Posted by: deddyek | June 13, 2010

Kebun Raya Bogor (Part-1)

Udara pagi yang begitu segar hari itu, membuatku semangat untuk menyusuri tepian jalan. Rindanganya dedaunan pohon-pohon besar berusia ratusan tahun yang memayungi kedua sisi jalan, sungguh membuat sinar matahari yang menerobos masuk memancarkan sinaran yang indah. Tetes-tetes embun berpadu dengan tetesan air sisa hujan semalam, menambah kesejukkan pagi itu semakin meraja.

Angkutan kota yang berseliweran menurunkan penumpangnya di bahu-bahu jalan. Begitu banyak orang menyeberang jalan dan sebagiannya menuju satu titik di Jl. Pajajaran pagi itu. Pun demikian pula denganku.

Hari itu diriku ingin meng-explore keindahan Kebun Raya Bogor. Salah satu Kebun Raya tertua di Asia.

Masuk melalui pintu IV di Jl. Pajajaran, diriku langsung menjumpai beberapa pedagang yang menjual aneka makanan dan minuman. Diriku sempatkan membeli sebotol teh hijau dan air mineral untuk bekal jika kehausan di dalam.

Sebuah bangunan sebagai loket penjualan tiket masuk berada di sana. Cukup dengan membayar Rp. 9500 per orang, pengunjung dapat masuk ke dalamnya. Hari itu nampak beberapa orang termasuk turis asing yang membeli tiket masuk ke Kebun Raya Bogor ini.

Selepas mendapatkan tiket dan melewati pemeriksaan tiket oleh petugas, melalui pintu masuk yang tersedia, mulailah jalan-jalan pagi itu di Kebun Raya Bogor diriku mulai.

Deretan pepohonan laur yang berada di sepanjang sisi jalan langsung menyambut. Beraneka jenis pohon laur ada di sana seperti Actinodaphne, Cryptocarya, dll.

Menyusuri jalan tersebut, membawaku sampai ke perempatan yang membagi jalan menuju ke Lapangan Astrid, ke Cafe De’daunan dan sebuah jalan ke suatu tempat. Lapangan Astrid pagi itu terlihat hijau dan indah. Pemandangan dari lokasi ini yang lebih tinggi dari Lapangan Astrid itu, semakin mempertegas keindahannya. Rumput-rumput yang rapi menyelimuti hampir di seluruh lapangan tersebut.

Sebenarnya aku ingin langsung turun ke lapangan tersebut. Namun aku pikir karena tenagaku masih penuh dan udara masih segar sekali, lebih baik aku mengambil jalan ke kiri untuk melihat-lihat aneka tanaman dan pepohonan yang ada di sana.

Langkah kakipun bergegas mengayun ringan. Nuansa rindang terlihat jelas. Di sekitar jalan tersebut, banyak pepohonan tinggi menjulang. Entah apa nama atau jenis dari pohon tersebut. Kucoba untuk mendekat dan mengamati sejenak. Hmm.. kayaknya usia pohon-pohon tersebut sudah tua banget ya.. setua sejarah dari Kebun Raya ini.

Konon sebelum Casper Goerge Carl Reindwardt mencetuskan ide untuk membangun Kebun Botani hingga didirikan pada 18 Mei 1817, Kebun Raya ini sudah ada. Namun bentuknya lebih sebagai hutan buatan yang dinamakan Samida. Samida merupakan bagian dari Monumen Batu Tulis yang didirikan oleh Raja Pajajaran kala itu, Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi.

Pada awal pendiriannya di jaman penjajahan Belanda, Kebun Raya ini dinamai Slands Plantentiun te Buitenzorg.

Kembali kulanjutkan langkah menikmati setiap sisi jalan tersebut. Aspal yang melapisinya menjadikan jalan tersebut aman untuk dilalui meski semalam hujan deras mengguyur. Jalanan yang turun dan berkelok tersebut semakin jauh semakin rimbun. Jalan tersebut membawaku sampai ke pagar pembatas Kebun Raya Bogor ini pada sisi Jl. Otista.

Di lokasi tersebut terdapat berbagai jenis pepohonan seperti morac, caes, salic, dll yang tumbuh di sisi-sisinya. Sebuah danau kecil juga terdapat di sana. Sayang, airnya keruh dan beberapa sampai dedauanan ada di sana.

Uhh.. keringat dah mulai mengucur. Haus mulai terasa. Kubuka botol air mineral yang aku beli sebelumnya dan meminumnya. Segar terasa ketika air tersebut menyentuh tenggorokanku.

Lanjut… Perjalanan dilanjutkan menyusuri Jl. Kenari 2. Suatu jalan yang cukup lebar dengan pepohonan besar dan tinggi yang menghiasi di kedua sisinya. Hari itu banyak orang-orang yang berlari-lari atau sekedar jalan kaki di jalan tersebut. Beberapa bangku kayu tersedia di sisi-sisi jalan.

Untuk yang ingin melepas lelah sejenak, mereka dapat duduk istirahat di bangku tersebut sambil menikmati segarnya air minum dan teduhnya pepohonan arac yang mendominasi di tempat tersebut.

Diriku terus berjalan di sepanjang Jl. Kenari 2 hingga sampai di perempatan. Dari perempatan itu terlihatlah di sebelah kanan Lapangan Astrid. Sebuah jembatan tersedia untuk menuju ke sana.

Matahari sudah mulai terasa hangatnya. Para pengunjung Kebun Raya ini sudah mulai banyak berdatangan.

… bersambung ….

========================================================
photo : deddy
========================================================


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: