Posted by: deddyek | February 8, 2012

Museum Bank Indonesia Bagian 1

Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa Kawasan Kota Tua Jakarta sebagai tempat berwisata yang sangat menarik. Tak perlu banyak biaya yang diperlukan untuk dapat menikmati pesonanya. Beberapa bangunan tua yang telah berdiri ratusan tahun lamanya, seakan mengajak pengunjungnya untuk meneropong balik ke masa lalu. Dengan dijadikannya bangunan-bangunan itu sebagai museum, pengunjung benar-benar disuguhi suatu wisata yang dapat menambah wawasan akan sejarah bangsanya.

Di antara beberapa museum yang ada, aku dan istri tercinta pagi itu hendak menjelajahi Museum Bank Indonesia.

Dengan menggunakan KRL dari Bogor tujuan Jakarta Kota, lokasi museum cukup mudah di akses. Keluar dari stasiun Kota lewat pintu selatan, kemudian berlanjut dengan jalan kaki menyusuri under-pass yang ada, sampailah kami di Jl. Pintu Besar Utara.

Di sisi jalan tersebut terdapat dua bangunan besar yang berdiri bersampingan. Museum Bank Mandiri ada di bagian paling selatan. Sedangkan disebelahnya berdirilah dengan megah Museum Bank Indonesia.

Langkah kaki kami membawa kami sampai di depan sebuah bangunan yang cukup besar ukurannya. Arsitektur khas Eropa begitu jelas terlihat. Bentuknya begitu mengesankan meski usianya sudah ratusan tahun. Warna putih yang menyelimuti seluruh dindingnya, kian menghadirkan tampilan yang elegan.

Bersama puluhan pengunjung yang lain, kami masuk ke halaman bangunan museum. Kami terus berjalan ke arah lobi yang menjadi pintu utama untuk menuju ruang bagian dalam dari museum.

Begitu memasuki pintu, pandangan kami tertuju pada ruangan yang berada di bagian atas. Di sana langsung tersajikan tampilan interior dari museum nan menawan. Pilar-pilar berlapiskan marmer hitam terlihat kokoh berdiri untuk menopang atap yang berbentuk lengkungan. Perpaduan warna putih (dari atap dan dinding) dan hitam (dari pilar-pilarnya) terasa begitu indah di pandang mata.

Kami lantas melangkah melewati anak tangga untuk menuju ruangan tersebut.

Sesampai di sana, kami mesti menitipkan tas di tempat penitipan yang telah disediakan. Memang begitulah peraturan yang ada di sana. Kamera boleh kok untuk di bawa, hanya saja blitznya harus dimatikan.

Beranjak dari lokasi tersebut, kami lantas masuk melalui sebuah pintu yang tidaklah begitu besar. Pintu itu langsung menuju ruangan Kas-en Wissel Afdeeling (atau ruang transaksi tunai).

Sebuah ruangan yang cukup luas dan tinggi menghampar di depan mata. Tampilan interiornya terlihat memadukan gaya modern dan klasik.

Di bagian tengah dari ruangan ini terdapat counter pendaftaran pengunjung museum. Sebelum menikmati isi museum, kami mesti datang ke sana. Yang kami lakukan hanyalah menulis identitas pada buku yang telah disediakan. Dan selanjutnya, kami mendapatkan tiket masuk museum yang diberikan secara cuma-cuma.

Sesuai namanya ruangan ini dulunya digunakan untuk melakukan transaksi keuangan secara tunai. Deretan ruang kasir berbentuk kamar yang digunakan sebagai tempat transaksi masih ada di sana. Kamar tersebut berbentuk ruangan kecil yang berdindingnya teralis. Sebuah meja dan kursi kecil terletak di dalamnya.

Masih di dalam ruangan Kas-en Wissel Afdeeling, ditampilkan di sana prasasti peresmian museum ini oleh Presiden SBY. Di belakangnya terdapat photo-photo kegiatan peresemian yang dipajang di dinding.

Museum ini telah dua kali diresmikan yaitu soft-opening pada 15 Desember 2006 oleh Burhanuddin Abdullah (Gubernur BI kala itu) dan grand-opening pada 21 Juli 2009 oleh President SBY.

Ini hanya pembukaaan dari wisata kami di Museum Bank Indonesia. Penjelajahan yang sebenarnya baru akan kami mulai setelah kami memasuki pintu yang berada di sisi paling utara dari ruangan ini.

Aneka koleksi yang ada di dalam museum ini ditampilkan dalam tema-teman tertentu yang disesuaikan dengan jaman atau era sejarah keberlangsungan perbankan di Indonesia, mulai dari jaman Belanda sampai sekarang ini. Beragam koleksi uang kertas dan koin dari beragam masa juga tersimpan di dalamnya. Dan masih banyak lagi sesuatu yang menarik yang bisa dilihat di dalam museum terbaik di negeri ini.

Kesan Pembuka

Kami telah memasuki pintu masuk. Sebuah ruangan gelap terlihat di depan. Bersamaan dengan itu udara sejuk mengalir dari AC yang terpasang di segenap tempat di ruang museum.

Saat kami melangkah, tiba-tiba hadir dihadapan kami suatu tampilan animasi dari proyektor yang ditampilkan pada bidang dinding lengkung. Tampilan aneka warna bak gambaran tatasurya tampil menyapa. Seiring dengan itu, terlihat koin-koin dari beragam masa yang berjatuhan. Yang lebih menarik lagi, tatkala kita berusaha seakan-akan menangkap koin tersebut, maka ditampilkanlah informasi mengenai koin tersebut. Hmmm… keren bangetlah ..🙂.

Menyusuri ruang yang berbentuk semacam lorong ini, membawa kami hingga ke ruangan teater. Biasanya di sini ditampilkan suatu film tentang Bank Indonesia. Saat kami di sana, film itu tidak diputar. Mungkin karena jumlah pengunjungnya tidak terlalu banyak.

Ruang Sejarah Pra Penjajahan

Kami telah berada di sebuah ruangan yang berisi informasi tentang sejarah bangsa Indonesia. Di sana disebutkan bahwa cikal bakal perbankan di nusantara adalah berasal dari maraknya perdagangan rempah-rempah. Hal itu dapat dilihat pada sebuah peta yang menggambarkan suatu interaksi perdagangan pada zaman dahulu kala.

Selain perdagangan rempah-rempat, di kawasan Asia Tenggara kala itu ramai dengan perdagangan porselen, sutera hingga budak Zanggi dari Afrika. Dan sebagai alat tukar dalam transaksi perdagangan digunakanlah rempah-rempah, manik-naik, genderang dan belencong. Sehingga kala itu dapat dijumpai jika harga seorang budak sebanding dengan beberapa karung merica saja. Hingga kemudian tiba suatu masa ketika koin-koin mulai digunakan sebagai alat tukar.


<p align="justify"
Semakin jauh kami berjalan di ruangan tersebut, kami dapat menyaksikan kehebatan nenek moyang kita sebagai para pelaut Indonesia. Mereka dengan kapal yang sederhana mengarungi samudera hingga ke Madagaskar untuk berniaga. Semua itu direkam dalam gambar-gambar kapal dan diorama yang ada di dalam ruangan tersebut.

Beberapa peralatan yang digunakan oleh para pelaut masa lalu juga dapat kami saksikan di sini.

Tak ketinggalan hadir pula di sini contoh beberapa koin uang dan beberapa jenis barang perniagaan (rempah-rempah) yang diperjual-belikan kala itu.

Kami kemudian seakan di bawa ke suatu masa tatkala harga rempah-rempah kian tinggi di Eropa. Hingga para pedagang dari Eropa seperti Portugis, Spanyol dan Belanda yang berusaha untuk datang ke Asia Tenggara untuk mendapatkan rempah-rempah di Asia Tenggara.

Akhirnya satu persatu pelayaran dari Eropa dan kawasan lainnya sampailah ke nusantara. Beberapa nama seperti Marcopolo, Laksamana Cheng-ho, Juan Sebastian del Cano, Alfonso d’Alburqueque, Cornelis de Houtman hingga Sir Henry Midletton adalah di antara pemimpin pelayaran yang begitu terkenal masa itu. Semua itu diabadikan dalam sebuah tampilan koleksi yang begitu informatif.

Hingga VOC datang ke bumi Nusantara. Dan mereka mulai membuka kantor dagang di Batavia. Nah, untuk mengefektifkan kegiatan perdagangannya, maka pada tahun 1746, VOC mendirikan bank pertama di Nusantara yaitu De Bank van Leening yang nantinya pada tahun 1752 berubah menjadi De bak Courant en Bank van Leening.

Masa Hindia Belanda

Seiring kaki kami melangkah menyusuri lorong-lorong museum, tema koleksi museum pun berpindah. Kami tengah berada di ruangan yang berkisah tentang masa penjajahan di nusantara. VOC yang awalnya hanya berdagang telah berubah menjadi sekumpulan penjajah.

Semua kisah tersebut tersaji di dalam ruangan ini. Di sini kami menjumpai aktifitas Belanda yang untuk menunjang program tanam paksanya, dibuatlah bank-bank perkreditan hingga mendirikan De Javasche Bank (DJB) pada tahun 1828 yang menjadi cikal bakal Bank Indonesia.

Untuk melengkapi sejarah DJB, ditampilkan juga di dalam ruangan ini gambar disain dari Gedung DJB dari waktu ke waktu. Dan gambar tersebut sepertinya masih orisinil.

Di sini kami juga menyaksikan deretan kisah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan. Kisah itu dipajang di sepanjang dinding. Sementara pada bagian lantainya terdapat beberapa contoh pakaian yang dikenakan pejabat Hindia Belanda dari berbagai masa kala itu.

Untuk memperjelas gambaran masa lalu, selain photo-photo hitam putih yang ditampilkan, koleksi uang jaman Hindia Belanda juga terlihat di sini.

Tak ketinggalan ditampilkan juga diorama yang bercerita tentang aktifitas transaksi perbankan kala itu.

Waktu berlalu begitu juga masa penjajahan pun usai berkat karunia Alloh dan hasil perjuangan para pahlawan bangsa. Sebuah zona yang bercerita tentang sejarah perbankan setelah masa kemerdekaan terlihat di depan. Dan kamipun melangkah ke arahnya.

====================================================
photo by : deddy
====================================================

bersambung …


Responses

  1. nice info,lmyan tmbah ilmu dari mmbaca..
    kunjung balik blog saya ya gan dan jgn lupa follow back nya..thanks you

    • sippp mas.

      • sama2 mas,

  2. wew
    sdangat bagus untuk pengetahuan

    • sangat sangat bagus

    • terimakasih atas kunjungannya🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: