Posted by: deddyek | September 4, 2011

Pesanggarahan Taman Sari – Jogja

Derap roda becak melaju pelan membawa kami menyusuri jalan Nyai Ahmad Dahlan. Panasnya sinar matahari siang itu membuat keringat kami mengalir. Sepanjang jalan nampak melaju becak-becak lain membawa beberapa wisatawan asing atau domestik. Becak terus melaju dan jalananpun semakin mengecil.

Kami menyusurinya dengan penuh semangat. Energi kami yang telah penuh terisi oleh masakan padang di sebuah RM Padang dekat halte bus Trans Jogja.

Siang itu, wisata kami akan diwarnai dengan jalan kaki menyusuri tempat bersejarah di kota Jogja.

Pesanggrahan Tamansari. Sebuah karya arsitektur berkelas dari masa lalu. Siang itu kami berdua hendak menuju ke sana.

Ayuhan pedal becak terus menggerakan roda-rodanya. Becak melaju melewati Jl. Ngasem untuk selanjutnya berbelok kiri menyisir Jl. Polowijan. Hingga akhirnya setelah memasuki Jl. Taman, sebuah papan penunjuk arah terlihat di depan kami. Becakpun berbelok menuju tempat di mana para wisatawan biasanya turun atau berkumpul.

Perlahan kami turun dari becak. Setelah menyelesaikan ongkos becak, kami istirahat sejenak sambil melihat-lihat area sekitar. Beragam pedagang ada di sana. Di salah satu sudut, nampak penjual sup buah. Sebenarnya kami ingin sekali untuk mencicipi barang segelas sup buah dingin. Namun karena perbekalan minum kami masih cukup, kami putuskan untuk menundanya hingga sebelum kami pulang nanti.

Selanjutnya kami pun masuk ke dalam area depan dari Pesanggarahan Taman Sari. Beberapa bangunan tempo dulu dengan aneka ornamen khas jawa ada di sana. Warna putih yang telah memudar seakan menunjukkan telah sekian lama bangunan tersebut berdiri di sana.

Di sisi sebelah kanan, nampak terdapat loket pembelian tiket masuk obyek wisata ini. Cukup dengan mengeluarkan Rp. 3000 per orang saja kok. Kalau kita membawa kamera ada tambahan biaya Rp. 1000 saja.

Kami tak ingin terlalu lama di sana. Kami langsung melanjutkan perjalanan untuk meng-explore tempat bersejarah itu. Sebuah tembok besar laksana pintu gerbang ada di sana. Terlihat sebuah lorong menghubungkan menuju ke sebuah halaman. Dua buah patung naga nampak jelas menghias di kedua sisinya.

Selepas melalui pintu tersebut, sebuah tampilan taman langsung kami dapati. Beberapa pot besar terpajang di sana mengapit jalan utama menuju kolam pemandian.

Umbul Binangun adalah tujuan kami selanjutnya. Suatu kolam pemandian yang dahulunya khusus dibuat dan digunakan oleh istri, selir dan putri-putri sultan.

Kolam pemandian di kompleks ini ada tiga buah. Dinding-dinding tebal dan tinggi melindungi kolam-kolam tersebut terutama dari segi prifasi para penggunanya dahulu. Di antara kedua kolam tersebut nampak beberapa pot besar diletakkan di sana.

Dari gerbang timur, pandangan kami langsung tertuju pada dua buah kolam yang jernih di sana.

Sementara itu di seberangnya terdapat pintu gerbang lain.

Kami memutari kolam tersebut ke arah kiri hingga menemui suatu bangunan yang dulunya digunakan sebagai tempat istirahat bagi istri, selir atau putri-putri sultan.

Di sana juga terdapat bangunan tinggi semacam menara.

Di sebelah selatannya terdapat satu kolam lagi yang disebut Umbul Mancar. Kolam tersebut cukup jernih. Air mancur kecil nampak menghias di tengahnya. Sementara itu beberapa pot besar juga terdapat di sana.

Puas berada di lingkungan pemandian, kami melanjutkan langkah untuk menuju lokasi berikutnya. Melalui pintu gerbang barat dari kolam pemandian tersebut, kami tiba di sebuah taman.

Taman tersebut berbentuk segi delapan dengan beberapa pintu yang menghubungkan suatu tempat dengan taman ini.

Di ujung taman tersebut, terdapat pintu gerbang besar yang disebut Gedhong Gapura Hageng. Kondisi gapura tersebut masih cukup kokoh. Kami sempatkan untuk naik ke atas. Dari sana kami bisa melihat lingkungan sekitaran obyek wisata. Rumah-rumah penduduk yang padat nampak terlihat mengapit kompleks bersejarah ini.

Cukup puas kami di sana. Sambil istirahat dan menikmati sebotol minuman segar. Angin sore yang berhembus menghadirkan semangat baru untuk terus menjelajah kompleks wisata ini.

Tujuan kami selanjutnya adalah Lorong-Lorong Bawah Tanah. Untuk menuju ke sana kami mesti keluar lewat gerbang barat dan melalui rumah-rumah penduduk.

Setelah berjalan melewati gang-gang di area rumah-rumah warga, sampailah kami di sebuah pintu gerbang kecil. Kami langsung saja masuk ke dalamnya.

Lorong tersebut ada di bagian bawah, jadi kami mesti menuruni anak-anak tangga yang ada. Bau yang menyengat sedikit mengganggu kami. Tapi kami tetap saja berjalan menyusurinya dan ingin tahu sampai ke mana lorong tersebut berujung.

Akhirnya sampailah kami di ujung dari lorong tersebut. Melalui anak tangga keluar, kami sampailah di suatu sisi bangunan besar yang sudah mengalami kerusakan.

Udara yang berhembus terasa segar bagi paru-paru kami setelah sepanjang lorong kami menghirup bau yang kurang sedap.

Pulau Kenanga begitu nama bangunan besar tersebut. Dulunya bangunan ini digunakan sebagai tempat beristirahat dan pengintaian. Jika kita berdiri di anjungan tertingginya, niscaya keraton Jogjakarta dan sekitarnya akan terlihat. Sayangnya, bangunan ini sudah lama rusak karena gempat bumi yang beberapa kali mengguncang Jogjakarta. Meski tinggal puing-puing, namun begitu banyak wisatawan yang mendatanginya. Nampak pula di sana beberapa anak sekolah yang membuat photo perpisahan sekolah. Meskipun tinggal puing, kesan eksotisnya pun masih bisa dirasakan.

Pulau Cemeti menjadi tujuan langkah kaki selanjutnya. Kami mesti keluar dari Pulau Kenanga dan kembali menyusuri lorong-lorong bawah tanah. Kami keluar di pintu yang sama pada saat kami masuk. Kembali melalui jalanan warga, kami selanjutnya masuk melalui pintu yang telah tersedia.

Bangunan ini memiliki dua lantai. Lorong-lorong yang berbentuk melingkar menjadi akses di dalamnya. Area tersebut biasa disebut Sumur Gumuling.

Di area ini terdapat suatu ruangan dulunya digunakan sebagai masjid oleh sultan dan keluarganya. Bentuknya juga melingkar. Di area tersebut terdapat juga pintu berjeruji besi yang dari pintu tersebut langsung terlihat rumah-rumah warga.

Kami selanjutnya turun dari lokasi tersebut menuju suatu tempat yang yang memiliki empat tangga ke bagian bawah dan satu tangga ke lantai atas. Di bawah ke empat tangga tersebut dulunya terdapat kolam kecil yang digunakan untuk berwudlu.

Hmmm.. suatu bangunan yang luar biasa. Andai jika bangunan-bangunan tersebut masih untuk dan berfungsi, tentunya akan menjadi bangunan yang cukup indah.

Sore mulai hadir, waktu asharpun mulai menghampiri. Kamipun memutuskan untuk menyudahi penjelajahan kami di Pesanggarahan Taman Sari. Sungguh pengalaman yang mengesankan selama tiga hari kami di Jogja. Selain berwisata, kami juga mendapati ilustrasi gambaran kebesaran sejarah bangsa ini melalui sisa-sisa peninggalan kejayaannya.

====================================================
photo by : deddy
====================================================


Responses

  1. nuwun yo dab

    • podo2 ..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: