Posted by: deddyek | October 18, 2011

Keliling Kota Tanjung Pinang

Tanjung Pinang, sebuah kota di Pulau Bintan. Jikalau kita membuka peta, kita akan dengan mudah mendapatinya terletak di dekat Pulau Batam dan Singapura. Pernah beberapa kali diriku mencoba browsing di internet untuk sekedar tahu apa yang menarik di sana. Namun hanya sampai di situ saja, karena untuk melihat langsung masih perlu pertimbangan lebih lanjut terutama dalam hal budget .. hehehe …🙂

Hingga pertengahan Oktober 2011 datang, diriku mendapat kesempatan untuk datang ke sana. Alhamdulillah … Untuk bertemu sang istri tercinta dan bersilaturahim dengan keponakan-keponakan yang lucu. Kebetulan saat itu istri sedang mendapat amanah oleh kakak yang tengah menunaikan ibadah haji, untuk menjaga dua keponakan nan lucu itu.

Thanks to Mas Luki dan Mbak Dian yang telah bermurah hati memfasilitasi kami ke sana, untuk mengunjungi dua jagoan kecil dan tentu saja meng-explore sebagian dari keindahan dan kesemarakan kota Tanjung Pinang.

********************************

Jumat sore, 14 Oktober 2011, dengan menggunakan bus Damri diriku menuju Bandara Soetta Jakarta. Sempat sedikit was-was karena jalanan ibu kota sudah mulai macet seperti biasanya (maklumlah hari Jumat, hari terakhir sebelum weekend). Tol dalam kotapun penuh dengan kendaraan hingga membuat laju bus tersendat. Hari itu jam 17.00 mesti harus sudah check-in, sementara jam 16.00 bus masih saja belum keluar dari tol dalam kota.

Setelah berharap-harap cemas, akhirnya pukul 17.45 sampailah bus di Bandara Soetta. Diriku turun di Terminal 1B dan langsung masuk ke dalam bandara untuk check-in.

Petang itu diriku akan berangkat ke Tanjung Pinang dengan menggunakan Sriwijaya Air.

Begitu melewati pemeriksaan di pintu masuk, counter check-in langsung terhampar di hadapan. Tanpa menunggu lama, sambil membawa tas ranselku, diriku langsung check-in di counter yang tersedia. Dan… ternyata pesawat petang itu delay. Pesawat yang harusnya berangkat pukul 18.10 delay hingga pukul 20.00 dan delay lagi hingga 20.30. Untunglah dalam menunggu keberangkatan, ada satu box kue dan satu box makan malam sebagai service atas keterlambatan.

Tepat pukul 20.30, para penumpangpun mulai masuk ke pesawat. Diriku yang sudah mulai mengantukpun ikut serta. Perjalanan 1 jam 20 menit akan diriku lalui. Dalam hati berdoa, semoga perjalanan akan aman, tidak ada gangguan dan selamat sampai tujuan. Tak lupa, sms istri dulu kalau diriku sudah di pesawat.

Dan akhirnya pesawatpun take-off menembus langit malam Jakarta. Seiring kantukku yang kian tak tertahan, diriku coba untuk istirahat dan berharap segera sampai di tujuan dengan selamat.

*********************************

Tersadarku dari lelap tidur, saat informasi disampaikan oleh awak cabin jikalau pesawat sebentar lagi akan mendarat di Bandara Raja Haji Fisabilillah, Tanjung Pinang.

Waktu itu hampir menunjukkan jam 22.00 malam.

Pesawat mendarat dengan mulus dan tak lama kemudian sampailah di pemberhentiannya. Diriku dan penumpang lainnya lantas turun menyusuri tangga dan berjalan menuju pintu kedatangan. Ukuran bandara Raja Haji Fisabilillah, tidaklah besar, mungkin hampir sama dengan bandara Jambi atau Biak. Tapi bagi kota seukuran Tanjung Pinang, bandara tersebut memiliki perananan yang cukup fital bagi mobilitas warganya untuk datang dan pergi dari dan ke Pulau Bintan.

Setelah mengambil bagasi, diriku bergegas menuju pintu keluar. Dan di sana, sebuah senyum yang lama telah kunantikan hadir mengembang. Istri tercinta telah menunggu di sana. Tak lama kami di sana, kami langsung menuju rumah Mas Luki dan Mbak Dian.

*********************************

Dua hari diriku berada di sana. Selain melepas rindu dengan sang istri, bermain-main dengan keponakan, diriku berkesempatan untuk menikmati kota Tanjung Pinang dengan mengunjungi beberapa spot menarik dan tentu saja kulinernya.

Beberapa spot tersebut di antaranya :

1. Keliling tempat-tempat bersejarah di Pulau Penyengat.

2. Mengunjungi Masjid Sultan Riau di Pulau Penyengat.

3. Mengunjungi Masjid Raya Al Hikmah, Tanjung Pinang.

4. Menikmati malam di Melayu Square.

5. Menikmati damai di Pantai Trikora.

Untuk cerita detilnya, sabar dulu ya …

*********************************

Kedai kopi dengan aneka hidangan khas melayu menjadi pemandangan jamak yang diriku jumpai. Setiap pagi atau malam hari, kedai-kedai tersebut selalu ramai dengan para penikmatnya.

Dua hari berada di sana, sedikit banyak diriku dapati kekhasan dari warga Tanjung Pinang. Budaya melayu terasa mendominasi di setiap sudutnya. Bahasa melayu khas yang mereka pakai langsung mengingatkan diriku pada film anak Upin & Ipin..🙂 .. Beberapa kata yang ada dalam menu terkadang membuat diri ini mengernyitkan dahi seperti teh obeng, es kosong atau air asam. Ternyata semua itu istilah mereka atas es teh manis, es air putih dan es jeruk….🙂 ..

Di tengah kekhasan kedai-kedai melayu, masih ada juga beberapa warung tenda khas Jawa seperti Warung Pecel Ayam Lamongan. Ada juga Bakso Gunung yang ada di Batu-8, yang nampak selalu ramai oleh pengunjungnya.

Hmmm.. dua hari yang berkesan bagi diriku yang kali pertama menapakkan kaki di Pulau Bintan. Berharap suatu hari dapat ke sana kembali ..🙂

Sebelum pulang ke Jakarta, diriku sempatkan untuk mencari oleh-oleh di sekitaran Batu-8. Pilihan tertuju kepada sebuah swalayan yang bernama Pinang Lestari. Dan minggu malam itu benar-benar penuh dengan khalayak yang berbelanja di sana. Ratusan sepeda motor nampak berjajar parkir di halamannya.

Diriku dan istri masuk ke dalam swalayan tersebut menyibak kerumunan para pengunjungnya. Melihat-lihat dalam swalayan, terlihatlah bahwa aneka produk dari Malaysia dan Singapura nampak terpajang di sana. Varian yang banyak dan kemasan yang menarik menjadikannya mudah untuk dikenali. Diriku mengambil beberapa jenis kue, cracker dan coklat sebagai oleh-oleh.

**********************************

Udara pagi yang segar begitu terasa. Jalananpun masih nampak lengang. Hanya perlu sekitaran 5 menit waktu bagi istri mengantarku ke Bandara. Pagi itu pesawat dijadwalkan berangkat pukul 07.00.

Sedih terasa berpisah dengan istri tercinta. Namun di atas semua itu ada hikmah yang bisa diambil. Ada pelajaran yang insya Alloh akan berguna untuk langkah kami ke depan nanti. Ada perasaan cinta yang begitu dalam karena kerinduan. Untuk istriku yang di sana, thanx for everything, hope to see u soon honey.. luv u …🙂

Saat perasaan begitu menggelayuti, waktupun sudah memaksa diriku untuk segera masuk ke dalam ruang tunggu. Hari itu pukul 07.00 tepat, diriku balik ke Jakarta setelah menikmati dua hari yang indah di Tanjung Pinang.

====================================================
photo by : deddy
====================================================


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: