Posted by: deddyek | May 3, 2010

Museum Sejarah Jakarta di Jakarta

Begitu ke luar dari Museum Wayang, pemandang riuh ramai di Stadhuis Plain langsung terasa. Diriku terus berjalan menyibak kerumunan warga yang sedang antusias menikmati sajian reog siang itu. Tujuan berikut yang kutuju adalah Museum Sejarah Jakarta atau orang biasa sebut Museum Fatahillah.

Tampilan bangunan museum yang putih megah bercorak kolonial tersebut merupakan daya tarik bagi para pengunjung. Begitu banyak pengunjung yang berphoto-ria di halamannya baik sendiri atau berkelompok adalah salah satu buktinya.

Dirikupun tak luput dari itu. Beberapa saat diriku berjalan-jalan di halaman museum tersebut sambil mengambil beberapa photo. Nampak pula beberapa turis asing tengah asyik mengarahkan kameranya dari beberapa sudut halaman.

Dari luar terlihat bangunan museum tersebut memiliki dua lantai dengan jendela-jendela besar di masing-masing lantai. Saat ini jendela-jendela tersebut menjadi tempat favorit pengunjung untuk melihat-lihat halaman sekitar museum (Stadhuis Plain).

Adanya penunjuk arah mata angin dibagian atas bangunan, juga merupakan ciri khas dari bangunan model Belanda.

Puas jeprat-jepret, beranjak diriku menuju ke dalam museum melalui pintu masuk yang besar yang di depannya terdapat pilar-pilar besar dan tinggi laksana bangunan di film-film kisah Romawi.

Aku sungguh ingin tahu apa yang dipajang di dalamnya. Untuk masuk ke dalam, pengunjung harus mengantri sejenak. Antrian akan membawa menuju meja petugas tiket.

Cukup dengan membayar Rp. 2000 per orang, pengunjung bisa meng-explore seluruh isi museum. Di situ, juga disediakan booklet berjudul “Wisata Kota Tua, Peket Terusan Kunjungan Museum Sejarah Jakarta”. Untuk mendapatkannya, pengunjung cukup membelinya seharga Rp. 5000 per booklet.

Di dalam booklet itu berisikan semua informasi secara ringkas tentang apa saja yang bisa kita kunjungi di kawasan kota tua. Di dalamnya terdapat peta yang menggambarkan lokasi-lokasi spot yang dapat dikunjungi.

Kembali ke masalah pembayaran tiket, meskipun cukup murah Rp. 2000, sayangnya masih banyak pengunjung yang masuk tanpa membayar. Karena untuk membeli tiket tidak melalui loket khusus, tapi hanya melalui petugas yang duduk di meja samping kiri pintu masuk dan tidak ada penjaga lagi, maka mudah saja bagi pengunjung untuk masuk via pintu samping kanan.

Hmm.. sayang banget ya .. padahal meskipun cuma Rp. 2000, itu sebenarnya cukup berarti bagi pemeliharaan museum. So… untuk para pengunjung, meskipun ada kesempatan untuk masuk museum tanpa bayar, lebih baik jangan lakukan. Dengan membayar tiket masuk, setidaknya itu peran serta kita untuk ikut melestarikan museum tersebut. .. okay ??? ..🙂

Sambil berjalan pelan di bagian lantai dasar museum, diriku sempatkan membaca sejenak booklet tersebut. Hmmm.. ternyata di booklet tersebut diceritakan bahwa museum yang terletak di Jl. Taman Fatahillah No. 1 Jakarta Barat ini, menempati gedung yang dibangun dua lantai dengan tinggi 18-meter oleh orang-orang Belanda pada 25 Januari 1707.

Pembangunan itu atas perintah Gubernur Jenderal Joan Van Hoorn. Pembangunan dilakukan seleama tiga tahun dan dinyatakan siap pakai pada 10 Juli 1710 oleh Gubernur Jenderal Abraham Van Riebeeck.

Dulunya lantai dasar gedung ini digunakan sebagai Stadhuis atau Balai Kota Pemerintahan Hindia Belanda sedangkan lantai atas sebagai kantor Dewan Pengadilan Hindia Belanda.

Sejak tahun 1942 – 1945, gedung ini pertama dipakai oleh orang-orang Jepang sebagai markas pengendalian peralatan logistik. Lalu tahun 1952-1972 digunakan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari mulai KMK (Keamanan Militer Kota) sampai Kodim 0503 – Jakbar. Pada 30 Maret 1974, gedung ini diresmikan menjadi Museum Sejarah Jakarta oleh Gubernur DKI waktu Ali Sadikin.

Lets start the tour …

Begitu masuk ke ruang museum, hmmm… keramaian langsung terasa. Pengunjung yang begitu banyak, malah terkadang membuat suasana menjadi sedikit kurang nyaman. Suara teriakan dan tertawa yang keras terdengar di mana-mana. Meski begitu, antusiasme yang tinggi tersebut tetap pacut diacungi dua jempol …

Di lantai dasar ini pengunjung langsung bisa mendapati suatu papan informasi dalam bentuk semacam brosur besar yang terpampang di dinding yang menggambarkan kondisi masyarakat di Batavia pada jaman VOC.

Di ruang-ruang yang berupa kamar-kamar di lantai dasar museum ini, pengunjung bisa menikmati berbagai koleksi peninggalan jaman kolonial seperti koleksi piring, piala dan golok/pedang.

Di sana beberapa furniture yang bisa dipakai oleh Belanda juga ditampilkan.

Masih di lantai dasar, terdapat pula di sana lukisan-lukisan jaman dulu yang menggambarkan sejarah masa VOC. Termasuk juga sebuah lukisan Jan Pieterszoon Coen.

Pindah ke sisi kanan dari museum di lantai dasar, pengunjung dapat menjumpati informasi tentang sejarah transportasi di Jakarta.

Lantai atas juga merupakan favorit pengunjung. Untuk menuju ke sana terdapat tangga yang harus dilalui.

Aneka furniture peninggalan Belanda juga masih menghiasi beberapa ruangan terutama yang menghadap ke jendela luar.

Dari sini pengunjung juga bisa menikmati suasana luar museum. Jendela-jendela yang terbuka mengarahkan mata kepada beberapa bangunan yang berada di sekeliling museum dan juga keriuhan di halaman museum.

Beragam peninggalan sejarah dari berbagai jaman juga ditampilkan di lantai atas ini. Mulai dari jaman pra sejarah, jaman kerajaan, jaman hingga jaman perjuangan.

Pengunjung bisa mendapati beberapa peninggalan jaman perundagian, seperti alat-alat untuk memotong yang terbuat dari batu, dll.

Berbagai prasasti juga disimpan di sini. Prasasti yang ditulis di atas batu-batu besar menjadi daya pikat bagi para pengunjung.

Selain itu, beragam diorama perjuangan mulai jaman perlawanan terhadap bangsa Portugis, Inggris dan Belanda, juga tersimpan di dalam ruang-ruang tersendiri.

Wah.. ternyata muter-muter selama hampir satu jam itu membuat kaki terasa mulai pegel. Maklum sudah tiga museum dikunjungi hari itu.

Akhirnya aku putuskan untuk turun beristirahat sejenak di halaman belakang museum.

Setelah turun ke lantai dasar diriku langsung menuju ke halaman belakang melalui koridor yang telah disediakan. Di tengah-tengah koridor terdapat suatu tulisan berbahasa Belanda yang menurut orang-orang, tulisan tersebut merupakan prasasti peresmian gedung yang sekarang menjadi museum ini.

Halaman belakang museum ternyata cukup asri dan nyaman untuk istirahat sejenak. Dengan pepohonan yang tubuh rindang, menjadikan halaman itu terasa teduh.

Sambil minum sebotol teh dingin ditemani angin yang sepoi-sepoi, hmmm… segar terasa.

Begitu turun dari tangga, sebuah patung hermes nampak berdiri. Banyak pengunjung yang asyik berphoto di samping patung tersebut.

Patung ini semula berada di Jembatan Harmoni tetapi demi alasan keamanan sejak tahun 1999 patung ini dipindah ke museum ini.

Di seberang dari patung ini terdapat Meriam Si Jagur. Meriam seberat 3,5 ton dengan panjang 3,85 meter dan diameter laras 25 sentimeter itu, konon milik Portugis yang dibuat di Macao. Lalu dibawa dari Malaka ke Batavia pada tahun 1641. Sewaktu Belanda menyerang Portugis di Malaka, Portugis kalah dan Si Jagur dirampas kemudian dibawa ke Batavia.

Meriam ini juga menjadikan daya pikat sendiri bagi pengunjung. Mereka tidak menyia-nyiakan untuk berphoto dengannya.

Di halam belakang, pengunjung dapat melihat-lihat kondisi penjara bawah tanah. Penjara ini di jaman Belanda digunakan untuk menahan para pejuang bangsa. Tercatat Cut Nyak Dien pernah diasingkan di penjara ini sebelum diasingkan ke Sumedang.

Bagi pengunjung yang mau melihat penjara ini, lebih baik siapkan dulu masker. Mengapa? Ternyata selain pengap dan gelap, hampir semua bau tidak sedap berkumpul di ruang penjara tersebut.

Namun begitu, banyak anak-anak sekolah yang antusias untuk melihat-lihat dan bahkan berphoto-ria di dalamnya. Tetapi sayangnya, aksi vandalisme lagi-lagi terlihat di sini. Corat-coretan di dinding penjara bawah tanah itu sudah laksana batik bercorak nama dan tanda tangan.

Tak lama diriku di area penjara bawah tanah itu. Baunya yang tidak sedap bener-bener tak membuatku bertahan lama di area itu.

Sore sudah mulai menghampiri. Hampir semua lokasi di museum ini sudah kukunjungi. Saatnya untuk menyelesaikan jalan-jalan ke beberapa museum hari itu.

Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah, ternyata begitu banyak informasi sejarah bangsa ini yang tersimpan di sana. Walaupun sebagian besar pengunjungnya lebih asyik dengan perhoto-ria, begitu pula diriku, hehehe… namun wisata ke museum seperti ini terasa menampilkan satu sisi yang berbeda akan arti berwisata. Selain untuk menghabiskan waktu liburan, tapi juga mendapatkan tambahan wawasan.

Museum yang menarik.. dan semoga tetep terjaga kelestariannya.

============================================
photo by : deddy
============================================


Responses

  1. aku pinjam satu gambarnya yah,🙂

  2. silahkan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: