Posted by: deddyek | June 15, 2011

Damainya Pagi di Pantai Mambruk, Anyer

Deburan ombak terdengar jelas menghantam bebatuan. Sementara riak-riaknya melaju habis terhempas di pepasiran. Mentari pagi baru saja beranjak terbit. Seiring dingin hawa yang mewarnai pagi itu. Nyamannya kasur dan balutan hangat selimut seakan menyatu dengan rasa malas mungkin saja hadir di kebanyakan insan.

Tapi bagi sebagian dari mereka, membuka pintu dan melangkah keluar adalah suatu hal yang ditunggunya. Dinginnya udara dan sergapan kemalasan tak melunturkan hasrat untuk menikmati damainya pagi. Begitupun diriku.

Meninggalkan bangunan coutage nan nyaman dan mengayunkan langkah ke luar, sesejuk udara segar menghampiri diri. Dan tak perlu menunggu lama, dengan segenap rasa dan semaksimal kapasitas rongga dada, diriku hirup sedalam-dalamnya kesegaran udara di pagi tiba.

Pagi itu diriku berada di Pantai Mambruk.

Berada di sana bukanlah sebuah rencana. Hanya menumpang semalam untuk melepas lelah setelah berkutat dengan aktifitas kerja di hari sebelumnya. Hanya transit untuk menyegarkan raga sebelum lanjutkan perjalanan balik ke Jakarta.

Menyusuri rerumputan nan basah karena embun, dinaungi pepohonan yang tengah bertiup pelan, diri ini melangkah menuju pantainya.

Nampak beberapa nyiur yang tak seberapa tinggi berada di tepian pantai. Gerakan daunnya menghadirkan suara gemirisik. Sementara bebatuan di seberangnya dengan tegar menghadirkan deburan saat ombak datang dan terpecahkan. Semua itu bak harmoni yang sempurna dalam menikmati pagi hari dalam suasana yang berbeda.

Kaki ini terus melangkah menyusuri pasir-pasir yang terhampar di sana. Sementara nun jauh mata memandang, hanya lautan luas yang terhampar.

Beberapa nelayan tampak telah memulai harinya untuk berjuang menjaring rizqi yang Alloh curahkan untuk manusia.

Nampak juga perahu pengangkut penumpang sudah mulai berjalan. Mereka juga singgah di pantai ini. Menawarkan jasa bagia para wisatawan untuk berkeliling menikmati lautan dengan perahu motor tersebut.

Banyak bebatuan ada di sana. Selain sebagai pemecah ombak juga sebagai pelengkap keindahan sebuah pantai.

Lama diri ini berada di sana, hanya sekedar untuk menikmati pagi sambil menjepretkan kamera ke beberapa sasaran, hingga panas mentari datang merasuk ke dalam raga ini.

Hangat … dan sinarnya pun mulai menyilaukan.

Dan peluhpun mulai membasahi seiring rasa lapar yang mulai menggerogoti. Ah… ada baiknya kembali ke coutage tuk mandi dan sarapan pagi.

====================================================
photo by : deddy
====================================================


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: