Posted by: deddyek | December 13, 2011

Jalan-jalan ke Singapura (Bagian Kelima)

Kami telah meninggalkan Pulau Sentosa dan berada Vivo City. Malam nanti kami akan kembali ke Jakarta dengan menggunakan Air Asia. Berhubung jadwal keberangkatan masih sekitar 6 jam lagi, kami berdua hendak menghabiskan waktu di kawasan Bugis. Sebenarnya istri ingin untuk melihat-lihat kawasan Orchard. Namun setelah dipikir-pikir waktunya terbatas, maka jalan-jalan ke kawasan Bugis merupakan pilihan yang pas. Selain karena mudahnya akses MRT baik ke atau dari lokasi itu, di sana terdapat tempat yang menjual aneka souvenir dan oleh-oleh dengan harga yang cukup terjangkau.

Siang itu kami melalui rute Harbour Front —> Outram Park (NE Line). Kemudian kami transit untuk menaiki MRT EW Line dari Outtram Park —> Bugis.

Sekitar pukul 14:00 kami sampai di Stasiun Bugis. Tujuan pertama kali di sana adalah Masjid Sultan. Sebuah masjid yang cukup terkenal dan bersejarah di Singapura. Kami hendak menuju ke sana untuk sholat dzuhur.

Ada dua pintu keluar di Stasiun Bugis. Pintu pertama menuju ke Bugis Junction sedang pintu kedua menuju Halte Bus Kota. Untuk menuju Masjid Sultan lebih baik keluar menuju Halte Bus Kota.

Sesampai di Halte Bus Kota, kami memperhatikan peta wisata yang ada di sana. Setelah memperhatikan letak Masjid Sultan dalam peta tersebut serta bertanya kepada seorang warga Singapura tentang masjid itu, kami akhirnya mendapatkan gambaran ke mana kami mesti melangkah.

Kami melalui sebuah jalan yang berada di samping Raffles Hospital hingga sampai North Bridge Road. Sesampai di sana, Parkview Square terlihat di depan kami. Kami lantas belok ke kiri menyusuri North Bridge Road. Tak sampai sepuluh menit kami berjalan, terlihatlah dari jauh tampilan sisi belakang dari masjid Sultan. Kami merasa senang sekali melihat masjid yang telah lama kami ingin kunjungi.

Sementara itu, gerimis mulai turun. Awan putih terasa penuh di langit Singapura siang itu. Sebelum ke masjid itu, istri mengajak istirahat sejenak sambil duduk-duduk di sekitaran jalan itu. Melihat air minum kami telah menipis, diriku sempatkan untuk membeli dua botol air mineral di sebuah toko yang ada tak jauh di situ.

Gerimis sepertinya mulai berubah menjadi hujan. Halilintar mulai bergumuruh di angkasa. Sambil mempercepat langkah, kami bergerak menuju Masjid Sultan. Sampai di sana, kami lantas masuk melalui pintu belakang.

Benar juga.. hujan pun turun dengan lebat. Alhamdulillah.. Kami bersyukur sekali telah berada di sana.

Setelah meletakkan barang-barang bawaan kami di dalam masjid, kami segera menuju tempat mengambil air wudlu. Karena lokasi tempat itu terpisah dengan bagunan Masjid, maka perlu sedikit berhujan-hujan untuk menuju ke sana.

Siang itu kami menunaikan sholat dzuhur di sana.

Hujan kian deras. Kami putuskan untuk tetap di Masjid Sultan hingga hujan reda. Sekaligus menunggu waktu ashar tiba. Sambil menunggu waktu, kami berkeliling di bagian dalam masjid sambil mengambil beberapa photo.

Dan waktu asharpun tiba. Kami lantas menunaikan sholat ashar berjamaah di sana. Selepas ashar, hujan sepertinya mulai reda. Meski rintik-rintik gerimis masjid ada, kami sempatkan berjalan ke luar masjid untuk mengambil beberapa photo bagian eksteriornya.

Lima belas menit kemudian, kami meninggalkan Masjid Sultan. Dengan melalui jalan yang sama saat kami datang, sampailah kami di halte bus kota di mana sebelumnya kami singgahi.

Masih di tengah gerimis, kami kemudian berjalan menyusuri Victoria Street. Sore itu kami hendak menuju Bugis Street.

Bagi wisatawan, Bugis Street merupakan tempat favorit untuk belanja oleh-oleh. Selain harganya cukup terjangkau, variannya cukup banyak. Lokasinya berada di seberang Bugis Junction.

Untuk menuju ke sana, kami mesti menyeberangi beberapa jalan yang ada di sebuah perempatan. Setelah menyeberang di sisi Bugis Junction, kami lantas menyeberang hingga sampai di depan Bugis Village. Dan tak jauh darinya, Bugis Street ada di sana.

Bugis Street dulunya merupakan Pasar Malam yang bertempat di lokasi yang sekarang berdiri stasiun MRT Bugis. Setelah dihancurkan demi pembangunan stasiun MRT tersebut, para pedagang kemudian direlokasi pada lokasi yang ada sekarang ini. Tempat tersebut selanjutnya dikembangkan sedemikian rupa tanpa meninggalkan kesan pasarnya. Dengan jumlah kios yang mencapai +/- 800 buah, saat ini Bugis Street menjadi salah satu icon pariwisata di negeri Singa ini.

Bersama begitu banyak pengunjung, baik yang datang dari arah kami, dari arah sebaliknya ataupun dari arah Bugis Junction, kami masuk ke dalam pasar tersebut.

Kesan pertama yang kami dapati adalah suasana ramai dan berdesakan seperti pasar-pasar di Indonesia. Para pengunjung yang datang dan yang pergi, mesti melalui lorong yang menjadi satu-satunya akses yang ada. Maka tak heran gerak pengunjung begitu pelan untuk melangkah dari satu tempat ke tempat lainnya. Apalagi bagi kami yang membawa travelling bag plus aneka barang di atasnya. Tak jarang, roda travelling bag kami tersangkut di kaki pengunjung yang lain.

Kami mesti berjalan satu-satu. Istri berada di depan sebagai pemandu. Sementara diriku yang menarik travelling bag.

Gantungan kunci merupakan yang pertama kali buru. Dari satu kios ke kios lain kami amati harganya relatif sama. Rata-rata SGD 10 untuk 18 buah. Kurang dari Rp 4000 per buahnya.

Selain menjual gantungan kunci, biasanya kios-kios tersebut juga menjual aneka pernak-pernik seperti piring, topi, gelas, dan lain-lain yang semuanya itu diberi atribut Singapura.

Selepas membeli gantungan kunci, langkah kami berlanjut untuk mencari beberapa dompet. Di salah satu kios kami mendapati begitu banyak varian dompet yang dijual di sana. Harganya pun cukup variatif. Mulai dari SGD 5 s/d SGD 20. Dan beberapa dompet akhirnya masuk ke dalam tas kami.

Selain gantungan kunci dan dompet, kami juga mendapatkan aneka kaos dengan gambar simbul-simbul Singapura. Setelah melihat-lihat di beberapa kios yang ada, kamipun membeli beberapa kaos untuk para keponakan.

Selanjutnya diriku mengikuti istri yang tengah mencari-cari sandal untuknya. Beberapa kios kami masuki. Hingga akhirnya sebuah sandal yang cocok baik model maupun harga kami dapati. Sandal itupun kemudian masuk juga ke tas kami.

Mungkin kami belum sampai menjelajahi setengah dari area Bugis Street. Belum lagi bagian lantai duanya. Namun karena waktu sudah menunjukkan pukul lima sore lebih, sementara kami mesti check-in jam 18:00, maka kamipun mengakhiri jalan-jalan di Bugis Street.

Pengunjung masih saja berdatangan saat kami hendak keluar dari tempat itu. Setenteng belanjaan menjadi tambahan atas beberapa tas yang kami bawa. Tapi tak apalah, mumpung lagi di Singapura. Paling-paling kena over bagasi di bandara nanti ..🙂..

Kami telah berada di Stasiun MRT Bugis setelah melalui jalan yang sama untuk kembali dari Bugis Street. Tak lama kemudian MRT EW Line pun datang. Kami segera langsung masuk ke dalamnya. Lumayan ramai penumpang sore itu.

Sampai di Stasiun Tanah Merah, kamipun keluar dari MRT. Tujuan berikutnya adalah Bandara Changi. Kami juga tidak menunggu lama di sana. MRT menuju Changipun datang. Tak seperti MRT sebelumnya, MRT menuju bandara ini relatif lengang. Nampaknya hanya mereka yang menuju Bandara yang mendominasi di dalamnya. Mereka terlihat dari beberapa tas koper, travelling bag, ransel, dll yang menyertainya.

Sesampai di Changi Airport, kami lantas menuju ke stasiun Skytrain di Terminal 3. Dari sana kami naik Skytrain hingga sampai di Terminal 1.

Suasana ramai di Terminal 1 begitu terasa. Hari minggu sore atau malam merupakan waktu dan hari favorit bagi orang-orang untuk meninggalkan Singapura.

Kami segera melangkah menuju counter Air Asia. Antrian petang itu terlihat begitu padat. Karena belum check-in, maka kami berbagi tugas. Diriku check-in secara online di counter paling ujung, sementara istri mengantri bagasi.

Setelah check-in online, diriku segera menghampir istri yang masih mengantri. Hanya beberapa meter saja antrian bergerak. Sekitar setengah jam di sana hingga tiba giliran kami. Setelah ditimbang, sesuai perkiraan kami, kami mesti membeli tambahan bagasi.

Counter paling ujung dari deretan counter Air Asia menjadi tempat pembelian bagasi. Kami lantas menuju ke tempat untuk menyelesaikan urusan bagasi.

Kaki kami sudah terasa sedikit pegal. Kami putuskan untuk istirahat sejenak sambil menikmati air mineral yang tersisa.

Menuju pintu imigrasi adalah aktifitas selanjutnya. “Duit sudah habis, ayo-ayo mudik..”🙂 .. Begitu canda petugas keamanan di pintu imigrasi. Kami hanya tersenyum saja sambil melangkah. Setelah mengantri sejenak, passport kamipun lantas mendapat cap keluar dari imigrasi Singapura.

Kami tak ingin buru-buru menuju gate keberangkatan. Kami sempatkan jalan-jalan sejenak menikmati suasana di Terminal 1.

Hingga rasa laparpun mulai datang. Kami kemudian beranjak menuju Food Court di lantai atas dari Terminal 1. Alhamdulillah, kami dapati tanda halal dari Majelis Ulama Singapura di hampir semua outlet makanan. Malam itu kami memilih menu cepat saji. Dua buah ayam goreng spicy, kentang goreng dan softdrink, menjadi menu santap malam kami.

Makan malam telah usai, dan badan kami kembali segar lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lebih. Karena lokasi gate keberangkatan cukup jauh, tepatnya paling ujung dari seluruh gate di Terminal 1, maka kami putuskan untuk mulai melangkah menuju gate tersebut.

Dengan menggunakan beberapa travelator dan kadang jalan kaki, perjalanan yang jauh itu terasa tidak melelahkan.

Sesampai di sana … ternyata pesawatnya delay dua jam. Meski sedikit kesal, karena kami sudah buru-buru untuk cepat sampai di bandara, tapi apalah daya. Kami memang mesti menunggu lagi.

Kami lantas mencari tempat duduk yang agak kosong. Kami menyelonjorkan kaki di sana. Bahkan diriku sempatkan rebahan. Siapa tahu bisa tidur barang setengah jam.

Jam sepuluh lebih, gate baru dibuka. Bersama penumpang yan lain, yang sama-sama terkantuk-kantuk, kami beranjak untuk masuk ke dalamnya. Untunglah ada komputer dengan internet gratis di sana. Sambil menunggu pesawat, diriku sempatkan bermain internet sebentar untuk membaca berita atau buka email.

Sekitar pukul setengah sebelas malam, kami diminta masuk ke dalam pesawat. Kami melangkah cepat-cepat agar dapat lekas duduk dan istirahat di dalamnya. Karena kami tidak membeli tempat duduk, maka tempat duduk kamipun berpisah. Istri berada dua baris di depanku. Tak apalah, yang penting sampainya sama ..🙂.

Dan pesawatpun lepas landas. Lelah dan kantuk membawa kami pulas tertidur di sepanjang perjalanan. Hingga tak terasa, pesawat hendak mendarat di Bandara Soetta.

Malam kian larut, namun kerlap-kerlip lampu dari rumah-rumah penduduk ataupun gedung-gedung di Jakarta terasa memberi kesan yang dinamis. Berbeda dengan Singapura yang tertata rapi dan penuh keteraturan, Jakarta masih belum lepas dari kesemrawutan dan segudang permasalahan ada di dalamnya. Tapi di sanalah kami berada. Di sanalah hidup kami sebenarnya. Di tanah yang kami cinta padanya.

Pukul 00:30, pesawat yang kami tumpangi mendarat. Alhamdulillah. Kami sampai dengan selamat.

*****************************

Laju taksi nan kencang menembus malam dengan begitu tenang. Laksana tenangnya hati ini dengan kekasih tercinta ada di sisi. Hanya kalimat syukur yang bisa terucap.

========================================================
photo by : deddy
========================================================


Responses

  1. assalamualaikum…… mas..mau tanya doong…. aku lagi cari info tentang port moresby.. pernah jalan – jalan kesana ya?…. suasana nya seperti apa ya?.. bener gak sih seseram yang diceritakan orang?..banyak kekerasan, gak aman … dsb… katanya banyak penyakitjuga ya?… kira 2 kalau mau ke sana kita butuh vaksin tertentu gak?…. maksih banyak ya mas….

    • wa’alaykumussalaam. terakhir ke sana awal 2010 mbak. sebenarnya sih suasananya biasa aja. yang penting kalo jalan-jalan sebaiknya ditemenin oleh penduduk lokal. mereka sebenarnya lumayan ramah kok namun karena kondisi ekonomi yang tidak bagus, kejahatan masih banyak di sana seperti penodongan, pencurian, dll. samalah seperti di jakarta menjelang akhir 90-an.

      selama in yang digembar-gemborkan sih mengenai vaksin malaria saja. tapi sekarang kondisinya sudah lebih baik.

  2. Mas, rencananya tgl 4-6 may kami bertiga(saya dan istri serta anak usia 5 tahun) akan brkt ke singapore; tgl 4 pesawat jam 5.30 pagi sampe singapore jam 8.20 pagi waktu singapore; pulang tgl 6 jam 21.00 waktu singapore; apakah mas bisa bantu buatkan ittenary yg murah meriah; kami blm pernah datang ke singapore; kami menginap di landmark village bugis dan rencananya gak masuk ke USS krn anak kami masih kecil; mhn bantuannya, ditunggu yah mas

    • wah menginap di bugis area merupakan pilihan yang pas mas. jadi mudah kemana-mana.
      yang penting punya peta MRT singapore mas. Transportasi dengan MRT jauh lebih murah dari pada taksi. Dan yang utama tentu saja lokasi-lokasi spot wisata, berada di lokasi dekat dengan stasiun MRT.

      oh ya untuk memudahkan dalam bertransportasi, mas sekeluarga bisa membeli kartu pintar. Di bandara Changi ada kok mas. Tinggal di isi berapa nanti.

      Gambaran Itenerary saya email ya mas. Semoga bermanfaat.

  3. Airasia memang masih juara untuk harga penerbangan murah ke singapore…tapi memang harus direncanakan dari jauh2 hari.
    Untuk tempat jalan-jalannya ke Universal Studio Singapore aja, bener-bener melengkapi seluruh perjalanan ke Singapore.

    Untuk Tiket Universal Studio murahnya :
    Tiket dewasa 510ribu/tiket ; Anak-anak 450ribu/tiket….untuk cara belinya dan rekomendasi tempat makannya…bisa dilihat di thread kaskus ane Gan disini : http://goo.gl/00exG4
    Pin : 766AFBCA
    Whatsapp & LINE : +6287792187798

  4. Asiknya jalan-jalan ke singapura itu karena dekat, jadi bisa bolak-balik

  5. kapan ya bisa jalan-jalan ke singapura…hiks..hiks..

  6. bugis street memang tempat belanja untuk oleh-oleh
    informasi menarik terima kasih

  7. kapan bisa jalan2 ke singapura🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: