Posted by: deddyek | November 15, 2011

Masjid Raya Al Bantani di KP3B Serang

Masjid Raya Al Bantani merupakan masjid terbesar dan termegah di wilayah Banten. Masjid ini merupakan Masjid Provinsi. Letaknya berada di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi (KP3) Banten. Tepatnya di daerah Palima, Kecamatan Curug, Kota Serang, Provinsi Banten.

Masjid ini dibangun dengan menghabiskan dana +/- Rp. 94.3 M. Pembangunannya dimulai sejak Januari 2008. Akhirnya pada tanggal 04 Oktober 2010, masjid ini diresmikan oleh Gubernur Banten Ratu Atut Choosiyah.

Selanjutnya masjid ini diberi nama resmi Masjid Raya Al Bantani. Al Bantani merujuk kepada nama ulama Banten yang terkenal, yang menjadi imam di Masjid Al Haram, Mekah, Saudi Arabia yaitu Syaikh Nawawi Al-Bantani. Hal ini adalah sebagai penghormatan kepada beliau.

Dan siang itu diriku hendak menuju ke sana.

Angkot dari Karangantu membawaku hingga turun di sebuah pertigaan. Menurut pengemudi angkot, untuk menuju kawasan Alun-alun/Ramayana mesti turun di lokasi tersebut. Lalu dari lokasi itu pindah angkot biru yang akan mengantarkan ke kawasan Alun-alun kota Serang. Dirikupun mengikuti saran itu. Hingga akhirnya diriku sampai di depan alun-alun kota Serang.

Saat itu waktu menunjukkan pukul 12:45. Panasnya siang telah berganti dengan mendung.

Tidak ada angkutan untuk langsung menuju lokasi Masjid Raya Al Bantani. Dari seberang alun-alun atau depan Ramayana, diriku mesti naik angkot jurusan Cilegon dan turun di perempatan Kebun Jahe. Angkot tadi akan berbelok ke kanan menuju arah Cilegon, sedangkan diriku mesti menuju arah lurus ke arah Jl. Raya Serang – Pandeglang.

Selanjutnya diriku naik angkot yang akan lewat perempatan Palima. Ada beberapa angkot yang menuju ke sana. Ada yang berwarna biru, hitam dan kuning. Sebelum sampai di Palima, tampilan menara masjid tersebut telah terlihat di kejauhan.

Dari perempatan Palima, untuk menuju lokasi KP3B tidak ada angkutan umum yang tersedia. Ojek adalah satu-satunya. Cukup dengan membayar Rp. 5000, diriku diantarkan untuk menuju lokasi.

Menyusuri jalan Palima, diriku menjumpai tampilan kompleks kawasan Pemprov Banten yang begitu luas. Sebuah gerbang besar ada di sana. Dirikupun lalu diantar masuk melalui pintu gerbang tersebut.

BAGIAN LUAR MASJID

Melewati jalanan kawasan yang luas, tampilan Masjid Raya Al Bantani langsung terlihat di depan. Benar-benar masjid yang megah dan besar.

Masjid ini setidaknya memiliki dua pintu gerbang. Salah satunya pintu timur yang sepertinya menjadi gerbang utama. Sayang, siang itu tidak dibuka.

Oleh tukang ojek kemudian diantar hingga gerbang selatan. Nampaknya pintu masuk hari-hari biasa adalah melalui gerbang tersebut. Terbukti gerbang tersebut dibuka dan nampak beberapa kendaraan tengah datang serta beberapa orang memasuki masjid.

Memasuki areal masjid, diriku menjumpai begitu luasnya halaman masjid tersebut. Dengan total luas area 2.8 hektar, halaman masjid ini tentu cukup untuk menampung ratusan kendaraan yang parkir di sana. Bahkan puluhan ribu orang dapat tertampung saat melaksanakan sholat ied di halaman tersebut.

Salah satu daya tarik masjid ini terletak pada keempat menaranya. Berada di keempat sudut banguan masjid, menara tersebut berdiri tegak nan tinggi. Menara tersebut khas akan corak timur tengahnya. Beberapa ornamen dengan paduan warna krem dan putih nampak mendominasi di sana.

Masjid ini memiliki sebuah kubah besar di bagian paling atas dengan ditemani empat buah menara kecil.

Masih di halaman masjid, diriku dapati di sana beberapa koridor luar yang menghubungkan halaman dengan serambi.

Pada saat diriku berada di depan gerbang timur, terlihat sebuah bedug berada di depan pintu masjid.

Dari areal sisi bagian selatan, diriku langsung masuk menuju ruang serambi. Sebelum masuk ruang serambi terlihat di sana sebuah bangunan seperti pendopo laksana menyambut setiap jamaah yang datang.

Sebuah fasilitas penitipan sepatu nampak ada di sana. Tak jauh dari tempat itu, terdapat denah dari masjid ini yang menunjukkan beberapa bagian masjid seperti ruang sholat, ruang wudlu, dll.

Mengikuti petunjuk arah mengantarku pada sebuah tangga untuk menuju ruang wudlu. Ruang wudlu masjid ini benar-benar bersih dan nyaman.

Selepas mengambil air wudlu diriku kembali ke atas, ke ruang serambi. Serambi masjid ini berada di sekeliling ruang sholat utama. Tiang-tiang besar berwarna krem berpadu dengan lengkungan-lengkungan khas timur tengah berwarna putih, menghadirkan keselarasan tersendiri. Kesan sederhana tapi elegan. Ditambah lagi, kehadiran lantai marmer yang melingkupi seluruh area serambi, menjadikan tampilan masjid ini kian indah dan meneduhkan.

Dari ruang serambi ini terdapat banyak pintu untuk masuk ke dalam ruang sholat utama. Pintu-pintu tersebut berukuran besar dan berada di sisi selatan dan utara.

BAGIAN DALAM MASJID

Melalui salah satu pintu masuk, sampailah diriku di bagian ruang sholat utama dari Masjid Raya Al-Bantani. Terlihat beberapa orang tengah sholat dzuhur di sana. Sedang diriku berjalan menuju tempat tertentu untuk sholat tahiyyatul masjid di sana.

Selepas sholat, diriku coba menikmati tampilan interior masjid tersebut. Suasana masjid yang sepi siang itu memudahkanku untuk mengambil beberapa photo dari bagian dalam masjid ini.

Ruang sholat masjid ini berbentuk oktagonal dan terlihat begitu luas karena tidak adanya pilar-pilar penyokong di tengahnya. Karpet-karpet tebal berwarna merah digelar di sana membentuk barisan shof sholat yang rapi. Menurut informasi yang ada, sekitar 10,000 jamaah dapat ditampung pada area +/- 5000 m2 ini.

Pada sekeliling dinding, terdapat pilar-pilar yang dipasang pada jarak tertentu. Ornamen lengkungan bersambung menghubungkan masing-masing pilar.

Pada bagian bawah dari lengkungan tersebut terdapat ornamen kayu kaligrafi ayat al-Qur’an yang membentuk semacam jendela lengkung.

Sedang pada bagian atas dari lengkungan tersebut tampak adanya ornamen garis serta kaligrafi ayat-ayat al-Qur’an. Dan pada bagian paling atas dipasang kaca-kaca patri yang indah.

Beranjak ke bagian depan yaitu di sisi mihrab, terlihat jelas aneka ornamen kayu terpasang di dindingnya. Bentuk ornamen lengkungan berwarna putih tidak ketinggalan menghias di sana.

Masih di dalam mihrab, sebuah mimbar kayu diletakkan di sisi kanannya. Mimbar kayu tersebut kaya akan ornamen berbentuk ukiran khas seperti masjid-masjid lainnya di Indonesia. Terdapat beberapa anak tangga untuk sampai ke tempat duduk khotib di dalamnya.

Selanjutnya, berpindah pada bagian belakang (sisi timur) dari ruang sholat utama, terlihat di sana tampilan lantai sholat bagian atas. Lantai ruang tersebut seolah menggantung sehingga bagian bawahnya bisa digunakan untuk sholat juga. Beberapa pilar nampak berdiri tegak untuk menopang lantai tersebut.

Untuk menuju ke lantai atas, dua buah tangga telah tersedia masing-masing di bagian ujung belakang dari ruang sholat utama.

Di lantai atas ini sering digunakan pada waktu sholat jumat untuk menampung jamaah yang tidak muat di ruang sholat lantai dasar. Ukurannya cukup luas dan mampu menampung ribuan jamaah.

Lantainya berlapiskan marmer yang mengkilap. Sedangkan sebagai garis pembatas antar shof sholat dipasanglah marmer yang berwarna gelap.

Melihat ke atap bagian dalam masjid ini, diriku menjumpai begitu banyak besi-besi yang berfungsi sebagai penopang atap. Sebagaimana masjid-masjid besar lainnya, selain untuk penerangan, untuk menambah nilai keindahan bagian dalam masjid maka dipasanglah di sana lampu kristal berukuran besar. Lampu tersebut digantungkan pada bagian tengah dari atap masjid.

******************

Hmmm… sudah setengah jam lebih diriku berada di Masjid Raya Al Bantani. Waktu sudah menunjukkan pukul 14:10. Menimbang masih ada satu masjid lagi yang diriku ingin kunjungi, akhirnya diriku keluar dari masjid untuk melanjutkan perjalanan.

Siang itu rintik hujan mulai turun. Menyusuri sepinya jalan di kawasan KP3B, diriku berharap menemukan tukang ojek untuk mengantarku kembali ke Palima. Namun setelah melihat kenyataan bahwa tak ada tukang ojek di sana, mau tidak mau diriku mesti berjalan kaki menuju Palima. Menyusuri jalan Palima yang lebar, sambil berharap ada angkot atau tukang ojek yang lewat, perlahan-lahan membawaku jauh meninggalkan KP3B. Sekitar 2 km jarak menuju perempatan Palima.

Kaki sedikit agak lelah saat diriku sampai di perempatan Palima. Beruntunglah angkot menuju Kebon Jahe telah datang. Langsung saja diriku naik angkot tersebut. Dan dalam sekejap melajulah angkot menuju arah yang kutuju.

Alhamdulillah. Senang sekali rasanya berkesempatan untuk melihat Masjid Raya Al Bantani. Meski lumayan melelahkan perjalanannya, tapi itu semua sebanding dengan keindahan sebuah masjid yang telah diriku singgahi.

====================================================
photo by : deddy
====================================================


Responses

  1. Subhanallah sungguh masjid yang sangat megah, mohon bantuan untuk memberi link juga ke masjid jami al-muttaqien yang kami miliki di Jl. Raya palka RT/RW 03/III kampung kopibera desa/kec. cinangka, serang – banten

    Masjid Jami Al-Muttaqien

    Terimakasih Banyak


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: