Posted by: deddyek | March 30, 2011

Sebuah Kemandirian

.. Waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam. Temperatur malam itu sekitar 3 derajat Celcius. Udara dingin kurasakan menusuk tulang. Sambil melangkah cepat menyusuri anak tangga, diriku mencoba menggapai ruangan yang lebih hangat. Ribuan orang bertebaran keluar dari stasiun kereta. Dengan pakaian yang tebal mereka berjalan cepat keluar dari gerbang elektronik..
 
Begitulah sehari-hari suasana di stasiun kereta dan Azalea Underground Shopping Center di Kawasaki.
 
Di antara ribuan orang yang berlalu lalang, terlihat berpuluh-puluh manula yang dengan tertatih-tatih berjalan. Wajah mereka tampak renta tapi tidak dengan semangatnya. Dengan berbalut pakaian tebal, penghangat leher dan menenteng tas, mereka menyusuri dinginnya malam menuju tempat tinggalnya.
 
Sementara itu di sebuah kedai makanan, tampak seorang ibu berumur sekitaran 60 tahunan dengan senyum ramah menyajikan teh kepada para pengunjungnya. Melihatnya diriku teringat ibu di rumah. Tak tega rasanya melihat seorang nenek bekerja seperti itu.
 
Menyusuri jalanan Kawasaki, membawaku menemukan serombongan tim pekerja yang sedang memperbaiki jalan raya. Nampak di antara mereka, beberapa orang kakek dengan mengenakan seragam proyek lengkap, dengan segenap tenaga yang ada bekerja keras di sana. Siang itu pun masih terasa dingin. Dan mereka tetap di sana dengan semangat.
 
Sebuah penjelasan yang menakjubkan keluar dari seorang rekan yang asli penduduk di sana. Satu kata “Kemandirian”. Ia menceritakan bahwa kemandirian itu berbanding lurus dengan harga diri. Bukan karena sang anak durhaka karena menelantarkan orang tuanya. Bukan karena sang anak tidak mampu sehingga tidak cukup untuk membantu orang tuanya. Tapi semata-mata karena mereka merasa masih mampu untuk menghidupi dirinya sendiri dan tidak ingin mereportkan orang lain.
 
Hmmm… itulah mereka. Dan bisa jadi berbeda dengan keadaan kita.
 
Tentulah kita tidak tega untuk membiarkan kedua orang tua kita yang sudah renta menikmati harinya di jalanan yang berat. Adalah kewajiban bagi kita untuk menjaga dan menyayangi mereka. Membiarkan mereka hidup tenang di hari tuanya. Tanpa beban dan kerja yang berat.;
 
Namun apa yang dilakukan para manula di sana, setidaknya bisa menjadi pemacu semangat bagi kita yang lebih muda. Untuk tetap bekerja keras dengan penuh semangat, lebih atau setidaknya sama dengan semangat para manula itu. Untuk tidak meminta-minta dan bermalas-malas. Bukan demi sekedar harta duniawi untuk kita dan keluarga. Tapi di sana kemandirian dan harga diri. Di sana ada kehormatan dan kemulyaan.
 
……………………………………………………….
 
“Sungguh sekiranya salah seorang di antara kamu sekalian mencari kayu bakar dan dipikulnya ikatan kayu itu, maka yang demikian itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada seseorang baik orang itu memberi ataupun tidak memberinya.”[HR. Bukhari dan Muslim]
 
……………………………………………………….;
 
Hmmm…….. Jadi teringat masa kecil. Ketika pagi-pagi buta menyapa. Saat para petani dengan memanggul cangkul, meninggalkan rumah menuju sawah. Tiada gentar melawan dingin hawa, tiada pernah kalah oleh kantuk menyapa. Bersahaja melangkah dengan senyum syukur dan penuh doa. Semoga hari penuh berkah untuk keluarga.;
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: