Posted by: deddyek | June 22, 2011

Hangatnya Malam di Alun Alun Kidul Jogja

Suara canda dan keceriaan hadir apa adanya, seiring hangat malam yang mulai terasa. Lampu-lampu terang menyala menggambarkan berbagai karakter tokoh yang begitu menarik. Dalam ayunan kaki untuk menggerakkan aneka jenis becak dan sepeda, berkelilinglah mereka mengitari lapangan nan luas dengan dua beringin kembar di tengahnya.

Iya… Alun Alun Kidul Jogjakarta ….Hari pertama kami di Jogjakarta. Dan malam itu kami ingin menikmatinya di sana.

Beranjak dari jl. prof. Johannes, kami menuju lokasi tersebut dengan menggunakan taksi. Taksipun langsung melaju menyusuri jalan kota Jogja yang ramai malam itu. Dari dalam taksi, dirikupun tak henti menikmati suasana jalanan kota itu. Sering kali adinda tercinta, laksana seorang pemandu, menjelaskan beberapa lokasi penting di kota itu. Tak sampai tiga puluh menit, sampailah kami di Alun Alun Kidul Jogjakarta.

Wow… diriku benar-benar surprise dengan suasana malam itu. Hanya sebuah lapangan, yang kondisinya pun biasa-biasa saja, bahkan becek malam itu, tapi di sekililingnya benar-benar hidup suasananya. Ribuan orang tumpah ruah di sana. Menikmati malam bersama keluarga atau teman. Kemeriahan yang bersahaja. Dan kamipun ikut larut menikmatinya…

Berkeliling menyisir tepian lapangan, kami berjalan perlahan. Melihat aneka sepeda atau becak hias, dengan lampu-lampu yang ditata sedemikian rupa hingga membentuk karakter tokoh kartun, nampak para pengunjungnya dengan beragam usia asyik menikmati berkeliling lapangan dengannya.

Kamipun sebenarnya tertarik untuk mencoba. Sambil berjalan kaki, kami mencoba mencari di mana lokasi kami bisa menyewa. Aneka bangunan tempo dulu seperti Gedung Sasono Hinggil Dwi Abad, dll nampak berdiri kokoh di sana, menjadi saksi bisu kemeriahan Alun-Alun Kidul ini dari jaman kejayaan Kasultanan Ngayogjakarta dahulu hingga kini.

Tak lama kemudian sampailah kami di depan tempat di mana penyewaan itu berada. Kami bermaksud menyewa sepeda yang untuk berdua. Setelah melihat-lihat ternyata tidak ada. Paling sedikit sepeda untuk bertiga. Kamipun tak jadi untuk menyewanya. Hmmm.. melihat-lihatnya saja sudah menyenangkan kok..🙂

Di tengah alun-alun tampak dua beringin kembar. Beberapa orang nampak berusaha untuk mengikuti tantangan masuk di antara ke dua beringin dengan mata ditutup oleh kain hitam.

Sebelumnya, istri sebenarnya sudah menantang diriku untuk mencoba. Tapi sayang, malam itu kondisi alun-alun cukup becek karena hujan siang tadi.

Sementara itu pula, puluhan pedagang mainan anak seperti kitiran yang berlampu, asyik menggoda anak-anak untuk membelinya. Begitu kitiran itu dilemparkan ke udara, putarannya berhiaskan lampu nan terang, benar-benar membuat anak-anak tertarik. Makanya, banyak sekali malam itu mainan tersebut berterbangan di udara laksanan lampu terbang.

Entah berapa lama kaki kami menapaki sekeliling Alun-Alun. Yang jelas saat itu kami sudah mengelilinginya 360 derajat.

Melihat di sisi Alun-Alun, deretan penjual makanan dan minuman ada di sana. Mulai dari makanan berat seperti ayam goreng, lele goreng, gudeg, dll hingga yang ringan-ringan seperti wedang ronde dan jagung bakar.

Puluhan bahkan ratusan tikar tergerai di pinggiran Alun-Alun. Sambil melihat-lihat tempat yang pas untuk menikmati kuliner malam itu, kami lihat begitu banyak kendaraan yang datang, dan begitu banyak pengunjung yang mulai memasuki kawasan itu.

Setelah mendapatkan tempat yang pas, kamipun segera memesan kuliner malam itu. Menyeberangi jalan menuju sisi trotoar, nampak deretan warung ada di sana. Dan kamipun memesan Wedang Ronde dan Jagung Bakar pedas. Hmmm.. yummmy….

Berdua kami duduk lesehan di atas gelaran tikar. Mata kami tak henti menikmati kehangatan malam di sisi Alun-Alun Kidul. Hampir semua hamparan tikar diserbu oleh para pengunjung.

Sekali-kali kami bercanda dan berphoto bersama🙂 … Maklum menunggu jagung bakarnya agak lama sedikit…

Salah satu tips untuk berwisata di Jogjakarta dari istri adalah siapkan uang receh yang banyak. Dan benar, malam itupun tips itu berguna. Satu persatu pencari rizqi datang, mulai dari pengamen sampai pengemis. Janganlah ngedumel atau ngeluh dengan kondisi itu, siapkan saja receh yang cukup baik lima ratus rupiah atau seribuan, ikhlaskan hati … menikmati malam di sana sambil beramal .. Mereka ramah-ramah, jadi kitapun harus ramah pula..🙂

Jagung bakar dan dua mangkuk wedang rondepun datang. Seorang ibu penjual, mengantarkan pesanan kami.

Hmmm… sruppp…. hangatnya begitu terasa saat satu sendok pertama wedang ronde meluncur melewati tenggorokan. Manis, panas dengan aneka bahan di dalamnya, membuat badan menjadi hangat.

Jagung bakarpun kami coba… dan… ternyata terlalu pedas…🙂 … tapi tetep aja enak…🙂

Sambil bercanda kami menikmati malam itu ditemani keramaian suasana, kuliner hangat dan angin malam yang mulai semilir.

Sejenak melihat ke telepon genggam .. wah dah jam sepuluhan … Kamipun putuskan untuk kembali ke hotel, untuk me-recharge tenaga kami. Besuk pagi perjalanan kami di Jogja, akan berlanjut …

====================================================
photo by : deddy
====================================================


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: