Posted by: deddyek | May 16, 2012

Menikmati Bandung (Bagian-4) : Malam Mingguan di Kota Kembang

Cihampelas dan Dago. Itulah dua tempat yang wajib dicantumkan dalam itenerary saat berkunjung ke kota Bandung. Bukan hanya sekedar dicantumkan, tapi mesti dikunjungi. Begitulah kiranya pesan dari kebanyakan traveller yang pernah atau sering bolak-balik ke Bandung.

Dan malam minggu itu, kamipun menjadikan kedua lokasi tersebut untuk menikmati kebersamaan.

……………………

Kami masih di dalam angkot yang melaju dari Bandung Super Mall menuju Terminal Kalapa. Sebelum sampai Terminal, kira-kira di sekitaran Jl. Dewi Sartika turunlah kami di sana. . Kami lantas mengeluarkan Rp. 5000 untuk membayar tarif berdua.

Berpindah dari satu angkot ke angkot yang lain, itulah transportasi kami selama di Bandung. Untuk menuju Cihampelas, kami mesti menaiki angkot rute Kalapa – Ledeng.

Cukup banyak angkot tersebut terlihat di sana. Jadi mudah saja kami untuk mendapatkan angkot yang kami ingini.

Melaju kencang angkot menyibak jalan-jalan di kota Bandung. Angkot terus melesat menyusuri Jl. Dewi Sartika – Jl. Kautamaan Istri – Jl. Balong Gede – Jl. Pungkur – Jl. Karapitan – Jl. Sunda – Jl. Sumbawa – Jl. Lombok – Jl. Banda – Jl. RE Martadinata (Riau) – BIP (Dago) – Jl. Merdeka – Jl. Aceh – Jl. Wastu Kencana.

Di ujung Jl. Wastu Kencana terdapat sebuah perempatan dan turunlah kami di sana. Kali ini tarifnya hanya Rp. 2000 per orang. Ternyata untuk menuju area FO, jaraknya masih lumayan jauh.

Tak apalah, perlahan-lahan kami nikmati jalan-jalan sore hari itu.

Melangkahkan kaki perlahan membuat jarak sekitar 400 meter tak terasa terlalui. Dan sampailah kami di perempatan besar Jl. Layang Pasopati. Dari sana terlihatlah jembatan layang yang menjadi ikon kota Bandung.

Kami mesti menyeberangi perempatan jalan untuk melanjutkan langkah ke tujuan.

Sesekali kami beristirahat sejenak untuk sekedar menghilangkan haus di tenggorokan dan sedikit pegal di kaki. Dan kemudian perjalananpun berlanjut.

Dari jauh suasana keramaian terlihat. Begitu banyak orang berjalan ke arahnya. Dan beberapa bus besar nampak hilir mudik di sana.

Akhirnya sampailah kami di lokasi tujuan. Cihampelas Factory Outlet.

Masih sama seperti beberapa tahun silam. Begitu banyak Factory Outlet berdiri di kanan kiri jalan. Bahkan bertambah jumlahnya. Tak mau kalah, beberapa gerai makanan juga hadir untuk memanjakan lidah para pengunjungnya.

Malam minggu, di akhir pekan nan panjang, bisa dipastikan begitu banyak orang yang memadati kawasan lokasi belanja Cihampelas. Beberapa rombongan terlihat datang dari lokasi yang jauh seperti dari Jawa Tengah, Jakarta bahkan Sumatera. Mereka terlihat tengah asyik menikmati petualangan belanja sore itu dari satu FO ke FO yang lain.

Kamipun menyempatkan diri untuk memasuki beberapa FO yang ada. Sekedar untuk melihat-lihat koleksi dan cek harga.

Koleksinya tak jauh beda dengan di kawasan Dago. Sementara harga, menurut kami terlalu mahal. Lebih murah di kawasan Dago. Nampaknya harga-harga produk yang ditawarkan FO-FO di Cihampelas, kurang menarik lagi.

Tak ada satupun produk FO yang kami bungkus. Kami putuskan untuk mencarinya di kawasan Dago saja.

Cihampelas Walk (Ciwalk)

Tujuan berikutnya adalah Cihampelas Walk. Untuk ke sana cukup jalan kaki saja. Tak jauh lokasinya dari pertigaan.

Kemacetan terlihat di depan pintu gerbangnya. Kendaraan yang masuk dan ke luar bertemu dengan kendaraan yang bergerak menuju arah Jl. Cihampelas. Ditambah lagi begitu banyak orang yang bersliweran di area tersebut. Tak salah lagi, jika para polantas begitu sibuk mengurai kondisi tersebut.

Memasuki kawasan Ciwalk, menghadirkan suasana yang berbeda. Ramai namun cukup nyaman.

Menyusuri koridor dari bangunan sebelah kiri, kami mendapati beberapa deretan resto dan gerai makanan yang tertata rapi. Katanya area tersebut dinamai Union Street.

Ciwalk ini memiliki desain yang cukup unik. Sekilas tak terlihat di mana lokasi mallnya. Ternyata mallnya berada di tengah area. Sebuah halaman nan luas hadir di sana dengan berhiaskan beberapa pepohonan hijau yang menyegarkan. Sesuai namanya Cihampelas Walk, jadi area tersebut benar-benar nyaman untuk jalan-jalan.

Kami terus melangkah melaluinya. Hingga sampailah kami di suatu area yang dinamakan Young Street.

Young Street dibuat semacam jalan yang berada di sebelah kiri Mall. Deretan gerai makanan dan minuman baik yang bercita rasa Indonesia, Barat maupun Asia hadir di sana.

Selanjutnya kami berpindah ke sisi kanan dari Mall. Broadway, begitulah kawasan tersebut dinamakan. Di lokasi tersebut berjejer banyak tempat makan yang sepertinya asyik untuk dikunjungi. Kami sempatkan melihat-lihat beberapa di antaranya.

Hingga kemudian sebuah gerai bernama Warung Talaga menjadi pilihan kami.

Aneka kuliner berbahan tahu ditampilkan di dalam daftar menu dan plus aneka tingkatan pedas yang berbeda. Setelah melihat-lihat, akhirnya kami pesan kuliner yang kami pilih.

Tak lama kemudian datanglah pesanan kami. Seporsi Tahu Peureum Beunta ditambah segelas Teh Serei dan Teh Kocok hadir di meja.

Tahu Peureum Beunta terbuat dari tahu kuning yang digoreng dengan tepung renyah dan rasanya .. hmmm… sangat pedassss…

Satu demi satu, tahu pedas nan renyah tersebut kami nikmati. Sesruput demi seseruput minuman hangat terasa pas di petang itu.

Waktu berlalu cepat, kami mesti beranjak dari tempat tersebut. Melalui pintu belakang dari Warung Telaga, sampailah kami di Yogya Department Store yang cukup besar. Kami sempatkan sejenak untuk jalan-jalan di dalamnya.

Sebuah jembatan yang menghubungkan Union Street dan Mall menjadi tujuan kami berikutnya. Jembatan tersebut menjadi tempat yang menarik untuk berphoto.

Dari tempat tersebut kami bisa menikmati suasana halaman mall nan menarik dari atas. Begitu pula dengan area Young Street.

Petang kian gelap menuju malam seiring lampu-lampu yang kian benderang. Biarlah waktu berlalu bersama cerita yang mengalir. Begitupun kami yang mesti menuntaskan penjelajahan di Ciwalk hari itu.

Dago

Satu spot lagi tengah menanti. Perlahan kami melangkah ke luar dari kawasan Ciwalk. Di sisi jalan di dekat pintu gerbang, berdiri kami di sana menanti angkutan kota. Kesabaran mesti dijaga tatkala kemacetan kian memuncak dan yang ditunggupun tak jua datang.

Menyeruak di antara kepadatan lalulintas, terlihatlah di sana, sebuah angkot jurusan Ledeng – Kelapa. Tanpa berpikir panjang, langsung saja kami mendekatinya dan masuk ke dalamnya. Tujuan berikutnya adalah kawasan Dago. Sayangnya tidak ada angkot yang langsung ke tujuan.

Angkot Ledeng – Kelapa mengambil rute Jl. Cihampelas – Jl. Wastu Kencana – Jl. RE. Martadinata – Jl. Purnawarman – BEC (Purnawarman) – Jl. Wastu Kencana – Jl. Aceh. Tepat setelah perempatan Jl. Aceh dan Jl. Merdeka (di dekat Hotel Hyatt) turunlah kami di sana. Tarif angkot masih sama Rp. 2000 per orang.

Karena jalan Merdeka – Dago hanya satu arah, jadi tak ada angkot untuk ke Dago. Kami mesti jalan kaki sepanjang Jl. Merdeka ke arah Bandung Indah Plaza (BIP). Setelah melewati BIP, jalan kaki mesti berlanjut hingga sampai perempatan Jl. Riau. Di sanalah angkot untuk ke Dago berada.

Untuk ke kawasan Dago kami menaiki angkot rute Kalapa – Dago. Dengan angkot ini kami dapat langsung sampai di tujuan yaitu kawasan FO di Dago dengan tarif Rp. 2000 per orang.

Malam itu jalanan di Dago terlihat cukup ramai. Kendaraan roda empat dan roda dua hilir mudik di kedua sisinya.

Bandung memang menghadirkan suasana romantis. Bagaimana tidak, di sepanjang Dago terlihat begitu banyak penjual bunga. Bunga-bunga tersebut diikat dalam bungkusan plastik bening nan bersih, berhiaskan warna dan aroma yang menarik.

Sebagai pribadi yang romatis, dirikupun menghadiahkan seikat bunga untuk istri tercinta :) ..

Kawasan Dago terkenal sebagai surga belanja untuk produk fasion. Kalo dibilang harganya bersaing juga tidak. Namun, yang membuat orang-orang sering berbelanja di sini mungkin karena variasi produknya yang banyak dan selalu up-to-date.

Bahkan turis asing pun menggemarinya. Terbukti kami mendapati beberapa turis dari Malaysia, Singapura dan Barat terlihat lalu lalang di sana. Merekapun tak segan menaiki angkot daripada taksi. Tarifnya yang murah dan rutenya yang luas menjadi alasannya.

Sebagaimana para pengunjung lainnya, kamipun memasuki beberapa FO yang ada. Jaket, celana panjang, celana pendek dan kaos menjadi buruan kami.

Secara umum suasana di setiap FO cukup ramai. Para pramuniaganya terlihat sangat sibuk melayani para pengunjung. Para pengunjungpun terlihat sibuk memilih-milih produk yang ada. Dan di luar, petugas parkir sibuk mengatur kendaraan yang datang dan pergi. Maklum hampir semua tempat parkir telah penuh terisi.

Cukup lama kami berada di sana untuk ke luar masuk dari satu FO ke FO yang lain. Setelah apa yang kami cari kami dapatkan, segera saja kami beranjak meninggalkan kawasan tersebut.

Waktu sudah mendekati jam delapan malam. Saatnya makan malam tiba. Sebuah tempat makan masih di kawasan Dago menjadi incaran kami.

Dengan menaiki angkot rute Dago – Kalapa kami menuju lokasi tersebut. Angkot melaju dengan sedikit tersendat karena padatnya kendaraan. Setelah melewati Jembatan Layang Pasopati, perjalanan mulai lancar. Sesuai permintaan kami ke pak Sopir, di seberang Dago Plaza angkotpun berhenti dan turunlah kami.

Sebenarnya lokasinya tak begitu jauh dari tempat kami naik sebelumnya. Namun karena tarif untuk jarak terpendek Rp. 2000 per orang, maka sesuai tarif itulah yang kami bayarkan.

The Kiosk, di sanalah kami hendak menikmati makan malam berdua. Terletak di Jl. Dago, The Kiosk bertempat di lantai Dua dari Gedung Pizza Hut.

The Kiosk adalah sebuah foodcourt atau pujasera yang terkenal di Bandung. Yang membuatnya spesial adalah banyaknya gerai terkenal yang menyajikan kuliner khas Bandung ada di dalamnya. Jadi pengunjung diberikan pilihan yang bervariasi untuk menentukan menu apa yang hendak dicicipinya.

Beberapa varian yang ada diantaranya untuk yang berat-berat ada bubur ayam, lontong kari, nasi kuning, nasi uduk, nasi goreng, sate kambing hingga iga bakar. Untuk yang sedang ada pempek, batagor, mie ayam, mie kocok, baso, baso tahu dan lotek. Atau yang ringan-ringan sebagai camilan ada tahu gejrot, pisang goreng, ketan bakar dan aneka jajanan pasar. Untuk minumannya silahkan dipilih mau es campur yang dingin atau ronde yang panas.

Selain menunya yang asyik, tempat makannyapun asyik pula. Pengunjug bisa memilih mau menempati meja panjang yang berderet-deret, atau meja yang lebih atau juga meja kecil berkeliling sofa yang nyaman.

Karena tempat dan menunya asyik, maka tak heran jika malam itu begitu banyak pengunjung yang mendatanginya baik dari dalam maupun luar Bandung.

Setelah berkeliling ke gerai-gerai yang ada, beberapa menu akhirnya menjadi pilihan kami untuk dipesan. Sekitar 10 menit menunggu, datanglah sajian makan malam kami.

Yaitu seporsi Mie Kocok Kebon Jukut …

seporsi Iga Bakar si Jangkung …

dan seporsi Cireng Cipaganti ..

Hmmmm … :)

Alhamdulillah, kami dapat menikmati makan malam berdua dengan nikmat hingga hilang lapar kami. Segelas Ronde Jahe Al Kateri menjadi begitu pas untuk menutup malam minggu kami di Dago.

====================================================
photo by : deddy
====================================================

bersambung …

About these ads

Responses

  1. ada recommended food di daerah dago?

  2. jaman muda dulu sering ke bandung karena tempat kerja cukup dekat tapi paling-paling kemall jadi tidak tahu tempat-tempat menarik yang mesti dikunjungi

  3. Udah pernah ke CiWalk tapi baru tau kalo disana ada Young Street dan Broadway. Weekend besok mau kesana… pengen kuliner ke Warung Talaga sepertinya menarik. Makasih ya infonya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: