Posted by: deddyek | May 8, 2012

Menikmati Bandung (Bagian-1) : Dari Balik Argo Parahyangan, Indahnya Alampun Terbentang

Liburan awal April 2012 pun tiba. Kota Bandung menjadi tujuan diriku dan istri tercinta. Telah lama rasanya diriku tak berkunjung ke kota itu. Sedangkan istriku, inilah kali pertama ia akan mengunjunginya.

Telah jauh-jauh hari kami memesan tiket kereta api dengan tarif Rp. 80,000 per penumpang dan tentu saja penginapan untuk kami tinggal selama berada di sana. Maklum saja untuk saat liburan akhir pekan nan panjang, jika tidak pesan jauh-jauh hari, dijamin bakalan kehabisan tiket dan tentu saja bakalan tak dapat hotel di Bandung.

06 April 2012, pagi-pagi kami meninggalkan kediaman di Cilebut menuju Stasiun Gambir. Dengan menggunakan KRL Commuter Line Bogor – Jakarta Kota, sekitar satu jam kemudian sampailah kami di tujuan.

Waktu menunjukkan pukul 7:30 pagi, saat kami tiba di Gambir. Keramaian calon penumpang yang hendak menghabiskan liburan panjangnya ke luar kota terlihat dengan jelas di ruang peron stasiun tersebut.

Pagi itu kami akan menuju Bandung dengan menaiki Argo Parahyangan keberangkatan pukul 08:25. Karena masih banyak waktu, kami lantas turun ke lantai dasar stasiun untuk mencari sarapan pagi sekaligus cali perbekalan untuk dinikmati selama perjalanan.

Salah satu resto cepat saji menjadi pilihan kami. Setelah puas menikmati seporsi nasi + ayam, kami kemudian beranjak ke salah satu minimarket untuk mencari beberapa minuman dan makanan ringan.

Lima belas menit jelang keberangkatan, kami beranjak dari lantai dasar menuju ruang peron. Sama seperti saat kami tiba, malah saat ini jumlah calon penumpang kian bertambah banyak. Selain mereka yang akan keluar kota, ternyata banyak juga mereka yang akan bepergian ke wilayah Bogor dan Bekasi. Jadi, ruang peron yang sebenarnya cukup luas itupun di beberapa sisinya, hampir-hampir tak bisa menampung banyaknya calon penumpang.

Melangkah menyibak para calon penumpang, kami dapati KA Argo Parahyangan tengah ngetem di jalur 4. Bersama para calon penumpang lainnya, kami lantas memasuki KA tersebut.

Seperti KA Argo lainnya, Argo Parahyangan ini memiliki fasilitas yang cukup baik dan nyaman. Mulai beroperasi sejak 27 April 2010, sebagai pengganti KA Argo Gede dan KA Parahyangan, KA ini menjadi salah satu pilihan favorit bagi mereka yang hendak bepergian ke Bandung. Ada enam waktu keberangkatan dari stasiun Gambir setiap harinya.

Sebenarnya selain menggunakan KA, kami bisa juga menggunakan bus atau travel yang secara waktu tempuhnya lebih cepat dari KA ini. Namun, ada satu hal yang tak didapati ketika menaiki bus atau travel. Yaitu kenyamanan bepergian sambil menikmati hijaunya hamparan panorama alam tanah Priangan.

Tepat pukul 8:25, KA Argo Parahyangan berangkat meninggalkan Stasiun Gambir. Semua tempat duduk yang ada ludes alias terpenuhi oleh penumpang.

KA Argo Parahyangan akan menempuh jarak +/- 173 km dan dijadwalkan sampai di Stasiun Hall Bandung pada pukul 11:25. Sebelum sampai ke Bandung, KA ini akan berhenti sejenak di Stasiun Jatinegara, Bekasi dan Cimahi.

Seperti biasanya tatkala KA akan meninggalkan area Jakarta, deretan perkampungan padat dan kumuh di kanan kiri rel KA, menjadi pemandangan khas bagi para penumpang. Hingga tiba di wilayah Karawang, tampilan hijau mulai terlihat. Sawah-sawah yang menghampar masih ada di sana meski lambat laun mulai tergerus oleh bangunan-bangunan perumahan.

KA terus melaju dan tak terasa menit demi menit berlalu. Sinar mentari pagi dengan benderang hadir untuk menyemarakkan hari. Seteguk demi setegus minuman dan sesuap demi sesuap makanan ringan, terasa pas untuk menemani perjalanan sejauh ini.

Selepas Purwakarta, apa yang kami nantikan pun hadir. Ternyata bukan hanya kami saja, para penumpang yang lainpun juga menantikannya. Mereka satu persatu mengeluarkan kameranya. Beberapa di antaranya mulai beranjak dari tempat duduknya.

Dan, akhirnya sajian khas perjalanan berkereta-api Jakarta Bandungpun hadir. Keindahan alam nan hijau berupa hamparan sawah seakan menyapa dan mengucapkan selamat datang kepada para penumpang. Aneka tetumbuhan terlihat rimbun menaungi beberapa bagian dari area pesawahan.

Seiring KA melaju, episode pun berganti. Tampilan bukit-bukit cadas dengan rimbunan pepohonan yang ada padanya, menghadirkan panorama khas daratan Pasundan yang kaya akan bukit dan gunung.

Satu hal yang menarik dalam perjalanan ini adalah kami dapat melihat lokomotif dari KA ini. Hal ini dimungkinkan karena di beberapa lokasi, KA mesti melalui jalur yang berkelok-kelok.

Bergantian aneka pemandangan hadir termasuk pula deretan perkampungan desa di sekitaran jalur kereta. Begitu pula dengan beberapa stasiun kecil yang dilewati.

Melewati wilayah yang banyak bukit, menjadikan KA ini mesti melalui beberapa jembatan.

Biasanya saat melewati jembatan-jembatan tersebut, KA akan mengurangi kecepatannya. Sehingga kami yang berada di dalam KA, dapat menikmati panorama alam di bawah jembatan.

Seperti sungai yang mengalir ..

Atau area pesawahan yang berundak-undak atau terasiring ..

Atau juga deretan pebukitan hijau yang asri …

Dan tentu saja tampilan beberapa jalur jalan layang tol Cipularang …

Menarik bukan ? ..🙂 .. dan yang paling menarik tentu saja saat melewati jembatan KA terpanjang di Indonesia dan masih aktif hingga saat ini. Iya, jembatan Cikubang. Jembatan dengan tinggi 80 meter dan panjang 300 meter ini, dibangun oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda dan pertama kali digunakan pada tahun 1906.


(sumber : indonesiaheritagerailway.com)

Pemandangan demi pemandangan silih berganti hadir. Namun pemandangan areal pesawahan tetaplah mendominasi. Hal ini membuktikan bahwa bangsa ini dari dahulu merupakan bangsa agraris. Dan wilayah Jawa Barat menjadi salah satu lumbung padi nasional.

Berpindah dari suasana terang ke suasana gelap. Begitulah kiranya gambaran hal tersebut, saat kami hendak memasuki Padalarang. Selepas pimpinan awak KA menginformasikan apa yang akan kami lewati di depan, tiba-tiba pemandangan di kiri kanan menjadi gelap.

KA Argo Parahyangan rupanya tengah memasuki sebuah terowongan jalur KA yang cukup panjang. Terowongan tersebut dinamakan Terowongan Sasaksaat yang berlokasi antara stasiun Sasaksaat dan Stasiun Maswati. Dibangun oleh Staatsspoorwagen pada 1902 s/d 1903, terowongan yang membelah pebukitan Cidepong ini memiliki panjang +/- 949 meter. Wow…


(sumber : indonesiaheritagerailway.com)

Cukup lama KA melaju melalui terowongan nan gelap gulita. Sayangnya, di terowongannya tidak ada penerangan yang memadai. Jika, ada mungkin akan lebih keren sehingga tampilan dalam terowongan dapat dinikmati oleh para penumpang KA.

Habis gelap terbitlah terang. KA Argo Parahyangan telah melalui ujung dari Terowongan Sasaksaat. Dan kembali pemandangan area sawah yang menghampar menghiasi sepanjang perjalanan kami hingga KA berhenti sejenak di Stasiun Cimahi.

Tak lama kemudian, KA melanjutkan perjalanan menuju kota Bandung. Sekitar pukul 11:30 sampailah KA Argo Parahyangan di pemberhentian terakhirnya, yaitu Stasiun Hall Bandung.

Satu persatu para penumpang turun dari kereta sambil menenteng barang bawaanya. Beberapa petugas porter nampak menawarkan jasa untuk membawakan barang.

Pertama kali bagi kami berada di Stasiun Hall Bandung. Cukup besar ukurannya. Terlihat beberapa lajur rel KA membentang di tengahnya. Suatu jalur yang panjang, seperti panjanganya sejarah yang dimilikinya.

Sesuai bentuk dan disain kebanyakan stasiun lama di negeri ini, bangunan gaya kolonial Belanda terlihat jelas di stasiun ini. Sejak diresmikan pertama kali pada 17 Mei 1884, sampai saat ini, Stasiun Hall Bandung masih menjadi stasiun utama bagi transportasi kereta api.

Hmmm… sungguh perjalanan tiga jam yang mengesankan bagi kami. Meski terkadang kantuk menyerang sepanjang perjalanan, namun semua itu dapat dilawan dengan sajian berupa panorama keindahan alam yang membentang. Sebuah awal yang menyegarkan bagi kami, sebelum perjalanan di kota kembang ini kami mulai.

====================================================
photo by : deddy
====================================================

bersambung …


Responses

  1. Menikmati pemandangan saat perjalanan Jakarta-Bandung dan sebaliknya memang mengasyikkan

  2. pemandangannya indah dan kereta apinya lumayan nyaman kayaknya…gak kaya waktu dulu….desak-desakan dan malu juga sih di apit banyak cewe.hehheheh


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: