Posted by: deddyek | May 8, 2012

Menikmati Bandung (Bagian-2) : Selepas Sholat Jum’at di Alun-alun Kota

Sebuah ciri khas konsep tata bangunan kota pemerintahan peninggalan jaman kerajaan atau kesultanan dahulu adalah adanya suatu lapangan yang cukup luas yang berada di dekat kantor pemerintahan. Lapangan tersebut biasa disebut Alun-Alun. Di Jogja, alun-alun kidul menjadi tempat favorit warga Jogja pada waktu malam saja. Tapi di Bandung, alun-alun kotanya ramai setiap waktunya. Tidak pagi, siang ataupun malam. Terlebih-lebih di hari Jum’at. Karena lokasinya berdekatan dengan Masjid Raya Bandung, maka bisa dibayangkan bagaimana keramaian yang ada tatkala puluhan ribu orang yang akan atau telah selesai menunaikan sholat jum’at berkumpul di sana.

Kami telah sampai di Stasiun Hall Bandung. Setengah jam lagi, waktu sholat jum’at akan tiba. Kami segera bergegas keluar stasiun melewati pintu timur (jl. Stasiun Timur).

Tujuan kami berikutnya adalah Masjid Raya Bandung. Siang itu, kami hendak sholat jum’at di sana.

Setelah keluar dari stasiun, kami langsung saja melangkah menuju Terminal Hall. Akses terminal yang menghadap stasiun ternyata adalah bagian belakangnya. Jadi, kami harus berjalan masuk ke dalamnya hingga sampai pintu paling depan untuk mendapatkan angkot yang ingin kami naiki.

Kemacetan terlihat ada di sana. Mobil-mobil pribadi bercampur dengan angkutan kota berebut jalan yang kian padat.

Sebuah angkot jurusan Stasiun Hall – Gede Bage menjadi pilihan kami.

Mobil angkot merayap menyusuri Jl. Suniaraja untuk kemudian berbelok ke arah Jl. Pasar Baru. Di sini kondisinya tak kalah parah. Deretan warung dan toko menghimpit jalan yang tak begitu lebar. Perlu waktu beberapa lama hingga angkot dapat menembus ke jalan Otista.

Angkot melaju lancar hingga memasuki perempatan Jl. Otista dan Jl. Asia Afrika. Angkot terus melaju lurus ke depan untuk selanjutnya berbelok ke Jl. Kapatihan. Di jalan inilah angkot benar-benar berhenti total, tidak gerak.

Kami melihat Maps yang ada di BB. Ternyata lokasi Masjid Raya tak begitu jauh dari tempat kami berada. Langsung saja, kami turun dari angkot. Setelah membayar Rp. 2500 per orang, kami lantas berjalan kaki menyusuri Jl. Kepatihan. Beberapa pusat perbelanjaan yang ada di sana dan juga deretan PKL yang memenuhi jalan, menjadi penyebab kemacetan tersebut.

Tibalah kami disebuah pertigaan Jl. Dewi Sartika. Kami kemudian belok ke kiri. Dari sana menara masjid terlihat dengan jelas menjulang. Kami segera mempercepat langkah kaki. Hingga saat adzan sholat jum’at dikumandangkan sampailah kami di Masjid Raya.

Siang itu, segenap sisi masjid penuh dengan ribuan orang. Hampir setiap jengkal dari serambi masjid, baik di sisi kanan, kiri ataupun depan, dipenuhi oleh kaum ibu yang tengah menunggu suaminya menunaikan sholat jum’at.

Di sana kami berpisah. Diriku segera menuju ke ruang wudlu dan selanjutnya melangkah ke ruang sholat yang telah penuh sesak. Sementara istriku menunggu di luar.

Kegiatan sholat Jum’at akhirnya dimulai mulai dari khutbah sampai sholat berjama’ah.

Selepas sholat jum’at, brrrr… ribuan orang mulai bergerak meninggalkan tempat duduknya untuk keluar masjid.

Setelah agak reda dari berjejalnya orang menuju pintu, dirikupun melangkah keluar masjid. Setelah bertemu istri tercinta, kami kemudian bertukaran peran. Istriku gantian masuk ke masjid untuk sholat dzuhur sementara diriku di luar (di serambi).

Mendung mulai datang menghampiri. Langit terkadang gelap terkadang kembali terang.

Istrikupun telah selesai dengan sholatnya. Tujuan kami selanjutnya adalah mencari makan siang di sekitaran Masjid Raya.

Kami melangkah menuju bagian selatan dari alun-alun tempat di mana deretan warung tenda berada.

Setelah melihat-lihat menu jualan yang ada, kami akhirnya berhenti di salah satu warung yang menjual batagor. Masing-masing kami memesan seporsi batagor plus teh botol sebagai temannya.

Perut yang telah lapar menjadikan kami begitu lahap menikmati batagor yang disajikan. Gurih dan pedasnya cukup sesuai bagi kami. Hingga tak seberapa lama, habislah sajian khas Bandung tersebut. Dan segelas teh botol dingin seakan menjadi penutup yang pas untuk makan siang kami hari itu.

Selepas itu, kami kembali ke alun-alun untuk menikmati keramaian yang ada. Benar-benar suasana yang semarak bak pasar rakyat yang bisa dinikmati oleh siapapun.

Di depan halaman masjid, tampak terlihat deretan para penjual aneka pakaian tengah ramai memperjualkan dagangannya. Semakin ramai dengan suara aksi tawar menawar yang menarik.

Beberapa penjual tas juga terlihat ikut menjemput rizqi pada Jumat siang itu.

Tak mau ketinggalan, tampak juga di beberapa lokasi para penyedia sarana permainan anak dari kolam pemancingan sampai kereta-keretaan.

Dan bagi yang ingin icip-icip, begitu banyak penjual makanan ada di sana.

Mulai dari Batagor dan Kupat Tahu ..

Cimol …

Kemudian bakso, mie ayam bahkan sampai yang paling favorit bagi warga Bandung, yaitu Uli Bakar.

Kamipun mencoba untuk mencicipi kuliner Uli Bakar. Kami beli dua jenis yaitu Uli Bakar yang original dan Uli bakar yang diberi sambal.

Mendung kian menggelayuti langit kota Bandung. Masjid Raya yang menjadi latar dari aktifitas keramaian hari itu seakan diselimuti redupnya cahaya.

Suara halilintar beberapa kali terdengar menggelegar. Tapi itu tak menyurutkan aktifitas di ketinggian yang sempat tak terperhatikan. Beberapa pekerja yang tengah memasang kubah baru dari Masjid Raya masih bertahan di sana.

Namun tidak dengan kami, mendung yang kian gelap memaksa kami untuk segera beranjak dari alun-alun. Tujuan kami berikutnya adalah Dago.

Tak ada angkot ke Dago dari alun-alun kota. Kami mesti berjalan kaki menyusuri Jl. Dewi Sartika ke arah Kebon Kalapa.

Entah berapa ratus meter kami berjalan, sampailah kami di perempatan Jl. Kautamaan Istri dan Jl. Dewi Sartika. Ternyata di sanalah angkot yang kami cari itu berada. Beberapa angkot rute Kalapa – Dago tampak tengah ngetem menanti penumpang.

Setelah memastikan rute tersebut kepada pak sopir, kami lantas naik ke salah satu angkot yang ada. Cukup lama angkot tersebut ngetem. Sepertinya ia menunggu semua penumpangnya cukup penuh. Maklum formasi tempat duduk angkot di Bandung bukanlah 6-4 seperti di Jakarta melainkan 7-5 ..🙂.

Sekitar 10 menit kemudian penuhlah angkot dengan para penumpang. Dan langsung saja, angkot melaju menuju Dago.

Sekitar 30 menit kemudian sampailah kami di tujuan. Di sebuah hotel tempat kami akan menginap, angkot itu berhenti. Setelah membayar tarif Rp. 3000 per orang, turunlah kami di sana.

Hotel Royal Dago, di sanalah kami dari hari Jum’at hingga Ahad akan bermalam.

====================================================
photo by : deddy
====================================================

bersambung …


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: