Posted by: deddyek | April 16, 2012

Museum Bank Indonesia Bagian 2

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya tentang wisata kami di Museum Bank Indonesia pada kisaran Januari 2012 yang lalu. Sebuah tulisan yang tertunda karena padatnya pekerjaan kantor dalam tiga bulan terakhir ini. Semoga posting-an ini dapat melengkapi posting-an sebelumnya🙂.

Ruangan Masa Pra Bank Indonesia

Melanjutkan perjalanan sebelumnya, setelah sekian waktu menikmati koleksi dari Museum BI, tibalah kami di ruangan yang menyajikan informasi dan koleksi yang terkait dengan aktifitas perbankan pada masa sebelum Bank Indonesia didirikan.

Di sana kami mendapat informasi tentang uang Indonesia kali pertama diluncurkan. ORI (Oeang Republik Indoesia) adalah uang pertama tersebut. Berlaku mulai Oktober 1946 dengan Rp. 100 sebagai pecahan pertama. Namun karena peperangan sebagai akibat dari invansi Belanda dan sekutunya, peredaran ORI sulit dilaksanakan. Sehingga di beberapa daerah munculah ORIDA (ORI Daerah).

Beberapa diorama terlihat menghias di sini. Di antaranya diorama tentang perjuangan atau peperangan melawan agresor Belanda dan juga nasionalisasi DJB untuk menjadi BI.

Masih di ruang ini, kami disuguhi informasi tentang sejarah BI, perubahan logo BI dari waktu ke waktu.

Ruang Periode-1 : 1953-1959

Ruangan ini diberi tema Menuju Negara Modern. Hal ini berkaitan dengan didirikannya Bank Indonesia pada tahun 1953 dan aktifitasnya pada masa awal berdiri.

Ruang Periode-2 : 1959-1965

Ruangan ini diberi tema Membanguan Sikap Kebangsaan. Di ruangan ini disajikan informasi tentang kondisi negara pada masa itu. Di antaranya adalah terkuras uang negara untuk beberapa proyek mercusuar kala itu dalam rangka Asian Games, Ganefo, Conefo, dll.

Ruang Periode-3 : 1966-1983

Ruangan ini diberi tema Ekonomi Sebagai Haluan Negara. Tema tersebut diambil berkaitan dengan sejarah pergantian rezim dan perubahan haluan dari pembangunan proyek-proyek mercuar menjadi pembangunan ekonomi negara. Dalam masa ini, peran BI sebagai bank sentral kembali dihidupkan kembali.

Pada masa itu juga digiatkan gerakan gemar menabung. Hal itu dapat dilihat dari apa yang disajikan di dalam ruangan ini. Sebuah diorama nampak jelas menceritakan itu. Begitu juga dengan saluran televisi TVRI jaman dulu yang menyampaikan informasi tentang gerakan nasional tersebut. Plus ditambah deretan beberapa koleksi celengan yang dimiliki banyak orang kala itu.

Ditampilkan pula diorama perkembangan ekonomi kala itu. Beberapa aktifitas ekonomi yang dilakukan oleh sebagian besar warga negara seperti bertani, membatik, dll, dapat dilihat di dalamnya.

Ruang Periode-4 : 1983-1997

Sesuai masanya ruangan ini bertemakan Globalisasi Ekonomi. Di dalamnya terdapat beberapa informasi serta kliping surat kabar kala itu yang memuat kondisi ekonomi negara. Perekonomian yang melaju pesat dan akhirnya merosot tajam. Di sini juga diuraikan peran BI yang sudah tidak independen lagi karena Gubernur BI, kala itu dijadikan pejabat setingkat menteri.

Selain melalui media papan informasi dan kliping, kami dan pengunjung lainnya dapat mendapati informasi tersebut melalui beberapa monitor touch screen yang disediakan di sana.

Ruang Periode-5 : 1997-1999

Ruangan ini penuh nuansa merah yang menggambarkan kondisi negara yang carut marut kala itu. Krisis di segala lini demikianlah tema ruangan tersebut.

Di dalamnya ditampilkan ilustrasi grafik nilai tukar rupiah yang jatuh terhadap mata uang asing.

Selain itu juga disajikan ilustrasi keruntuhan sendi-sendi ekonomi negara.

Dan yang paling utama sejarah suram negeri ini yang berisi kerusuhan masa sepanjang waktu itu. Penjarahan terjadi di mana-mana sebagai efek dari kondisi ekonomi masyarakat yang demikian terpuruk. Yang selanjutnya berujung pada ketidakpuasan terhadap rezim berkuasa kala itu sehingga mahasiswa dan rakyat melakukan demonstrasi untuk menurunkannya. Begitu banyak korban yang jatuh dalam kejadian tersebut. Semua itu terangkum dalam museum ini melalui tampilan photo-photo dan video dari monitor-monitor yang ada.

Di salah satu sisi ruangan ini, terdapat rak-rak yang diletakkan di sana begitu banyak telepon. Bergantian telepon-telepon tersebut berdering. Riuh sekali bunyinya. Begitulah gambaran kala itu tatkala tak terhitung banyaknya telepon yang masuk ke BI tentang kondisi bank-bank yang tengah dilanda “rush” hingga mereka kesulitan untuk menyediakan dana.

Di paling ujung dari ruangan ini terdapat photo deretan para presiden yang silih berganti berkuasa setelah tumbangnya rezim orde baru.

Ruang Periode 1999 s/d sekarang

Di ruangan ini kami disuguhi beragam informasi yang cukup menarik dan menambah wawasan. Di antaranya tentang perubahan arsitektur perbankan dan juga hikmah yang dipetik dari kejadian periode sebelumnya.

Sebuah pohon terlihat tumbuh di sana yang menjadi gambaran pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.

Menikmati keindahan gedung BI

Selepas menjelajahi ruang demi ruang museum, sampailah kami di sebuah pintu keluar. Museum ini sepertinya ditata sedemikian rupa sehingga pengunjung selain mendapatkan berbagai informasi yang bermanfaat juga dapat menikmati keindahan arsitektur bangunan bersejarah ini.

Terbukti begitu kami keluar dari ruangan, kami disuguhi tampilan betapa megah dan indahnya gedung ini. Pilar-pilar besar berdiri tegak di sepanjang koridor. Sebuah lapangan segi empat berada di tengah-tengahnya. Tak salah jika banyak pengunjung yang menyempatkan diri untuk berphoto di sini.

Di salah satu sisi dari koridor ini tepatnya di atas tangga yang menuju ruang bawah (toilet), terdapat ornamen kaca patri yang telah ada sejak gedung ini berdiri. Kaca patri yang bertuliskan DE JAVASCHE BANK OPEREIGHT ANNO 1828 (artinya : De Javasche Bank didirikan pada tahun 1828). Di bagian atas terdapat lukisah Hermes, dewa dalam mitologi Yunani sebagai pelindung perdagangan.

Gudang Emas

Terus melangkah menyusuri koridor sampailah kami di sebuah ruangan yang seolah-olah berisikan tumpukan emas batangan. Meski bukan emas asli, tetap saja membuatnya terlihat menarik. Hal itu karena emas-emasan itu dibuat benar-benar mirip emas asli. Emas-emas tersebut diletakkan di dalam suatu ruang kaca.

Di sini terdapat informasi yang menjelaskan tentang banyaknya emas-emas Indonesia yang melancong sampai ke Asutralia dan Afrika Selatan.

Beralih ke sisi lain dari ruangan ini, terdapatlah sebuah box yang berfungsi sebagai simulasi emas.

Ruang Numismatik

Setelah melihat-lihat emas batangan, kami selanjutnya hendak melihat koleksi uang dari berbagai jaman yang ada di ruang numismatik. Koleksi yang ada di dalam Museum BI ini adalah yang terlengkap di Indonesia.

Sebagai pembukaan, sebuah ruangan yang didisain modern menyajikan informasi mengenai serba-serbi uang dan beberapa gambar uang.

Selanjutnya kami menuju ruang koleksi. Ruangan tersebut berpencahayaan rendah bahkan nyaris gelap. Namun di sanalah begitu banyak koleksi uang disimpan. Ada enam jenis koleksi uang yang disimpan yaitu : Uang Kerajaan di Nusantara, Uang Kolonial, Uang Awal Kemerdekaan RI, Uang Pemerintah dan BI, Uang Token serta Uang Khusus.

Koleksi uang tersebut disimpan dalam begitu banyak lemari kaca baik yang menempel di dinding maupun yang di atas meja. Khusus untuk yang di atas meja, terdapatlah di atasnya kaca pembesar yang dapat dipindah-pindah lokasinya. Kaca pembesar tersebut dapat digunakan untuk melihat koleksi uang secara lebih jelas.

Selain itu terdapat juga pada lemari-lemari. Untuk melihatnya kami cukup menarik salah satu pegangan pintu yang ada.

Berikut adalah beberapa koleksi uang yang sempat kami photo.

Rupanya ruang numimastik ini menjadi ruangan terakhir dalam penjelajahan kami di Museum Bank Indonesia. Sebuah pintu keluar ada di salah satu ujungnya.

Seorang petugas dengan ramah menyapa kami dan membagikan kuisoner tentang wisata Museum. Kamipun lantas mengisinya sebagaimana para pengujung lain lakukan.

Kami kemudian keluar melalui pintu yang sama ketika kami masuk ke Museum ini. Sebuah wisata yang mengasyikkan bagi kami. Selain berwisata, kami juga mendapatkan tambahan ilmu pengetahuan tentang perbankan dan sejarah negeri ini melalui berbagai kolesi yang ditampilkan. Semuanya serba informatif melalaui pemanfaatan teknologi audio video. Tak ada salahnya bagi pengunjung kawasan kota tua untuk menyempatkan singgah di Museum ini. Wisata murah namun berkualitas.

====================================================
photo by : deddy
====================================================

selesai …


Responses

  1. makasih atas informasi yg telah di berikan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: