Posted by: deddyek | August 2, 2011

Masjid Gedhe Kauman di Jogjakarta

Menginjakkan kaki di Jogjakarta, rasanya tidaklah lengkap tanpa mengunjungi salah satu peninggalan sejarah kebesaran Kesultanan Islam terbesar di tanah jawa ini. Masjid Gede Kauman merupakan salah satu spot yang perlu untuk disinggahi terutama bagi mereka yang sedang berada di sekitaran Keraton Jogjakarta. Pun demikian kami. Masjid Gede Kauman menjadi salah satu tujuan utama kami saat berada di kota gudeg.

Masjid yang dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1773, selain menyajikan kilas balik sejarah masa lalu juga menghadirkan keindahan dan kekhasan arsitektur jawa islam pada setiap sudut bangunannya.

Tak jauh dari Keraton Jogjakarta, dengan hanya berjalan kaki, sampailah kami di Masjid Gede Kauman. Masjid yang cukup bersejarah dan menjadi pusat syiar agama Islam pada jaman Kasultanan Mataram dulu kala.

Masjid ini dikelilingi pagar berwarna putih yang cukup tebal bak benteng pertahanan. Di sekeliling masjid, terdapat pemukiman yang dahulunya merupakan tempat tinggal para ulama atau kaum santri.

Untuk masuk ke dalam halaman masjid, kami melalui sisi timur. Di sana terlihat berdiri pintu gerbang yang beratapkan joglo khas jawa. Enam pilar besar nampak tegak di sana menyangga atap joglo tersebut. Sementara itu di kiri kanan dan depannya terdapat para pedagang yang menjajakan aneka makanan, minuman, dll.

Untuk masuk ke dalam, kami tidak bisa melalui gerbang tersebut dikarenakan pintu gerbang tersebut saat itu tertutup. Serombongan ibu-ibu berseragam nampak berjalan teratur melalui pintu di sisi kanan gerbang utama. Kamipun mengikutinya untuk menuju ke halaman masjid. Beberapa pengemis nampak duduk menyambut para jamaah. Selembar atau sekoin uang sedekah dari para jamaah, disambut dengan senyum syukur atas rizqi yang Alloh titipkan dari kemurahan hati para jamaah.

Memasuki halaman masjid, tampilan khas masjid-masjid bernuansa arsitektur jawa langsung menyambut. Kubah masjid ini yang berbentuk limas dan bertingkat. Warna merah begitu mendominasi tampilan kubah dan atap masjid.

Halaman masjid ini lumayan cukup luas. Beberapa bangunan berusia tua nampak berdiri di seberang masjid. Salah satunya sekretariat Muhammadiyah wilayah setempat.

Sebelum masuk ke area masjid, kami sempat melihat sebuah prasasti. Kamipun mendekatinya. Dan ternyata isinya adalah informasi tentang pendirian masjid ini.

Sesuai prasasti yang ada, Masjid Gedhe Kauman ini pada 29 Mei 1773. Masjid ini didirikan oleh Sultan Hamengkubuwono I atau Pangeran Mangkkubumi atau Raden Mas Sujana.

Adzan dzuhur sudah mulai berkumandang. Kamipun bergegas untuk masuk ke area masjid. Untuk masuk ke area tersebut setidaknya terdapat satu pintu utama dan dua pintu kecil. Hari itu pintu utama dalam kondisi ditutup. Sepertinya pintu utama tersebut dibuka pada hari Jumat. Dari pintu utama untuk menuju serambi masjid terdapat bangunan semacam bangsal yang menghubungkannya.

Di sekitar bangunan tersebut biasanya jamaah menitipkan sandal atau sepatu kepada petugas penitipan.

Tepat di atas pintu gerbang utama tersebut terdapat obyek setengah lingkaran yang menempel pada bagian depan bangsal. Ornamen bintang bulan khas masjid pada umumnya ada di bagian paling atas. Di bawahnya nampak simbul khas keraton dengan sebuah jam ada di tengahnya.

Sementara itu masing-masing pintu kecil yang ada langsung mengarahkan jamaah menuju ke tempat berwudlu. Dengan melalui pintu kecil tersebut kami masuk dan berpisah untuk menuju tempat wudlu masing-masing jamaah (jamaah pria dan wanita). Tempat wudlu jamaah pria ada di sisi utara sementara untuk jamaah wanita ada di sisi selatan.

Selesai mengambil wudlu kami segera menuju ruang serambi masjid. Dari serambi ini kami akan masuk ke ruang sholat utama melalui pintu masuk yang telah tersedia. Setidaknya ada tiga pintu masuk dari sisi timur, namun hari itu hanya dibuka satu pintu masuk saja. Pintu masuk tersebut memiliki tampilan yang cukup menarik. Ukiran-ukiran tersebut kental nuansa jawa dengan paduan warna keemasan. Di antara masing-masing pintu terdapat tulisan beraksara jawa.

Memasuki ruang sholat utama, pilar-pilar besar terbuat dari kayu terlihat jelas di sana. Pilar-pilar tersebut menopang atap banguan ruang sholat utama . Warna coklat kemerahan begitu mendominasi. Sementara itu kaca-kaca patri yang berada di sekeliling kubah dalam yang berbentu segi empat meneruskan cahaya matahari untuk menerangi ruang sholat.

Sholat dzuhur siang itu dihadiri begitu banyak jamaah. Untuk jamaah pria serasa hampir penuh. Nuansa teduh dengan sirkulasi udara yang berasal dari jendela-jendela yang terbuka menghadirkan perasaan tenang selama waktu sholat.

Sholatpun telah usai ditunaikan. Satu per satu para jamaah meninggalkan ruang sholat. Begitupun kami. Namun sebelum langsung pergi, kami sempatkan untuk menikmati beberapa sisi dari interior masjid.

Tidak seperti masjid-masjid lain yang mihrabnya begitu penuh dengan mozaik-mozaik yang beraneka ragam, mihrab masjid ini biasa saja. Banyak ukiran khas jawa berwarna emas ada di sana. Sebuah tulisan arab berlafaz Alloh ada di bagian paling atasnya. Sementara itu di kedua sisi mihrab terdapat ornamen berbentuk lengkungan berhiaskan ukiran yang menempel pada dinding.

Mimbar masjid ini berada di samping kanan mihrab dengan posisi agak maju beberapa meter dari dinding. Mimbar yang dipakai oleh khotib untuk menyampaikan kutbah itu terbuat dari kayu jati. Bentuknya seperti singgasana. Ornamen indah berbentuk tumbuhan dan bunga terukir di sana. Dan tentu saja berwarna keemasan.

Pandangan kami beralih ke sisi kiri mihrab. Nampak di sana sebuah maksurah yang merupakan ruangan bagi raja/sultan untuk melaksanakan sholat. Raja/Sultan memang dibuatkan suatu tempat yang khusus untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terutama keselamatan jiwanya. Maksurah di masjid ini berhias ukiran berwarna keemasan.

Kamipun melongok ke atas ruang sholat tersebut. Di sana ada kubah bagian dalam. Kayu-kayu jati berwarna merah dan hitam semakin memperkental kekhasan bangunan ini.

Di sana kami dapati lampu-lampu cantik ada di sana. Ada lampu yang besar dan ada juga yang kecil. Untuk membuat udara di dalam ruang sholat lebih sejuk, banyak sekali kipas angin di pasang di sana.

Kami selanjutnya beranjak dari ruangan tersebut menuju serambi masjid.

Siang itu udara cukup panas. Terik matahari terlihat jelas. Sebelum melanjutkan perjalanan ke lokasi berikutnya, kami beristirahat sejenak di serambi masjid.

Terdapat enam pilar besar yang berdiri di tengah-tengah serambi. Pilar-pilar tersebut nampak begitu indah. Aneka ornamen dan ukiran berwarna keemasan ada di sana.

Tak ketinggalan, pilar-pilar kecil nampak juga berdiri di sana mengelilingi ruang serambi nan teduh.

Sementara di bagian atapnya tepat di atas lampu hias, kayu-kayu penopang tertata rapi di sana. Keindahannya begitu memukau. Aneka ornamen kembali hadir menyapa seiring berpadunya warna emas dan merah di sana.

Siang yang panas itu membuat nyaman rasanya untuk berlama-lama istirahat di serambi masjid. Beberapa jamaah nampak juga berbaring menikmati dinginnya lantai yang terbuat dari marmer berhiaskan motif-motif nan cantik.

Tatkala lelah kami hilang, kamipun beranjak dari masjid yang bersejarah ini. Teringat dalam buku sejarah islam bagaimana dulu di masjid ini KH Ahmad Dahlan berdakwah untuk meluruskan akidah islam termasuk juga meluruskan arah kiblat masjid yang salah. Perjuangan itupun berhasil meski melalui aneka rintangan. Dan posisi shaf sholat yang menyerong saat ini menjadi salah satu bukti keberhasilan dakwah beliau.

Ringan langkah kami menuju pintu keluar kompleks masjid. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu lebih. Perjalanan kami selanjutnya adalah menuju situs Tamansari.

============================================
photo by : deddy
============================================


Responses

  1. Mas Deddy nggak nemu bedug ya di sana???


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: