Posted by: deddyek | October 21, 2011

Masjid Raya Sultan Riau – Pulau Penyengat

Masjid Raya Sultan Riau merupakan obyek terakhir jalan-jalan kami di Pulau Penyengat. Dari jalanan tepian pantai saat menuju ke dermaga atau Pelabuhan Tanjung Pinang, jikalau kita melihat jauh ke seberang, Pulau Penyengat akan kita lihat di sana. Dan bentuk bangunan berwarna kuning telor dengan jelas kita bisa melihatnya. Sebelum masuk ke Pulau Penyengat, tampilan masjid inilah yang menjadi tandanya. Menaranya yang tinggi seakan mengabarkan di sanalah keberadaannya.

Bentor mengantarkan kami di persinggahan terakhir dalam tour kali ini. Tepat di depan pintu gerbang masjid bentorpun berhenti. Kami lantas turun dan melangkahkan kaki menuju gerbang masjid. Masjid tersebut berdiri di atas tanah yang lebih tinggi sehingga untuk ke sana, kami harus melalui anak tangga yang ditempatkan di tengah-tengah gerbang. Sebuah lengkungan berhiaskan ornamen khas melayu dengan tulisan arab berlafaz Masjid Sultan Riau yang berada di bawahnya dan tulisan Masjid Raya Sultan Riau Penyengat menghias di sana.

Masuk ke halaman masjid, kami mendapati bangunan utama yang merupakan ruang sholat ada tepat di depan kami. Sementara itu di sisi kanan dan kiri terdapat bangunan semacam balai yang terbuat dari kayu. Bangunan tersebut disebut sebagai Rumah Sotoh yang fungsi sebagai tempat pertemuan. Selain itu masih ada beberapa bangunan yang ada di sana seperti bangunan semaacam perpustakaan atau kantor serta dua tempat wudlu. Semua itu berada dalam areal seluas 54,5 x 23,5 meter.

Sebelum masuk ke masjid, kami beristirahat sejenak di serambinya. Nampak beberapa pengunjung sedang beristirahat di situ juga.

Dibangun oleh Sultan Mahmud pada tahun 1803 kemudian direnovasi oleh YDM Riau VII Raja Abdul Rahman pada tahun 1832, masjid bersejarah ini benar-benar masih seperti bentuk aslinya. Konon menurut sejarah, masjid ini dibangun dengan menggunakan telur, kapur, pasir dan tanah liat.

Sesuai informasi yang ada, masjid ini memiliki ukuran 20 meter panjang dan 18 meter lebar dengan ditopang oleh 4 buat tiang beton. Pada tiap sudut bangunan terdapat 4 buah menara tempat di mana bilal mengumandangkan adzan. 13 buah kubah berbentuk bawang ada di bagian atas masjid. Sehingga jumlah keseluruhan kubah dan menara adalah 17 sebagai simbol dari 17 raka’at sholat fardlu dalam sehari.

Beranjak ke bagian dalam, kami mendapati empat buah beton besar yang dibentuk semacam lengkungan berdiri di tengah-tengah untuk menopang bangunan masjid. Sebuah serambi berornamen khas melayu ada di bagian depan mihrab. Menurut pengurus masjid, mihrab tersebut adalah asli dari dulunya.

Di antara serambi dan ruang sholat terdapat dua buah mushaf Al Quran tulisan tangan dari masa kesultanan. Mushaf tersebut merupakan hasil goresan tangan dari Abdurrahman Stambul. Beliau adalah penduduk Pulau Penyengat yang dikirim oleh Kesultanan Linggau untuk ke memperdalam ilmu agama Islam di Mesir. Sekembalinya dari belajar, beliau menjadi guru yang terkenal khat gaya Istambulnya. Mushaf Al quran tersebut selesai disusun pada tahun 1867.

Oh ya .. untuk bagian dalam masjid termasuk mushaf al quran, kami tidak mengambil photo-photonya dikarenakan terdapat larangan untuk mengambil gambar di dalam masjid Sultan Riau.

====================================================
photo by : deddy
====================================================


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: