Posted by: deddyek | July 29, 2010

Museum Seni Rupa dan Keramik

Untuk kesekian kalinya jalan-jalan di kota tua, di tengah terik matahari yang menyengat, beberapa bangunan tua berarsitektur Eropa masih saja menyapa. Seakan menawarkan diri kepada para pengunjungnya untuk datang dan meng-explore apa yang ada di dalamnya.

Lembaran sejarah yang bercerita akan peradaban masa lalu, tersaji melalui aneka koleksi dari museum-museum yang ada. Museum Bank Mandiri, Museum Sejarah Jakarta (Fatahillah), Museum Wayang dan Museum Seni Rupa dan Keramik berdiri tak jauh dari masing-masing lokasi.

Sedikit lelahnya kaki yang melangkah menyusuri jalanan dan ruang-ruang di dalam beberapa museum, mengantarkan diriku dan seorang teman istirahat sejenak di sebuah bangunan besar yang bergaya Eropa. Dengan pilar-pilar yang tinggi dan kokoh, telah lama membuat ku penasaran untuk berkunjung dan melihat-lihat apa yang ada di dalamnya. Bangunan itu tidak lain adalah Musuem Seni Rupa dan Keramik.

Bangunan

Rindangnya pepohonan dan deretan para PKL yang menjajakan aneka makanan dan minuman, seakan menyambut para pengunjung yang memasuki pintu masuknya. Bangunan yang berlokasi dari Jl. Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat ini, laksana rumah bagi koleksi keramik dan lukisan para seniman.

Dengan jelas, corak arsitektur bangunan Eropa terlihat begitu anggun berdiri. Berdiri pada 21 Januari 1870, bangunan ini merupakan gedung Dewan Kehakiman pada masa kolonial (Raad van Justitie). Pembanguannya sendiri diarsiteki oleh Jhr. W H.F.H. Raders seorang arsitek yang tergabung dalam Koninklijk Instituut van Ingenieurs (Institut Insinyur).

Dari halaman depan gedung ini, kita langsung bisa melihat Stadhuis Plain beserta Bangunan Museum Sejarah Jakarta (Fatahillah).

Bangunan berbentuk atrium ini memiliki bangunan induk. Dua buah bangunan sayap melengkapinya dengan masing-masing dipisahkan oleh dua halaman/taman yang luas. Sebuah koridor memanjang yang berlokasi di bagian belakang digunakan untuk menghubungkan kedua bangunan sayap. Bangunan-bangunan itu nampaknya memiliki dua lantai.

Pada masa setelah kemerdekaan dilakukanlah perubahan fungsi menjadi Museum. Presiden Suharto pernah meresmikannya menjadi Balai Seni Rupa Jakarta pada 20 Agustus 1976. Selanjutnya, ditambahkanlah koleksi aneka keramik pada bangunan depan untuk menjadi Museum Keramik. Peresmiannya dilakukan oleh Gubernur Ali Sadikin pada 10 Juli 1977. Maka sejak itu di dalam bangunan ini terdapat dua museum yaitu Museum Seni Rupa dan Keramik.

Menjelajahi Museum

Entah berapa banyak koleksi yang ada di dalam Museum ini. Tapi menurut informasi yang ada sekitaran 350 buah lukisan dan 1350 buah keramik, ada di dalamnya.

Beranjak dari anak tangga tempat kami duduk-duduk, ruang lobby yang besar langsung menyapa. Penjelasan tentang museum ini dilengkapai dengan prasasti-prasasti peresmiannya nampak terpampang di dinding. Dua buah patung setengah badan nampak juga terpajang di sana. Di sebelah kanan adalah Patung Dada Raden Saleh Syarif Bustaman (seorang perintis seni rupa Indonesia modern) dan di sebelah kiri adalah Patung Data S. Sudjojono (seorang yang dijuluki Bapak Seni Lukis Modern Indonesia).

Beralih ke sebelah kiri, di sana terdapat pintu masuk menuju ruang Museum.

Setelah membayar tiket masuk Rp. 2000 per orang, aku, temanku dan beberapa pengujung lainnya langsung masuk untuk memulai menikmati koleksi dari museum ini.

Begitu masuk, pengunjung langsung disambut beragam keramik yang tertata rapi di dalam lemari-lemari kaca. Keramik tersebut dikategorikan sebagai Benda Muatan Kapal Tenggelam.

Beragam jenis dan ukuran keramik seperti mangkuk, piring, guci, dll baik dalam kondisi yang utuh maupun telah pecah ditampilkan di sana.

Saat ini diperkirakan lebih dari tiga juta kapal karam di seluruh lautan di dunia ini. Jumlah ini tidaklah sedikit dan tentunya memiliki makna yang beragam. Salah satu contohnya, kita akan melihat dari sisi pemanfaatan dan pelestarian sebagaimana diungkapkan di dalam koleksi museum ini. Dengan melalui koleksi-koleksi yang ada, kita bisa mengetahui bukti-bukti telah adanya jejaring dari bangsa-bangsa di Asia pada abad 9 dan 10. Nusantara yang kemudian disebut Indonesia, juga turut andil dalam jejaring tersebut. Salah satunya mellalui kejayaan kerajaan Sriwijaya.

Beralih ke ruang lain dari museum ini, masih di bangunan utama, di sana lebih banyak lagi tersaji beragam keramik. Aneka guci, buli-buli, cepuk, mangkuk, teko, dll., tersimpan di dalam lemari-lemari kaca. Pengunjung dapat menyaksikan aneka corak dan bentuk keramik-keramik tersebut, beserta beberapa penjelasan yang terpasang di sekitarnya.

Di tengah ruang ini, terdapat tangga menuju ke lantai atas.

Di lantai atas terdapat dua ruangan yang berisi koleksi keramik. Namun keramik yang ada di ruang atas ini lebih bagus kondisinya dan lebih indah bentuk dan warnanya. Piring-piring besar, guci, mangkuk dan botol masih menjadi koleksi utama. Benda-benda tersebut berasal dari Cina, Melayu dan Arab.

Puas meng-explore ruangan koleksi keramik, kamipun turun ke lantai dasar. Melalui pintu yang ada di sana, kami segera menuju bangunan sayap kiri. Di bangunan yang memanjang ke belakang itu, di sana terdapat koleksi aneka lukisan. Terdapat beberapa ruang yang memajang lukisan sesuai dengan kelompok atau masanya. Di antaranya : Ruang Masa Raden Saleh (karya-karya periode 1880 – 1890), Ruang Masa Hindia Jelita (karya-karya periode 1920-an), Ruang Persagi (karya-karya periode 1930-an), Ruang Masa Pendudukan Jepang (karya-karya periode 1942 – 1945), Ruang Pendirian Sanggar (karya-karya periode 1945-1950), Ruang Sekitar Kelahiran Akademis Realisme (karya-karya periode 1950-an) dan Ruang Seni Rupa Baru Indonesia (karya-karya periode 1960 – sekarang).

Terus berjalan menyusuri ruang demi ruang di museum lukisan, sampailah di bagian ujung bangunan. Di sana kembali terdapat ruangan yang berisikan koleksi aneka keramik. Jenis dan macamnya pun tidak jauh beda dengan di ruang-ruang keramik sebelumnya. Bermacam guci, botol, teko, piring dan mangkuk ditampilkan di sana baik di dalam lemari kaca maupun di luar.

Di sana juga terdapat tangga untuk menuju ruang atas. Di ruang atas yang berlantaikan kayu, terdapat beragam jenis keramik yang sebagian besar berasal dari Cina.

Puas melihat-lihat koleksi yang ada, kamipun turun untuk kembali ke ruang bawah. Kami lanjutkan langkah ke luar pintu dengan menyusuri koridor untuk menuju mushola yang ada di sana untuk sholat dzuhur.

Selanjutnya kami pun mengakhiri kunjungan ke museum ini.

tambahan referensi :
- wikipedia &
- http://www.jakarta.go.id

============================================
photo by : deddy
============================================

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: