Posted by: deddyek | October 20, 2011

Keliling Tempat-tempat Bersejarah di Pulau Penyengat

Berkunjung ke Pulau Bintan tidaklah lengkap tanpa singgah di pulau ini. Sebuah pulau yang memiliki sejarah cukup bermakna. Di pulau itulah dulu kejayaan Kesultanan Riau-Lingga berdiri. Di sanalah pusat pemerintahan kesultanan dahulu dikendalikan. Sebuah pulau kecil yang menjadi daya tarik bagi mereka yang tengah berkunjung di Pulau Bintan. Sebuah pulau kecil yang konon menurut hikayat Melayu, menjadi sebuah maskawin dalam pernikahan Sultan Riau (Sultan Mahmud Marhum Besar) dengan Engku Putri Raja Hamidah (putri dari Raja Haji Fisabilillah).

Pagi itu kami (Dedi & Ayu) hendak berwisata sejarah di Pulau Penyengat.

Untuk menuju ke Pulau Penyengat, jalan satu-satunya adalah menggunakan perahu motor yang orang biasa sebut dengan Pompong. Lokasi dermaga untuk menaiki pompong tersebut berada tak jauh (berdampingan) dengan Pelabuhan Tanjung Pinang.

Menyusuri jalan kecil sesuai petunjuk arah yang ada, sampailah kami di sebuah dermaga yang lumayan panjang. Di sana kami menjumpai deretan kedai kopi dan juga tempat parkir sepeda motor. Banyak motor diparkir di sana. Hal itu karena banyak warga dari Pulau Penyengat yang bekerja di kota Tanjung Pinang.

Kami terus menyusuri dermaga hingga menemui rombongan ibu-ibu yang sedang duduk-duduk seperti sedang menunggu sesuatu. Dan ternyata mereka sedang menunggu untuk menyeberang ke Pulau Penyengat. Seorang lelaki duduk di kursi dengan meja di depannya tak jauh dari situ. Bapak itu adalah pemilik pompong yang akan membawa pengunjung ke Pulau Penyengat. Kami segera menghampirinya untuk mendaftar dua seat di pompongnya. Tarifnya cukup terjangkau, hanya Rp. 5000 per orang. Untuk berangkat, jumlah penumpang pompong minimal 15 orang. Jika mau charter mesti bayar Rp. 75000.

Sambil menunggu jumlah 15 orang terpenuhi, kami duduk-duduk di lokasi tersebut sambil melayangkan pandangan kami ke semua arah untuk melihat-lihat area sekitaran dermaga pompong.

Tak seberapa lama kemudian, jumlah kuota 15 orang pun telah terpenuhi. Dan kami semua langsung meninggalkan dermaga untuk turun menuju pompong. Waktu menunjukkan pukul 8:30, dan pagi itu ombak nampak cukup bersahabat.

Grenggggg … mesin pompong telah berbunyi. Perlahan pompong bergerak meninggalkan dermaga hingga selanjutnya melaju menyeberangi selat. Dalam perjalanan yang akan memakan waktu +/- 20 menit, kami benar-benar berusaha menikmatinya. Angin yang sepoi-sepoi sungguh terasa menyegarkan. Sementara gemercik ombak yang riaknya menghantam dinding pompong dan kadang percikannya mengenai kami, menjadikan penyeberangan kami ke Pulau Penyengat menjadi kian mengasyikkan. Mata kami juga tak henti memandang kiri dan kanan. Kami bisa melihat bagian belakang dari Pelabuhan Feri Tanjung Pinang. Kami juga bisa melihat nun jauh di sana, Monumen Haji Fisabilillah berdiri. Dan yang pasti, di depan kami, panorama lautan dengan hamparan Pulau Penyengat semakin jelas terlihat.

Menjelang pompong mendekati dermaga Pulau Penyengat, kami disajikan hamparan rumah-rumah penduduk yang berbentuk panggung, khas dari budaya Melayu. Rumah-rumah tersebut seakan-akan berjejer dan berdiri di sepanjang pulau.

Dan akhirnya sampailah kami di dermaga Pulau Penyengat. Satu persatu kami ke luar dari pompong kemudian menaiki tangga menuju dermaga. Dermaga tersebut kondisinya sangat baik. Bahkan fasilitas toiletnyapun cukup bersih. Salut pokoknya.

Satu-satunya transportasi yang dapat digunakan untuk berkeliling Pulau Penyengat adalah Bentor (Becak Motor). Dan rasanya pula tidak seru kalo kami tidak mencobanya.

Dengan membayar tarif Rp. 25000 per bentor, kamipun langsung mengawali perjalanan keliling Pulau Penyengat.

Bentor membawa kami menyusuri jalan-jalan kampung. Pulau Penyengat seakan benar-benar telah ditata sedemikian rupa untuk pariwisata. Jalanan kampung yang rapi dengan dilapisi konblok, membuat bentor mulus melaluinya.

Masjid Sultan Riau merupakan spot pertama yang dengan mudah kami jumpai. Hal itu karena Masjid Sultan Riau terlihat begitu jelas sebelum pompong merapat. Dan lokasinyapun tidak jauh dari dermaga. Namun, kami putuskan untuk mengakhirkan kunjungan kami ke masjid tersebut.

Makam-makam Sultan dan Keluarganya.

Ternyata sebagian besar dari obyek bersejarah yang ada di sana adalah komplek pemakaman sultan beserta keluarganya. Dalam perjalanan, kami diantar oleh pengemudi Bentor ke komplek pemakaman Engku Putri Raja Hamidah (permaisuri dari Sultan Mahmud Marhum Besar). Selain makam Engku Putri Raja Hamidah, di tempat tersebut juga dimakamkan Raja Ahmad (Penasihat Kerajaan), Raja Alihaji (Pujangga Kerajaan) dan Raja Abdullah IX dan permaisurinya (Raja Aisyah).

Di dalam bangunan Makam, di sana terdapat puisi-puisi karya Raja Haji Ali yang dikenal dengan Gurindam 12 terukir di dinding ruangan.

Komplek pemakaman selanjutnya adalah komplek makam YDM Riau VI Raja Ja’afar dan YDM Riau VIII Raja Ali Marhum. Komplek makam tersebut di kelilingi pagar yang tinggi.

Ada pintu gerbang masuk ke dalam komplek. Dari pintu gerbang, sebuah bangunan berwarna kuning dengan beberapa buah kubahnya ada di hadapan. Sepertinya makam para sultan tersebut ada di dalamnya.

Balai Adat Melayu Indera Perkasa

Tujuan selanjutnya adalah Balai Adat Melayu Indera Perkasa yang lokasinya menghadap pantai. Hanya jalan yang membatasinya dengan pantai. Para pengunjung Pulau Penyengat pastilah tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk berkunjung ke bangunan khas melayu tersebut. Sesuai namanya, bangunan tersebut digunakan oleh warga Pulau Penyengat sebagai Balai Adat dengan kegiatan seperti pertemuan-pertemuan atau kegiatan lain yang ada kaitannya dengan adat Resam Melayu Riau.

Di dalam Kompleks Balai Adat Melayu terdapat Balai Utama yang berukuran cukup besar serta lima buah balai kecil yang berada di kedua sisinya.

Begitu masuk ke bagian depan dari Balai Utama, kami mendapati deretan puisi-puisi Gurindam 12 dipanjang di dindingnya. Dari sini, kami bisa dengan jelas melihat indahnya pemandangan laut dengan sebuah dermaga yang panjang menjorok ke lautan.

Bagian dalam Balai Utama merupakan bagian yang tak boleh dilewatkan. Kamipun segera masuk ke dalamnya bersama beberapa pengunjung. Beberapa photo dari para sultan dipajang di dinding bagian atas. Ruang bagian dalam tersebut merupakan ruang acara pernikahan. Warga Pulau Penyengat biasanya melangsungkan pesta pernikahan di ruang tersebut. Dan bagusnya lagi, tiga buah pelaminan telah tersedia permanen di sana. Tampilannya yang ngejreng khas Melayu, tentu saja menjadikan pesta pernikahan mereka menjadi semarak. Di hari-hari biasa, ketiga pelaminan tersebut menjadi salah satu daya tarik dari Balai Adat Melayu. Hampir semua pengunjung menyempatkan diri untuk berphoto di sana. Apalagi yang datangnya bersama pasangannya. Seperti kami ini. hehehe…🙂 … Kamipun juga berphoto di sana …🙂

Di sisi kanan dari Balai Utama di sana terdapat ruangan yang digunakan sebagai kamar pengantin. Ada kamar tidur pengantin berwarna kuning dengan kelambu berwarna putih serta berbagai hiasan kain yang dipasang di dinding kamar.

Sebagaimana rumah panggung khas Melayu, Balai Adat ini juga memiliki bagian bawah. Nah, di bagian bawah tersebut terdapat mata air. Beberapa pengunjung nampak membasuh mukanya dengan air tersebut. Mungkin panasnya mentari yang sinarnya mengenai wajah terasa akan menyegarkan kembali oleh siraman air yang dingin.

Menyusuri Jalan-jalan Perkampungan

Selain beberapa obyek wisata di atas, menyusuri perkampungan dengan bentor juga menghadirkan keasyikan tersendiri. Naik bentor berduaan dengan istri tercinta rasanya menyenangkan …🙂 .. Kami serasa kian dekat …🙂 … hehehe .. tentu saja, ukuran bentornya kan kecil. Jadi untuk duduk di kursinya mesti berdempetan …🙂

Jalanan kampung nan rapi beserta rumah-rumah warga yang tertata merupakan pemandangan yang kami jumpai sepanjang perjalanan. Tak ada kendaraan lain yang kami lihat di sana selain sepeda motor dan bentor itu sendiri. Hal yang khas dari wilayah bekas kesultanan Islam Riau itu adalah papan nama-nama jalan. Selain ditulis dalam bahasa Indonesia, di bawahnya juga dituliskan dalam bentuk huruf Arab.

Masjid Raya

Masjid Raya Sultan Riau menjadi tujuan akhir perjalanan kami di Pulau Penyengat. Masjid yang berwarna kuning telor itu merupakan masjid bersejarah. Tak salah bila banyak pengunjung singgah di masjid ini. Kami sempat melihat-lihat bagian dalam dan luar masjid. Nampak beberapa pengunjung tengah beristirahat di salah satu sisi masjid. Dan tak lama pula, datanglah rombongan wisatawan asal Malaysia ke masjid tersebut. Tulisan lebih lanjut tentang masjid ini, insya Alloh akan kami sajikan di postingan selanjutnya.

**********************************************

Kami sudahi kunjungan kami di Masjid Raya Sultan Riau. Sebelum pulang kami mendapati beberapa penjual otak-otak di depan masjid. Kami memesan 10 buah otak-otak ikan dan 10 buah otak-otak pedas tulang ikan. Otak-otak khas pulau ini dibungkus dengan daun kelapa. Bau otak-otak yang dibakar terasa menggoda selera.

Sambil menunggu otak-otak selesai dibakar, kami jalan-jalan ke sekitar tempat tersebut. Di sana kami dapati sebuah papan yang dipasang yang berisikan peta wisata Pulau Penyengat.

Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00. Setelah mengambil otak-otak yang kami pesan, beranjaklah kami dari tempat itu menyusuri Jalan Pelabuhan menuju dermaga. Sama seperti kami berangkat, balik ke Tanjung Pinang pun mesti menggunakan pompong. Setelah menunggu sekitar 15 menit, kuota penumpang telah terpenuhi. Maka segeralah kami turun menuju pompong.

Siang itu, ombaknya tidak sebaik pada waktu berangkat. Beberapa kali terpaan ombak mengenai pompong. Dan percikannya yang deras membasahi baju kami. Oleh beberapa penumpang, terpal penutup yang ada mulai diturunkan untuk melindungi penumpang dari percikan ombak yang kian deras.

Akhirnya sampailah pula kami di dermaga Tanjung Pinang. Sekitaran 20 menit pompong melaju membawa kami dari Pulau Penyengat ke Tanjung Pinang. Benar-benar perjalanan yang mengesankan bagi kami. Kami menjadi tahu bahwa di Pulau Penyengatlah dahulu pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Riau – Lingga. Kami juga melihat bahwa kebudayaan khas Melayu masih begitu terjaga di sana.

Alhamdulillah …

====================================================
photo by : deddy
====================================================


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: