Posted by: deddyek | June 13, 2012

Menyibak Padatnya Pasar Tanah Abang

Konon karena banyak pohon Nabang yaitu sejenis palm yang ada di daerah tersebut, menjadikan pemerintah kolonial Hindia Belanda menjulukinya sebagai De Nabang. Yang selanjutnya oleh masyarakat Batavia kala itu biasa disebut Tenabang.

Hanyalah sebuah daerah biasa, hingga seorang Belanda bernama Justinus Vinck mendapatkan ijin dari Abraham Patram (Gubernur Jenderal kala itu) untuk membangun sebuah pasar pada 30 Agustus 1735.

Seiring pergantian waktu dan zaman, dari kolonial, kemerdekaan hingga saat ini, seiring itu pula Pasar Tanah Abang berubah. Dari sekedar Pasar yang buka setiap hari Sabtu menjadi pasar yang buka setiap hari. Dan dari tempat jualan yang seadanya menjadi ruko-ruko bahkan gedung bertingkat. Namun, ada yang tidak berubah yaitu tekstil atau garmen yang tetap saja menjadi jualan utama di sana.

****************

Semenjak enam belas tahun lalu tatkala pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta hingga hari itu, tak pernah sekalipun diriku mendatangi kawasan Pasar Tanah Abang. Meski demikian terkenalnya Pasar itu dan bahkan dinobatkan sebagai salah satu pasar garmen terbesar di Asia Tenggara, tak juga membuat diriku tertarik untuk datang ke sana.

Padat, sesak, ramai dan kurang rapi itulah beberapa informasi yang diriku terima dari mereka yang sering berbelanja di sana. Karena seringnya informasi itu diriku terima, cukuplah ia menjadi alasan bagiku untuk tidak jalan-jalan ke sana.

Hingga suatu hari di pertengahan Mei, tatkala liburan akhir pekan nan panjang datang, tiba-tiba istri tercinta bermaksud untuk melihat bagaimana Pasar Tanah Abang itu sekalian untuk membeli beberapa potong pakaian untuk ortu.

Sabtu pagi nan cerah kami berdua berangkat dari Stasiun Cilebut menuju Stasiun Tanah Abang dengan menggunakan KRL Commuter. Entah mengapa, jangankan hari kerja, hari libur seperti sabtu itu pun KRL ke jurusan Tanah Abang tetap saja ramai.

Sekitar satu jam waktu diperlukan oleh KRL untuk sampai di sana.

Bersama begitu banyak penumpang yang lain, kami keluar dari KRL. Padatnya kondisi stasiun oleh begitu banyaknya calon penumpang membuat kami ingin cepat-cepat keluar dari tempat tersebut.

Jarak Pasar Tanah Abang dengan Stasiun tidaklah jauh. Apalagi dari stasiun bagunan Pasar tersebut terlihat jelas begitu dekatnya.

Siang itu cuaca begitu panas. Namun yang namanya kawasan Tanah Abang tetap aja ramai. Dari depan stasiun tempat di mana lapak-lapak pedagang berada sampai lorong-lorong jalan ramai dengan kegiatan jual beli.

Perlahan kami melangkah menyusuri jalan untuk menuju Pasar Tanah Abang melalui pintu bagian belakang. Sebenarnya kami tidak tahu jalan menuju ke sana. Kami hanya mengikuti orang-orang yang berjalan menuju arah tertentu.

Dan benar juga sebagian besar dari mereka tengah melangkah menuju Pasar Tanah Abang tepatnya di Blok F.

Di Blok F ini berisikan ruko-ruko yang berjejer begitu banyak. Aneka produk garmen terutama pakaian muslim menjadi buruan utama para pembeli. Untuk belanja di sini diperlukan kesabaran yang ekstra. Selain udaranya panas dan pengap, kondisinyapun sangat-sangat padat. Bagaimana tidak, tatkala para pembeli terlihat begitu tumpah ruah di mana-mana, mobil-mobil dan juga gerobak pengangkut barang sering sekali meyeruak di gang-gang sempit yang berada di antara dua baris ruko.

Di sini, istri menyempatkan sejenak melihat-lihat produk yang ada termasuk berapa harga jualnya.

Selanjutnya kami melangkah menuju Blok A yang berada di dalam gedung. Jalan untuk menuju ke Blok A sama padatnya dengan gang-gang di Blok F.

Bagi kami menuju ke Blok A sangatlah kurang nyaman. Sebuah tangga yang kotor menjadi akses untuk menuju ke sana. Sementara aliran sungai yang gelap dan penuh sampah berada di bawahnya.

Meski di dalam gedung, suasana Blok A tak beda jauh dengan Blok F. Begitu banyak ruko yang ada di dalamnya. Sementara lorong-lorongnya tak begitu lebar. Para pembeli terlihat memenuhi tiap lorong atau gang yang ada. Sehingga untuk sekedar berjalan saja cukup susah.

Panas dan gerahnya kondisi dalam ruangan Blok A tersebut membuat kami tak betah berlama-lama berada di sana.

Dan berhubung waktu sholat dzuhur sudah masuk, kami memutuskan untuk segera menuju masjid yang berada di lantai 12A atau bagian paling atas dari Pasar Tanah Abang.

Untuk ke lantai 12A mau tak mau mesti menggunakan lift. Kami telah mencoba untuk menggunakan eskalator, namun baru sampai tiga lantai kami sudah tidak tahan.

Menggunakan lift di Pasar Tanah Abang benar-benar butuh kesabaran. Apalagi selepas dzuhur seperti itu. Semua lift selalu penuh oleh para pengunjung atau pengguna. Ada yang mau ke masjid, ke foodcourt atau ke lantai-lantai lainnya. Hampir setengah jam kami menunggu untuk bisa masuk ke lift. Kami mesti ikut lift yang turun terlebih dahulu untuk kemudian naik lagi hingga ke lantai 12A.

Sesampai di sana kami langsung menuju Masjid untuk menunaikan sholat dzuhur siang itu.

Selepas sholat dzuhur kami beristirahat sejenak di area sekitaran masjid. Beberapa saat kemudian, beranjaklah kami menuju tempat di mana lift berada. Tujuan kami berikutnya adalah Food Court yang berada di lantai 8.

Tak seperti waktu naik ke lantai 12A, turun ke lantai 8 kali ini sedikit lebih cepat waktu tunggunya. Sekitar 10 menit menunggu, kami berhasil mendapatkan lift untuk membawa kami ke lantai 8. Lift yang telah penuh bergerak menuruni lantai-lantai yang ada dan turunlah kami di lantai 8.

Food Court di Pasar Tanah Abang ini ukurannya cukup besar. Menu makanannya pun beragam. Meski begitu Food Court tersebut terasa tak mampu menampung para pengunjungnya. Suasana tempat makan tersebut benar-benar penuh sesak.

Perjuangan untuk dapat membeli makanan siang itu benar-benar perlu kesabaran. Dapat dikatakan semua tempat duduk telah terisi. Kami berdua berjalan menyibak keramaian yang ada. Pandangan kami tak henti menebar ke segala sudut sambil berharap ada kursi atau bangku kosong.

Kamipun terpaksa berdiri di suatu lokasi di dekat deretan bangku makan yang telah terisi. Terlihat beberapa orang hampir menyelesaikan kegiatan makannya. Kami menunggu hingga mereka selesai dan meninggalkan bangku tersebut.

Menit-demi-menit berlalu seiring rasa lapar dan haus terasa mendera kami siang itu. Kesabaran kamipun terbayarkan. Beberapa waktu kemudian kami mendapatkan tempat duduk yang telah kami incar sebelumnya.

Perjuangan belum selesai. Kegiatan selanjutnya adalah memesan makanan. Sejauh mata memadang hampir semua gerai penuh dengan antrian.

Akhirnya setelah muter-muter, gerai Rawon Setan menjadi pilihan kami. Nasi campur dan nasi rawon menjadi menu yang kami pesan.

Sekitar sepuluh menit kemudian datanglah menu pesanan kami. Rasa lapar yang ada, membuat kami begitu lahap menikmati menu makanan tersebut.

Makan siang itu, kami tutup dengan membeli jus dan rujak. Meski kami tidak bisa menikmati setiap suap makanan yang ada dengan tenang, Alhamdulillah, haus dan lapar kami telah usai.

Menimbang banyaknya orang yang masih mencari tempat duduk, maka kamipun segera berdiri dan meninggalkan tempat tersebut.

Perjalanan selanjutnya menuju Blok B dari Pasar Tanah Abang.

Lagi-lagi lift menjadi faktor yang menghambat aktifitas kami. Lift-lift yang ada selalu penuh dengan penggunanya.

Hampir dua puluh menit kami berada di sana untuk menunggu bisa menggunakan lift. Berdesak-desakan kami masuk ke dalam lift. Semua orang sepertinya sudah tak sabar untuk menunggu.

Sesaat kemudian sampailah kami di Blok B. Berbeda dengan blok-blok yang lain, area Blok B ini cukup nyaman untuk melakukan kegiatan jual beli. Selain penataannya yang cukup rapi, ruangannyapun ber-AC.

Di area ini dijual aneka produk pakaian. Pengunjung dapat membelinya secara grosir atau satuan. Harganya tentu saja berbeda. Selisihnya bisa antara 10 ribu sampai 50 ribu rupiah tergantung jenis dan kualitas produknya.

Kami berjalan dari satu toko ke toko lainnya untuk mendapatkan produk yang berkualitas dengan harga yang bagus. Tentu saja dengan cara tawar menawar.

Setelah beberapa produk yang kami inginkan berhasil didapatkan, kamipun memutuskan untuk mengakhiri jalan-jalan kami di Pasar Tanah Abang.

Satu hal yang kami simpulkan dari perjalanan kami sabtu itu yaitu Pasar Tanah Abang memang menawarkan aneka produk yang variatif dengan harga yang menarik, namun berkunjung ke sana pada hari libur apalagi liburan panjang sangatlah tidak nyaman.

====================================================
photo by : deddy
====================================================


Responses

  1. Salam Kenal Ya Untuk Semuanya..🙂

  2. Baca artikel ditambah ngemil Gorengan plus cabe nya.. Mantepp sangadh.. Jadi Semangat..!!😛

  3. […] Tanah Abang misalnya, ada lebih dari 10.000 kios yang menjual dagangan yang hampir sama yakni seputaran […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: