Posted by: deddyek | May 9, 2008

Umrah 2008 : (2) Madinatul Munawwarah

Setelah sempat tertidur di bus, tak terasa gelap mulai menyapa. Akupun melihat dari jendela bus, begitu benderang lampu menyala di kiri dan kanan jalan. Pertokoan-pertokoan yang besar dan penataan kota yang rapi dan dengan jalan-jalan yang besar. Sudah sampai mana ini, pikirku ?

Tiba-tiba seorang rekan berkata, “Kita udah masuk Madinah mas”..

Hmmm.. Alhamdulillah ya Alloh… akhirnya aku bisa menginjakkan kaki di kota suci ini. Gak terasa ada perasaan yang aneh muncul, badanku terasa hangat dan seakan merinding. Aku seperti terpaku melihat jalan-jalanan sambil menanti di mana masjid agung itu berada dan terasa tidak sabar aku untuk melihatnya.

Dari jauh terlihat menara yang tinggi dengan lampu-lampu yang menyala indah, hati ku semakin berdebar. Dari jauh aku lihat ribuan orang keluar dari masjid. Rupanya mereka baru selesai menunaikan ibadah sholat isya.

Bus kami berjalan pelan berbelok jalanan depan masjid menuju hotel tempat kami menginap selama 3 hari.

Waktu sudah menunjukkan pukul 21:00. Sambil menunggu pengurusan kamar, kamipun berkumpul di ruang makan untuk makan malam. Selepas itu, pembimbing kembali memberikan arahannya.

Penuhnya hotel tersebut membuat kami menunggu hampir dua jam untuk pengaturan kamar dan bagasi bawaan. Jam 23:00 barulah kami masuk kamar untuk membersihkan badan. Berempat kami satu kamar. Kamar yang cukup bagus menurut aku. Selepas itu aku dan ketiga teman sekamar, pergi menuju Masjid Nabawi untuk sholat maghrib yang dijama’ takhir dan sholat isya. Sayang, sampai di sana, masjid sudah tutup. Kami baru tahu kalau Masjid Nabawi dibuka mulai jam 03:00 s/d 24:00.

Setelah jalan-jalan sebentar di area masjid, kami berempatpun segera balik ke hotel untuk sholat di sana dan beristirahat.

…………………………………………………….

Satu jam sebelum waktu subuh itu, kami keluar dari Hotel. Begitu banyak orang yang mengantri di lift hingga kami memutuskan untuk menuruninya melalui tangga biasa. Sesampai di lantai dasar dan membuka pintu, subhanallah.., kami menyaksikan ribuan orang sedang berjalan menuju masjid.

Orang tua, muda, pria, wanita, anak-anak, semuanya berjalan dengan tenang menuju masjid. Mereka hendak sholat tahajud dan sholat subuh berjamaah di jum’at dini hari itu.

Pagi itu semua ruang masjid nabawi dipenuhi oleh jamaah. Mereka pun larut dalam sholat tahajud, berdzikir dan tilawah al-quran. Begitupun kami. Sungguh perasaan yang terkira ada di hati kami. Suatu kebahagian, pengharapan dan penghambaan kepada Sang Khaliq, Alloh SWT, menyatu dalam setiap gerakan ibadah. Wajarlah demikian, hingga air mata tak terasa mengalir mengiringi nikmatnya beribadah.

Begitulah mungkin yang dirasakan jamaah umrah lainnya. Benarlah sabda Rasulullah : Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Shalat di masjidku ini lebih utama seribu kali daripada shalat di masjid lain, kecuali shalat di Masjidil Haram“. [HR. Muslim].

Waktu subuh pun tiba. Azanpun berkumandang. Suara muadzin dan nada yang dilantunkan seakan tak asing lagi. Iya, selama itu aku hanya mendengarnya lewat komputer atau televisi. Sekarang, secara langsung aku mendengarkannya.

Selepas sholat qobliyah, sholat subuhpun berjamaahpun dimulai. Hari itu Syaikh Hudaify memimpin sholat sebagai imam. Suara yang sudah tidak asing bagiku, karena mutoral beliau sering aku dengarkan. Menikmati lantunan tilawah al-quran surat as-sajdah dan al-insan. Surat yang sebenarnya cukup panjang sungguh tidak terasa panjangnya. Apalagi waktu membaca surat as-sajdah, terdapat sujud tilawah, hal itu menambah khusyuknya para jamaah dalam menunaikan sholat subuh pagi itu.

Selepas sholat subuh, kegiatan rutin para jamaah adalah berdzikir dan membaca al-quran. Setelah itu berebahan sambil menunggu waktu syuruq (terbit matahari). Setelah waktu syuruq berlalu, para jamaah melakukan sholat isyraq (sholat dhuha di awal waktu). Selanjutnya jalan-jalan keliling masjid, melihat keindahan masjid Nabawi dan pulang kembali hotel untuk mandi dan sarapan pagi.

Memaksimalkan waktu ibadah, mungkin itu kuncinya. Seperti nasihat pembimbing umrah, agar jamaah umrah mengisi hari-harinya di Madinah dengan sebanyak mungkin beribadah kepada Alloh SWT dan agar jamaah menyadari bahwa keberadaanya di haramain adalah untuk beribadah bukan sekedar wisata dan belanja.

Madinatul Munawwaroh, sungguh kota yang rapi dan bersih. Kota yang selalu dipenuhi oleh jamaah haji di musim haji dan umrah di hari-hari biasa. Jarak hotel yang cukup dekat dengan masjid, memudahkan kami untuk bolak-balik ke masjid Nabawi dengan jalan kaki.

Selama tiga hari di Madinah, selain beribadah, kami semua rombongan umrah Sanabil, dipandu untuk mengikuti acara ziarah ke makam Rasululloh SAW, makam Abu Bakar dan Umar serta Utsman r.a.

Raudhatul Jannah

Raudhatul Jannah merupakan bentangan antara rumah dan mimbar Rasululloh SAW, taman syurga, yang saat ini disekat dan dihiasi dengan ornamen khusus berlatar belakang dan berkarpet hijau.

Sebagaimana sabda Beliau SAW : “Diantara rumahku dan mimbarku adalah taman-taman sorga, dan mimbarku diatas telaga Haudh” (Shahih Bukhari)

Selama di Madinah diriku baru sekali saja dapat menikmati ibadah di tempat ini. Banyak jamaah yang berebut dan berdesak-desakan untuk bisa selalu beribadah di raudhah. Sungguh antusiasme akan beribadah di tempat tersebut yang begitu tinggi dari jamaah, terkadang membuat egoisme jamaah melebihi nilai ukhwah. Tidak jarang, ashkar yang ada menegur para jamaah agar tidak memaksakan diri untuk masuk ke raudhah karena sudah penuh.

Aku sendiri berusaha untuk menahan diri untuk tidak masuk ke sana jika tidak memungkinkan. Menikmati ibadah dengan tenang tanpa mengganggu orang lain adalah yang bisa aku lakukan.

Ziarah kebeberapa tempat.

Selain beribadah di masjid Nabawi, para jamaah juga diajak untuk berkunjung ke beberapa lokasi, al:

Masjid Quba, merupakan masjid yang pertama kali dibangun oleh Rasululloh SAW setelah hijrah dari Makkah ke Madinah. Masjid yang lokasinya disekitaran Madinah ini memang menjadi agenda rutin yang ada di itenerary setiap travel umrah. Selain keutamaan beribadah di masjid ini, jamaah juga mendapatkan pengetahuan tentang sejarah berdirinya masjid ini dan peran pentingnya pada zaman itu.

Jabal Uhud. Kami mendapatkan kesempatan untuk ziarah ke Jabal Uhud. Suatu gunung di mana pada zaman Rasululloh terjadi perang Uhud antara kaum Muslim di Madinah dengan kaum musyrikin quraisy. Dalam perang tersebut,kaum muslimin hampir saja mendapatkan kekalahan karena melanggar petunjuk Rasululloh SAW. Pada perang itu, sahabat Rasululloh yang juga paman beliau, Hamzah bin Abdul Mutholib gugur di sana.

Gunung Magnet. Suatu pegunungan di luar Madinah yang memiliki daya magnet yang besar. Kendaraan yang menuju ke arahnya, terasa berat karena seperti ada energi yang menolaknya, sementara yang arah sebaliknya, malah seperti didorong. Bahkan tanpa digaspun, kendaraan dapat melaju dengan kencang.

Kebun Kurma.Selain itu, di sela-sela kegiatan ibadah, kami juga mendapatkan kesempatan untuk wisata ke kebun kurma, untuk sekedar membeli oleh-oleh.

(bersambung)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: