Posted by: deddyek | May 9, 2008

Umrah 2008 : (3) Makkatul Mukarromah

“Labbaik Allâhumma labbaik – Labbaik lâ syarîka laka labbaik – Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk – Lâ syarîka laka..”
(Aku penuhi panggilanMu ya Allah aku penuhi panggilanMu, aku penuhi panggilanMu tiada sekutu bagiMu aku penuhi panggilanMu, sungguh pujian dan nikmat itu milikMu begitu juga kerajaan, tiada sekutu bagiMu)

Dada ini bergetar bersamaan dilantunkannya bacaan talbiyyah yang berulang-ulang oleh seluruh jamaan umrah di dalam bus yang membawa para jamaah dari Madinah menuju Makkah. Suara menggema para jamaah dipandu oleh para pembimbing membahana seisi bus.

Hari itu kami baru saja mangambil miqot dari masjid Miqat Zulhulaifah di Bir Ali.

Setelah selama 3 hari kami berada di Madinah, sekarang kami berangkat menuju Makkah Al Mukarramah untuk menunaikan ibadah umrah. Sungguh berat meninggalkan kota Madinah, kota Nabi, yang tidak terasa kami berada di sana dan harus segera meninggalkannya.

Selepas mengenakan baju ihram dan menunaikan sholat dua raka’at di masjid Miqat Zulhulaifah di Bir Ali, kami segera mengambil niat untuk melaksanakan umrah. Mulai saat itu semua larangan yang ditetapkan di selama mengenakan baju ihram harus kami hindari. Kami harus lebih banyak mengumandangkan talbiyyah, berdzikir atau membaca al-quran selama perjalanan menuju Makkah.

Suara talbiyyah jamaah umrah masih terus menggema meski perlahan-lahan mulai pelan dan berkurang. Para jamaah banyak yang memanfaatkan waktu tersebut untuk beristirahat. Jam 21:00 malam, menurut jadwal kami akan memasuki kota Makkah.

Melalui jalan raya yang besar yang menghubungkan Madinah dan Makkah, kami hanya menyaksikan pemandangan gurun pasir dan gunung-gunung batu di kiri kanan jalan. Sementara bus-bus yang lain berpacu dengan cepat menuju ke arah Makkah.

Sambil bertalbiyyah perlahan-lahan kadang diselingi membaca al-quran, aku mencoba menikmati perjalanan itu. Hingga matahari mulai tenggelam dan gelappun mulai datang, buspun masih melaju kencang di jalan raya tersebut.

Hingga tiba-tiba suatu cobaan datang kepada rombongan kami. Roda bus yang kami naiki meletus dan itu memaksa bus berhenti dipinggir jalan. Perlu waktu yang cukup lama untuk mengganti ban bus tersebut. Para jamaah priapun segera turun membantu sopir bus untuk mengganti ban. Ketika ban serep akan dipasang, ternyata ban serep tersebut kondisinya kurang baik.

Tapi tetap saja dipasang dengan harapan bus bisa melaju menuju tempat pemberhentian terdekat.

Selesai itu, bus pun melaju meski tidak sekencang biasanya dan berhenti di tempat pemberhentian terdekat untuk mengecek angin dan mengisi bahan bakar. Pada saat itu, ban penggantipun meledak. Dan itu membuat semua jamaah menjadi gelisah, karena bus yang kami naiki sudah tidak memiliki ban cadangan. Para pembimbing dan muthawwifpun dengan bijak memberikan informasi dan mencoba untuk menghilangkan kegelisahan para jamaah. Pada saat itulah kami yakin bahwa kunci untuk menyelesaikan semuanya adalah kesabaran.

Entah berapa lama kami menunggu untuk mendapatkan ban yang baru dari Madinah. Ban pun datang dan dipasang. Buspun kembali meneruskan perjalanan. Para pembimbing menginformasikan bahwa insya Alloh sebelum pukul 03:00 kami sudah sampai di Makkah.

Benar juga, sekitar pukul 03:00 kami sampailah di Makkah. Setelah check-in dan membersihkan badan, kami segera menuju masjid Al Haram untuk sholat maghrib yang dijama’ takhir dan sholat isya.

Sungguh perasaan yang sama waktu memasuki Masjid Nabawi muncul kembali bahkan lebih dalam. Setiap langkah kaki memasuki masjid dan semakin dekatnya ka’bah, sungguh perasaaan itu semakin dalam dan mengalirkan air mata bagi jamaah umrah. Suatu perasaan yang sulit untuk digambarkan. Hanya keharuan, kebahagiaan dan rasa syukur yang mendalam yang dirasakan hampir semua jamaah umrah. Tak terkecuali diriku.

Semua rangkaian tata cara ibadah umrah kami laksanakan dengan dibimbing oleh para ustadz pembimbing. Mulai dari thawwaf, sholat dua rakaat di belakang maqom ibrahim, minum air zam-zam, kemudian sa’i dan diakhiri dengan tahalul.

Hari itu ibadah umrah kami, terpotong oleh waktu sholat shubuh sehingga waktu menunaikan rukun sa’i, kami menghentikannya untuk melaksanakan sholat shubuh. Kemudian kami melanjutkan sa’i yang belum lengkap hingga mencapai tujuh kali. Selepas itu kami melaksanakan tahalul dengan memotong rambut.

Tidak ada kebahagiaan yang melebihi saat itu. Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Alloh atas segala nikmat yang dikaruniakan.

Selepas tahalul, kami tidak langsung pulang ke hotel. Kami masih di dalam masjid sambil menunggu waktu dhuha. Setelah melaksanakan sholat dhuha, kamipun balik ke hotel untuk membersihkan diri dan makan pagi.

Hari-hari kami di Makkah, sama dengan apa yang kami lakukan di Madinah. Memaksimalkan waktu yang ada untuk ibadah adalah yang utama.

Dari Jabir radhiallahu’anhu sesunggunya Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Shalat di masjidku, lebih utama seribu kali (dibandingkan) shalat di selainnya kecuali Masjidil haram. Dan shalat di Masjidil haram lebih utama seratus ribu (dibandingkan) shalat di selainnya.“ (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Selama di Makkah para jamaah umrah lebih banyak menghabiskan waktu di Masjidil Haram. Mereka termasuk diriku, mengisinya dengan sholat, membaca al-quran, berdzikir dan tentu saja thawwaf.

Kami juga mencoba untuk berdoa di multazam, sholat di hijr ismail dan juga mencium hajjar aswad. Mencium hajjar aswad ternyata cukup berat. Selain harus berdesak-desakan tetapi juga perlu kesabaran. Tapi alhamdulillah, hampir semua dari kami dapat melaksanakannya.

Berdoa di multazam adalah kegiatan yang selalu aku lakukan selepas sholat tahajud. Banyak doa dan permohonan yang hendak aku sampaikan kepada Ar Rahman Ar Rahiim. Untuk diriku sendiri, kedua orangtuaku dan semua yang selalu mendukungku. Di sini, menangis adalah hal yang lumrah. Mungkin semua orang yang berada di sini, yang sholat dan berdoa, tak peduli darimanapun ia berada, siapapun dia, hanya kepada Alloh-lah semuanya memohon dengan segenap kekhusyukan dan pengharapan untuk dikabulkannya semua doa.

Meski begitu, rombongan kami masih sempat untuk ziarah ke beberapa tempat di Makkah dan sekitarnya, antara lain :

Mina & Arafah, tempat di mana rukun haji yaitu wukuf di laksanakan. Karena padatnya jadwal, kami hanya menyaksikannya dari dalam bus yang berjalan perlahan.

Jabal Rahmah, di tempat ini kami sempat singgah. Bukit ini konon adalah tempat di mana Nabi Adam a.s dan Siti Hawa bertemu setelah berpisah sekian lama. Di puncak Jabal Rahmah, ada sebuah tugu sebagai penanda pertemuan tersebut. Banyak jamaah yang menaiki bukit tersebut.

Jabal Tsur, merupakan tempat dimana Rasululloh dan Abu Bakar bersembunyi dari kejaran kaum Quraiys. Alloh kemudian menurunkan mu’jizatnya berupa sarang laba-laba dan burung yang menutupi gua.

Jabal Nur, merupakan tempat di mana Gua Hira berada. Gua Hira adalah tempat di mana Rasululloh SAW menerima wahyu pertama kali. Lokasi gua tersebut cukup jauh di atas gunung sehingga jarang sekali jamaah yang berziarah naik ke sana.

Selama di Makkah, aku mendapat kesempatan untuk dua kali melaksanakan umrah. Yang kedua ini juga bareng-bareng rombongan umrah. Kali ini kami semua mengambil miqat di Ji’rona.

Hari terakhir di Makkah, perasaan terasa berat untuk meninggalkannya. Barang-barang sudah dipackaged dan diletakkan di bus. Kamipun bersama-sama pembimbing menuju Masjid Al Haram untuk sholat dzuhur dan thawwaf wada (perpisahan).

Selepas itu kamipun kembali ke hotel untuk check-out hotel. Selepas koordinasi oleh pembimbing dan muthawwif, kamipun memasuki bus yang akan membawa kami meninggalkan Makkah menuju Jeddah.

Bus perlahan meninggalkan hotel dan menyusuri jalanan kota Makkah. Banyak kenanganan dan kesan luar biasa yang kami rasakan di antaranya: atmosfir ibadah yang cukup tinggi, shaf-shaf yang selalu penuh bahkan sampai di luar masjid di setiap waktu sholat fardlu, sholat jenazah yang selalu dilaksanakan setiap selesai sholat fardlu, bacaan tartil para imam yang begitu menyentuh seperti Syaikh Suraim, Syaikh Rifai, dll.

Dalam perjalanan aku hanya bisa berdoa “Ya. Alloh, berikanlah kesempatan kepada diriku untuk kemari lagi, berilah kelapangan, berilah keluasan rizqi, berilah kesehatan kepadaku untuk bisa memenuhi panggilanmu berhaji nanti… amin…

(bersambung)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: