-ornamen yang ada lebih sederhana dari yang di sana.

Tiang-tiang kayu bercat hitam berdiri tegak di sana. Jumlahnya sekitar 12 buah. Pada bagian atapnya terlihat berwarna putih dengan kayu-kayu usuk dan reng menopang di sana. Sedangkan pada bagian lantainya berlapiskan marmer sehingga menghadirkan kenyamanan bagi para jamaah yang sedang berada di sana.

Masih pada bagian atap, di sana tergantung beberapa lampu antik sebagai penerangan.

Pada sisi selatan dari ruang serambi, terdapat maket miniatur dari masjid ini. Pengunjung dapat melihat dan membayangkan betapa bagusnya masjid ini dahulu kala.

Beranjak menuju sisi timur ruang serambi, terlihat di sana empat buah kolam yang dulunya difungsikan sebagai tempat wudlu. Kolam tersebut dibatasi pada sisi barat dan timurnya oleh serambi dan pagar. Konon, di sana terdapat mata air yang selalu mengalir. Namun sayangnya karena mata airnya mengandung banyak lumpur, kolam-kolam tersebut sepertinya sudah tidak digunakan lagi sebagai tempat wudlu.

Adzan dzuhur telah berkumandang. Pintu-pintu masjidpun mulai dibuka. Masjid ini memiliki beberapa pintu. Di antaranya enam di depan dan dua di samping. Ukuran pintu masjid tersebut cukup kecil. Jadi bagi yang memiliki ukuran badan yang tinggi, mesti menundukkan kepalanya. Mungkin itulah filosofinya, bahwa siapa saja yang masuk ke masjid, mesti merendahkan diri dan jangan berlaku sombong di rumah Alloh. Karena Alloh Maha Besar dan manusia sangat kecil.

Satu persatu jamaah memasuki ruang sholat utama. Demikian pula dengan diriku. Gelaran karpet merah terhampar di sana membentuk deretan shof-shoft. Banyak tiang yang menyangga ruang sholat tersebut. Semuanya terbuat dari kayu. Begitupun pula pada bagian atapnya.

Tak banyak ornamen yang menghias di dalamnya. Hanya beberapa lampu antik dan kipas angin yang tersedia untuk kenyamanan bagi jamaahnya. Sungguh kesan sederhana yang terasa.

Sebuah mimbar kayu yang konon masih asli diletakkan di sana. Berada di bagian tengah, satu shof membelakangi mihrab.

Dan berbarislah para jamaah seiring iqomad dilantunkan. Cukup banyak jamaah sholat dzuhur siang itu. Waktupun berlalu bersama gerakan teratur sholat bersama sang imam. Hingga salampun tiba dan selang beberapa saat, satu per satu jamaah meninggalkan ruang sholat.

Dirikupun melangkahkan kaki kiri meninggalkan masjid tersebut. Siang kian terasa panas. Udara khas tepian pantai begitu meraja. Tak terasa sebotol air mineral pun telah habis. Sebotol yang baru pun telah ditangan untuk menemani langkah kaki menuju tempat di mana angkot berada. Dengan rute sebaliknya, dengan angkot yang sama, diriku kembali ke kota Serang.

====================================================
photo by : deddy
====================================================

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: