Posted by: deddyek | May 31, 2012

Menikmati Bandung (Bagian-6) : Menutup Kisah untuk Kembali

Dua malam tiga hari kami telah berada di Bandung untuk menghabiskan hari libur dan melarikan diri sejenak dari kepenatan ibukota dengan segala aktifitasnya. Beberapa spot menarik yang menyajikan beragam atraksi, pemandangan dan kelezatan terasa belum cukup untuk memuaskan hasrat liburan. Masih amat banyak spot terutama luar kota Bandung yang belum sempat kami singgahi.

Seiring aktifitas dan perjalanan yang mengasyikkan, bergulirlah waktu begitu cepat. Dan tak terasa hari terakhir di Bandungpun tiba.

Begitu yang terlintas di benak kami tatkala berdiri di salah satu sisi perempatan Dago dan Jembatan Layang Pasopati. Sambil memandang begitu banyak orang berlalu lalang, bergerak secara kelompok atau perorangan, untuk menuju suatu tempat tertentu.

Telah tercatat dalam itenarary kami, bahwa selepas menikmati Dago Car Free Day, kami hendak menuju ke Lapangan Gasibu, tempat di mana pasar kaget dan Gedung Sate berada.

Sebenarnya untuk menuju ke sana bisa ditempuh dengan jalan kaki menyusuri Jl. Surapati. Namun berhubung hari yang kian panas, kami memilih untuk melalui Jl. Dipati Ukur yang begitu rimbun dengan pepohonan.

Kemudian belok kanan melalui Jl. Panatayuda hingga sampai bertemu Jl. Surapati. Secara jarak tempuh tentu saja lebih jauh. Namun, rimbunnya pepohonan yang ada di sana membuat kami terasa nyaman untuk berjalan menyusurinya.

Sesampai di Jl. Surapati kepadatan sangat terasa. Kemacetan terjadi di sepanjang jalan. Bahkan pejalan kakipun tak bisa leluasa bergerak untuk melangkah karena begitu banyaknya orang yang tumpah ruah di sana.

Keriuhan pasar kagetpun begitu terasa meski masih beberapa ratus meter dari lokasi lapangan Gasibu. Deretan lapak terlihat berjejal di sepanjang pedesterian untuk memperdagangkan aneka jualan dengan harga nan menarik.

Dari sisi kiri berpindahlah kami ke sini kanan tempat di mana lapangan Gasibu berada.

Sejauh mata memandang, lapangan tersebut tak terlihat bentuknya. Yang terlihat tak lain ratusan atau mungkin ribuan tenda dari lapak-lapak yang memadati setiap sisi dari lapangan tersebut.

Panasnya sinar mentari tak mengurangi gairah belanja dari mereka yang berada di sana. Para penjual dengan semangat menjajakan beragam produk yang dijualnya. Sementara para calon pembeli terlihat seksama melihat-lihat produk yang ada sebelum proses tawar-menawar dilakukan.

Di sana kami mendapati begitu variatifnya produk yang diperjualkan. Mulai pakaian, tas, sayuran, pernak-pernik sampai makanan dan minuman. Mengenai harga tergantung bagaimana kepandaian untuk menawarnya. Sedang kualitas, tentu saja sesuai harganya.

Kami berdua berjalan menyusuri deretan lapak di lapangan Gasibu. Di beberapa lokasi terdapat tenda yang dipasang untuk sedikit melindungi para pengunjung dari sengatan sinar matahari. Sedang yang lainnya terbuka beratapkan langit.

Kami terus berjalan hingga ketengah-tengah lapangan. Sebuah panggung terlihat berdiri di sana. Sebuah pertunjukkan musik yang disponsori oleh salah satu produsen handphone terkenal tengah berlangsung. Tampak begitu banyak pengunjung baik tua, muda, pria dan wanita memadati area tersebut. Maklum saja, seorang penyanyi top ibukota menjadi salah satu bintang yang meramaikannya.

Langkah kaki kami terus berlanjut. Lautan lapak demikianlah kiranya perumpamaan mengenai kondisi di lapangan Gasibu.

Menyibak kerumunan yang kian padat, sampailah kami di ujung sisi lapangan tepatnya di Jl. Diponegoro. Dari sana terlihatlah tampilan Gedung Sate yang menjadi ikon kota Bandung.

Sama seperti sisi Jl. Surapati. Di sisi Jl. Diponegoro inipun dipenuhi oleh lapak-lapak para pedagang. Benar-benar pasar rakyat tatkala setiap sisi dari lapangan Gasibu dan sekitarnya diisi oleh aktifitas yang produktif berupa jual beli. Suatu gerak ekonomi yang bermanfaat bagi rakyat yang ada di sana apakah ia sebagai pedagang atau pembeli.

Meski tak dipungkiri terdapat beberapa keluh kesah dari sebagai sebagian orang yang tengah terjebak di dalamnya, namun pasar rakyat ini tetap saja mengundang masyarakat untuk setiap minggu mendatanginya. Bukan hanya warga Bandung, tapi warga luar Bandung pun tak ingin melewatkannya.

Hal itu bisa dilihat dari banyaknya kendaraan yang diparkir di sisi jalan baik Jl. Diponegoro maupun Jl. Surapati.

Menyeberang ke sisi lain dari Jl. Diponegoro, sampailah kami di halaman gerbang dari gedung yang dulunya bernama Gouvernements Bedrijven. Sebuah gedung yang bersejarah. Dibangun sejak 1920 s/d 1924 oleh Pemerintah Hindia Belanda, gedung ini hampir selalu menjadi kantor pusat pemerintahan. Berlaku hingga saat ini karena sejak 1980, Gubernur Jawa Barat berkantor di Gedung Sate ini.

Karena tak bisa masuk ke halaman Gedung tersebut, maka halaman di depan pintu gerbang menjadi tempat favorit bagi pengunjung untuk mengambil beberapa photo.

Haus dan lapar mulai kami rasakan. Keringatpun telah mengalir sedari tadi. Beristirahatlah kami sejenak di salah satu sisi pedestrian yang ada sambil menikmati suasana keramaian yang belum juga usai. Beberapa potong kue dan sebotol air mineral dingin terasa begitu nikmat. Semilir angin terkadang berhembus untuk menyegarkan kembali semangat yang mulai terkikis oleh lelah.

Waktu menunjukkan pukul 09:40. Sebelum kembali ke hotel, kami putuskan untuk jalan-jalan sejenak ke beberapa FO di Jl. Riau (Martadinata). Setelah bertanya-tanya ke beberapa warga, naiklah kami ke sebuah angkot rute Dago – Riung Bandung.

Setelah penumpangnya penuh, angkot melaju melalui Jl. Cimandiri – Jl. Banda – Jl. RE Martadinata. Sesampai di perempatan, turunlah kami di sana. Kami serahkan Rp 4000 sebagai ongkos tarif kami berdua.

Suasana di Jl. Raiu – RE Martadinata tak begitu ramai. Begitu pula para pengunjung FO yang ada. Nampaknya banyak para pengunjung yang telah bersiap-siap meninggalkan Bandung pada pagi/siang itu untuk mengantisipasi kemacetan saat keluar dari Bandung.

Mumpung di kawasan tersebut, kami mencoba untuk melihat-lihat ke beberapa FO yang ada sambil menghabiskan waktu.

Karena sejak pagi tadi kami telah melahap beberapa kilometer dengan berjalan kaki, rasa pegal sedikit mulai datang. Karena itu kami putuskan untuk beristirahat sejenak di area STAMP F/O.

Sebuah gerai EVIETA Klappertaart menjadi tujuan kami. Menikmati klappertaart ber-topping coklat nan dingin tentu sungguh nikmat di saat cuaca luar yang cukup panas.

Tak enak berlama-lama di situ, kamipun segera bergegas keluar di bangunan F/O tersebut. Ada yang membuat kami tertarik begitu kami keluar ke bagian terasnya yaitu sebuah gerai yang menjual miniatur aneka produk makanan kemasan seperti makanan ringan, susu saset, mie, dll. Suvenir tersebut dapat ditempelkan sebagai hiasan di kulkas. Begitu kata penjualnya. Maka kamipun membelinya. Cukup Rp. 5000 saja per buahnya.

Puas berada di kawasan FO Jl. Riau (RE Martadinata), kami kemudian kembali ke Hotel di Dago. Dari perempatan tempat di mana kami turun sebelumnya, kami menaiki angkot rute Riung Bandung – Dago. Angkot tersebut melaju melalui Jl. Banda – Jl. Cimandiri – Jl. Diponegoro – Jl. Aria Jipang – Jl. Surapati (Suci) – Jl. Panatayuda – Jl. Dipati Ukur – Simpang Dago.

Di Simpang Dago kami turun sekaligus menyerahkan Rp. 6000 sebagai ongkos angkot untuk kami berdua. Selanjutnya kami berjalan kaki menuju Hotel Royal Dago.

Setelah mengepak barang bawaan, mandi dan sholat, selepas dzuhur hari itu, kami check-out dari hotel. Tentu saja setelah membayar biaya kamar sebesar Rp. 390,000 per malamnya.

Kami telah diangkot rute Dago – Stasiun Hall. Sebelum ke stasiun, masih ada dua tujuan yang hendak kami datangi yaitu RM Ampera dan Kartikasari. RM Ampera menjadi tempat di mana kami hendak menikmati makan siang sedang Kartikasari menjadi tempat di mana kami hendak membeli beberapa oleh-oleh.

Beberapa saat setelah angkot meninggalkan Hotel Royal Dago, sampailah kami di RM Ampera. Keramaian begitu terasa di sana. Untuk menikmati makan siang, kami mesti mengantri bersama para pengunjung yang lain. Untunglah kami masih mendapatkan tempat duduk.

Dua porsi nasi putih dengan lauk ikan goreng, tempe goreng dan bakwan jagung, terasa begitu pas dengan segar dan hangatnya sayur asem yang kami pesan. Begitu pula dengan sambal dan lalapannya. Terasa nikmat di siang itu.

Sayangnya kami tidak bisa menikmati makanan dengan tenang karena suasana hiruk pikuk di dalam RM tersebut. Ditambahlah lagi banyaknya orang yang masih berdiri menunggu giliran untuk duduk. Oleh karena itu, kamipun meningkatkan kecepatan untuk melahap sajian pilihan kami yang telah ada di meja. Begitu selesai makan dan ditutup dengan segelas jeruk hangat, kami segera beranjak dari tempat duduk kami untuk memberi kesempatan bagi yang lainnya.

Karena kami sudah membayar harga makanan yang kami pesan sebelumnya, maka kami segera bergegas meninggalkan ruangan dari RM yang penuh sesak tersebut.

Perjalanan berlanjut menuju ke Kartikasari. Menggunakan angkot dengan rute yang sama, tak lama kemudian sampailah kami di depan pusat oleh-oleh tersebut.

Tidaklah lengkap ke Bandung tanpa singgah ke Kartikasari. Karena segala aneka oleh-oleh khas Bandung dapat dengan mudah dijumpai di sana. Pengunjung bisa memilih-milih aneka roti, kue atau kripik. Di antara aneka oleh-oleh, Pisang Bollen merupakan produk yang begitu menjadi favorit oleh para pengunjungnya.

Suasana di dalam ruangan toko tersebut benar-benar padat oleh para pembeli. Berdesakan dan berteriak untuk meminta diambilkan oleh-oleh yang diingini menjadi pemandangan yang kami dapati.

Karena kami berdua, maka kami menyusun strategi untuk mengefektifkan dan mengefisienkan dalam mendapatkan oleh-oleh. Diriku mengantri di antrian kasir sedang istri mengantri di antrian permintaan dan pengambilan oleh-oleh.

Terbukti strategi kami berhasil. Bersamaan dengan diriku sampai di depan Kasir, istripun datang dengan membawa oleh-oleh yang dipilihnya.

Akhirnya selesai juga kami mencari oleh-oleh. Beberapa bungkus kue dan kripik telah ada ditangan kami. Itulah spot terakhir yang kami kunjung di Bandung.

Untuk selanjutnya, dengan menggunakan angkot, kami menuju Stasiun Hall Bandung untuk kembali ke Jakarta.

Jalan-jalan ke Bandung kali ini benar-benar mengesankan bagi kami berdua. Sambil menunggu keberangkatan Argo Parahyangan menuju Jakarta, kami sempatkan untuk saling berbagi tentang kisah yang telah kami tempuhi. Suatu kisah yang harus kami tutup untuk kembali. Kembali ke Jakarta untuk melanjutkan hari. Dan untuk kembali ke Bandung di suatu hari ini. Insya Allah.

====================================================
photo by : deddy
====================================================

selesai …


Responses

  1. Thak buat share pengalaman backpaker.nya
    Bisa buat refrensi liburan bsok


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: