Posted by: deddyek | July 12, 2011

Bersama Cinta di Malioboro

Malam mulai menyelimuti kota Jogja. Aneka lampu telah menyala berpendar dan berpadu dengan keriuhan kendaraan yang melaju di jalan-jalan kota.

Bergandengan tangan berdua kami menyeberangi jalan meunju halte Trans Jogja terdekat. Langkah kaki kami terasa ringan seakan tiada lagi bekas lelah perjalanan kami siang tadi di Prambanan. Segelas susu coklat panas yang dijual di salah satu tenda yang berjejer di samping sisi jalan dari Galeria Mall, telah menyirami tengggorokan kami sebelumnya. Kehangatannya seakan melancarkan peredaran darah kami, hingga kamipun siap untuk melanjutkan perjalanan ke spot lain di kota ini.

Malioboro ….

Ya, malam itu kami berdua ingin menikmati suasana Jogja di jalan Malioboro.

Beberapa rencana telah kami siapkan untuk menikmati malam di sana. Mulai dari makan malam di lesehan, membeli batik, dan tentu saja jalan-jalan dari ujung ke ujung Malioboro.🙂

Bus Trans Jogja pun tiba. Kamipun segera masuk ke dalamnya. Banyak tempat duduk kosong di sana. Dan kamipun bisa menikmati perjalanan ke Malioboro dengan nyaman. Sekitar 30 menit, sampailah kami di ujung jalan Malioboro.

Istri mengajak untuk turun di halte pertama, supaya jalan-jalannya puas malam itu. Dirikupun setuju untuk itu. Dan di halte pertama yang ada di sepanjang jalan itu, kamipun turun.

Keramaian malam itu sungguh terasa. Mungkin begitulah hari-hari di sana.

Begitu kami turun dan keluar halte bus Trans Jogja, mata kami disuguhi deretan warung tenda lesehan yang menjual aneka makanan khas Jogja. Sementara itu di sepanjang trotoarnya, ratusan motor berparkir di sana.

Perlahan kami menyusuri trotoar jalan, sambil melihat-lihat warung mana nanti kami akan datangi. Sementara itu suara para penarik becak tak henti-hentinya menawarkan ke kami untuk menggunakan jasanya berkeliling ke beberapa tempat wisata yang ada. Entah berapa kali kami harus mengatakan ” tidak / maaf”. Namun itu tak mengurangi semangat mereka untuk terus merayu kami. Kami hanya tersenyum saja dengan tawaran-tawaran itu. Murah sih, hanya Rp. 5000 rupiah. Tapi, malam itu memang kami tak ada rencana untuk jalan-jalan selain di kawasan Malioboro.

Selanjutnya, menyeberanglah kami ke sisi kanan jalan. Tujuan kami tentu saja untuk mencari batik buat diri kami sendiri dan tentu saja buah tangan.

Begitu banyak penjual menjajakan dagangannya di koridor-koridor depan pertokoan. Aneka jualan ada di sana, namun utamanya adalah cenderamata khas Jogja seperti kaos, gantungan kunci, dll.

Di sisi tersebut, begitu banyak toko-toko penjual batik kami jumpai. Berdua , kamipun memasukinya dari satu toko ke toko yang lain. Begitu banyaknya corak dan ragam batik, membuat kami agak bingung untuk menentukan pilihan.

Belum lagi disesuaikan dengan ukuran yang biasa kami kenakan. Tapi, mungkin begitulah seninya berbelanja. Untuk mendapatkan barang yang bagus dengan harga yang miring, maka kamipun tak segan berpindah-pindah ke beberapa toko yang ada. Dan kamipun akhirnya mendapatkan beberapa pakaian batik yang sesuai dengan keinginan kami.

Setelah sekitar satu setengah jam berburu batik, perut kami sudah terasa keroncongan. Kamipun lantas menyeberang kembali ke sisi jalan yang lain.

Berjalan sejenak untuk melihat-lihat, mana nih tempat yang lebih asyik untuk makan berdua.🙂

Pandangan mata kamipun tertuju kepada sebuah warung tenda yang dengan warna kuning dan merahnya seakan menarik untuk dikunjungi. Hanya ada dua orang di situ yang sedang menanti datangnya pesanan. Kamipun lalu duduk lesehan di sana beralaskan tikar. Dua porsi nasi gudeg komplit plus minuman hangat, itulah menu pilihan kami.


Sambil menunggu makanan datang, kamipun asyik berbincang tentang kilas balik perjalanan di Jogja kami beberapa waktu sebelumnya.

Jogja merupakan salah satu kota yang sebelum itu tak pernah diriku singgahi. Keinginan untuk jalan-jalan menikmati kota Jogja selalu ada di benak diriku. Beberapa kali rencana perjalanan ke sini diriku rancang, namun sebanyak itu pula tak kesampaian. Tak ada rekan seperjalanan, menjadi alasan utamanya. Nampaknya tak asyik jikalau ke kota ini sendirian. Berandai, kala itu, jika suatu saat ke sana bersama orang yang diriku sayangi.🙂

Dan hari itu, Alhamdulillah … hal itu terwujud. Dan subhanallah … hari itu bersama seseorang yang Alloh karuniakan pada dirikku. Seseorang yang diriku sayangi karena-Nya. Seseorang yang telah menjadi pendamping hidupku.
🙂 .. Alhamdulillah …

Dan ..

Jreng …. suara gitar mengalun bersama suara yang menembangkan lagu-lagu. Seorang pengamen yang nampaknya telah cukup lama mencari rizqi di jalanan Malioboro, mulai menyemarakkan malam dengan lagu-lagunya. Mulai dari lagu nostalgia, lagu barat sampai lagu jaman sekarang yang ia dendangkan.

Sementara itu satu per satu pengunjung Malioboro mulai datang ke warung tersebut. Tampak pula seseorang yang menawarkan jasa melukis wajah seseorang di sebuah kertas.

Pesanan kamipun tiba. Dua porsi nasi gudeg komplit dengan ayam goreng plus minuman hangat pun tiba. Tak sabar rasanya kami untuk segera menyantap hidangan itu.

Dengan menggunakan tangan, jari-jari kamipun lincah menjelajah setiap sisi piring untuk memasukkan makanan ke dalam mulut kami yang dengan lahap segera mengunyah dan menikmatinya. Hmmmmm… benar-benar nikmat. Sesekali seruputan kamipun terdengar saat gelas yang berisi minuman hangat singgah di bibir kami.

Jikalau biasanya nasi gudeg itu manis sekali, syukurlah malam itu nasi gudegnya pas dengan selera kami. Sambalnya cukup pedas dan cukup membuat keringat kami mengucur.

Malam semakin hangat… dan kamipun telah menyelesaikan dinner kami :)…

Kaki yang pegalpun telah sirna pegalnya. Tenaga pun serasa telah terisi lagi. So.. saatnya kami bangkit dari warung tenda itu dan melanjutkan jalan-jalan kami hingga ke ujung jalan Malioboro.

Kembali kami menyusuri trotoar jalan. Begitu banyak orang berlalu lalang di sana. Puluhan becakpun terparkir bersama deretan rapi motor di beberapa sisi trotoar. Hampir semua toko telah tutup. Sementara itu para pedagang makanan lesehan semakin memenuhi lokasi tersebut.

Lampu-lampu yang cantik jalan menyala menerangi malam. Sementara laju kendaraan mulai terlihat pelan karena kadang padatnya jalan. Berjalan kami terus melewati kantor Gubernuran dan juga Pasar Bring Harjo yang telah sepi.

Hingga sampailah kami mendekati ujung jalan Malioboro. Keramaian di sini semakin jelas terlihat. Begitu banyak orang yang nongkrong di sana. Beragam makanan pun di jual juga di sana. Mulai jagung bakar, wedang ronde, kacang rebus, nasi kucing, lengkap tersedia di sana.

Kamipun berhenti sejenak dan duduk-duduk di kursi-kursi batu yang ada di sana. Kami hanya membeli dua botol air mineral sebagai teman duduk kami.

Menatap di seberang sana, nampak Gedung Agung berdiri. Lampu-lampu yang terang baik di halaman maupun di pagarnya membuat gedung itu terlihat indah.

Sementara itu di sisi sebaliknya, yaitu tempat kami berdiri, nampak Benteng Vrederburg. Temaramnya lampu yang ada, mengesankan begitu tuanya usia bangunan itu. Kamipun lalu sempatkan untuk masuk ke pelatarannya.

Tak lama di tempat itu, kami lalu ke luar lagi. Nampak di sana, di seberang ujung jalan, Gedung Bank BNI yang merupakan salah satu bangunan bersejarah, ikut menghiasi keindahan malam di sana.

Sebungkus raksasa nasi kucing nampak di depan kami. Seiring itu pula perut kami terasa agak lapar lagi. Energi yang masuk di warung tenda lesehan tadi nampak mulai tergerus oleh langkah kami menyusuri sepanjang Malioboro.

Dan suara riuh serta tawa terdengar dari kegelapan. Melongok ke dalam sebuah pagar nampak anak-anak sedang bermain-main, berlarian dan bermain skate board di sana. Musem Serangan Umum 11 Maret menjadi menu penutup wisata kami di kawasan Malioboro malam itu.

Waktu sudah mendekati jam 22.00, masih ingin rasanya kami berlama-lama di sini. Tapi apalah daya, fisik kami berkata sebaliknya. Ngantuk telah terasa. Sedang esok, masih ada beberapa spot wisata yang hendak kami menjelajah ke sana.

Tepat di depan Museum 11 Maret dan di depan gedung kantor Pos Besar, kami menunggu taksi datang. Masih berdua kami bergandengan tangan. Tersenyum kami saling menatap. Bahagia, gembira, ceria atau apalah namanya, menyeruak ke dalam hati kami. Di dalam hati kami berdoa, semoga kebahagian dan kemudahan akan selalu menyertai kami.

Di Malioboro kami semakin cinta …🙂

====================================================
photo by : deddy
====================================================


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: