Posted by: deddyek | July 25, 2011

Malioboro, Sekali Lagi …

Meski semalam menyusuri jalan Malioboro, ternyata tidak membuat kaki kami lelah untuk melanjutkan perjalanan. Meski semalam menikmati hangatnya Malioboro, ternyata juga tak membuat kami bosan untuk mengunjunginya lagi.

Selepas sarapan pagi di hotel tempat kami menginap, sinaran mentari yang menyeruak di antara rimbunnya dedaunan di sekitaran hotel kami, menghadirikan kehangatan dan semangat untuk menikmati hari ketiga kami di kota Jogjakarta.

Trans Jogja masih menjadi andalan kami untuk menuju Malioboro. Di Malioboro kami bermaksud untuk blusukan di Pasar Beringharjo dan beberapa toko batik yang ada (“meski cuma untuk lihat-lihat aja :)”). Selain itu di hari ketiga ini kami ingin menghabiskan waktu untuk mengunjungi Keraton, Masjid Gede dan Tamansari.

Sesampai di Malioboro, kami segera keluar dari halte bus Trans Jogja. Pandangan yang kontras kami dapati. Tak seperti semalam yang ramai dengan para pengunjung, pagi ini suasana agak sepi. Nampaknya keramaian baru akan mulai satu jam lagi. Terbukti para pedagangnya sedang mulai bersiap-siap untuk menata dagangan, membuka toko atau sedang membersihkan lokasi.

Kami terus saja menyusuri tepian jalan tempat di mana para pedagang menggelar dagangannya. Kami sempatkan di sana untuk membeli gantungan kunci berbentuk sandal batik. Lumayanlah untuk oleh-oleh.

Puas berjalan-jalan di sisi kanan jalan, kami selanjutnya menyeberang untuk menuju sisi kiri jalan. Tujuan kami berikutnya tentu saja Pasar Beringharjo. Pasar tradisional yang cukup besar yang sudah ratusan tahun berperan bagi pertumbuhan perekonomian di wilayah tersebut.

Begitu sampai di seberang, tepat di depan pasar, terlihat banyak sekali pedagang yang menjajakan batik dengan harga yang cukup murah. Kami melewati para pedagang tersebut sembari melihat-lihat batik yang ada.

Masuk dari pintu utama pasar, kami langsung mendapati keramaian yang luar biasa. Para pembeli dan penjual berbaur dalam transaksi yang ramai.

Sesekali tawa dan sesekali keluhan kecewa keluar saat transaksi tawar menawar tak jua bersambut. Sementara sapaan dan tawaran dari mulut para pedagang terus berujar menemani para pembeli di sepanjang lorong di antara lapak-lapak yang ada. Batik… iya … batik masih saja menjadi jualan yang dominan di sana. Baik dijual dalam bentuk kain, baju, celana, tas, dll. Hari itu kami bermaksud tuk membeli taplak bulat batik dengan ukuran yang agak besar.

Setelah melakukan pencarian dan tawar menawar dari satu pedagang ke pedagang yang lain, akhirnya kami bungkus taplak tersebut.

Suasana tempat penjualan yang panas dikarenakan penuh sesaknya para pengunjung, membuat kami ingin cepat-cepat meninggalkan blok tersebut.

Dengan berjalan perlahan karena mesti melewati beberapa pembeli yang bergerombol di sela-sela jalan, sampailah kami ke jalan utama pasar.

Keringat kami berkucuran bak selesai sauna. Sebotol air mineral berdua kami nikmati untuk menghilangkan haus dan mengusir kegerahan.

Pasar ini memiliki tiga lantai. Batik ada di lantai dasar. Lantai satu berisikan pakaian. Sementara di lantai dua, menjadi semacam pusat penjualan baju muslim. Sebelumnya istri tercinta memang juga ingin untuk membeli beberapa baju muslim di salah satu toko yang ia kehendaki. Maka itu, kami tak lama-lama di lantai dasar. Kami langsung menuju lantai atasnya.

Benar juga di lantai dua, kami temui begitu banyak toko bahkan grosir yang menjual baju-baju muslim. Kami singgah di Rabbani untuk membeli beberapa potong jilbab. Lalu istripun melanjutkan muter-muter di beberapa toko baju muslim untuk mencari keperluannya.

Lapar mulai melanda perut kami. Tapi untuk makan siang sepertinya belum waktunya. Jadi kami putuskan untuk mencari tempat makan yang ringan tapi cukup untuk meredakan perut kami yang mulai lapar.

Selepas keluar dari Pasar Beringharjo, istri mengajakku untuk kembali menyeberang jalan. Katanya ada Pempek Palembang yang enak di sana. Okay… Kamipun lalu menyeberang jalan dan menyusuri halaman depan toko-toko di mana para pedagang mulai ramai bertransaksi.

Selama menyusuri lokasi tersebut, begitu banyak tukang becak yang menawari kami untuk menggunakan jasa mereka. Tapi karena kami hanya jalan-jalan di sekitaran lokasi tersebut, kami mencoba untuk menolaknya dengan baik seperti baiknya mereka saat menawarkan jasanya.

Tiba sebuah gang, kamipun langsung berbelok. Tak jauh dari sana, terlihatlah sebuah tempat makan yang menjual Pempek. Namanya Pempek Ny Kamto.

Kamipun segera mempercepat langkah menuju ke sana. Sesampai di sana kamipun langsung memesan dua porsi pempek. Tampak beberapa pengunjung ada di sana. Dengan lahap kami menikmati pempek tersebut. Pempek yang hangat dan dengan sausnya yang pas, membuat kami dalam sekejap menghabiskan makanan tersebut.

Sambil beristirahat sejenak di sana, kami menyusun rencana untuk menjalani jadwal selanjutnya, yaitu ke beberapa obyek wisata di sekitaran Malioboro.

Setelah diskusi sejenak, kamipun segera cabut dari tempat tersebut.. tentu saja setelah menyelesaikan pembayaran pempek tersebut …🙂

Lambaian tangan kami membuat seorang tukang becak bergegas mengayuh becaknya menghampiri kami. Hari itu kami akan menuju Kerator Jogja dengan menggunakan becak ..🙂

====================================================
photo by : deddy
====================================================


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: