Posted by: deddyek | September 14, 2012

Menjelajah Pekan Raya Jakarta 2012 (Bagian-1)

Awal Juli 2012, untuk kedua kalinya berturut-turut kami menyempatkan diri mampir ke suatu ajang pameran aneka produk yang mungkin terbesar di negeri ini.

Berlokasi di area JIExpo Kemayoran, Pekan Raya Jakarta 2012 di gelar di sana. Memang setiap tahun sejak 1992, even pameran terbesar ini bertempat di lokasi tersebut.

Untuk tahun ini pameran yang diselenggarakan dalam rangka HUT DKI Jakarta berlangsung mulai 14 Juni s/d 15 Juli 2012.

Jika pada tahun sebelumnya, kami datang pada pagi hari, kali ini kami memutuskan untuk berangkat tengah hari selepas dzuhur. Harapannya supaya tiba di sana menjelang sore sehingga aktifitas jalan-jalannya tidaklah terlalu panas.

Dari Cilebut, dengan menggunakan KRL Commuter Line, kami hanya membutuhkan waktu sekitar 60 menit untuk sampai ke Stasiun Gambir.

Dulu kala sebelum tahun 1960-an, sewaktu Pasar Malam Gambir masih ada, lokasi kegiatan ini berada di halaman lapangan Ikada atau Monas. Jadi tak jauh dari Stasiun Gambir. Begitupun dari pertama kali direbranding menjadi Jakarta Fair atau Pekan Raya Jakarta pada tahun 1968 hingga 1991, acara kebanggaan warga Jakarta ini masih tetap berlokasi di lapangan Monas. Namun setelah itu, dipindahlah lokasinya ke kawasan JIExpo Kemayoran.

Jadi, kami yang telah berada di Stasiun Gambir mesti meneruskan perjalanan menuju Kemayoran. Untuk mencapai lokasi ada beberapa pilihan yang bisa digunakan.

Untuk yang gratis, pengunjung dapat memanfaatkan layanan Bus Transjakarta yang mangkal di area parkir monas. Namun jadwal keberangkatannya hanya sedikit dan dijamin akan berebut untuk masuk ke dalamnya.

Pilihan selanjutnya adalah naik angkutan umum yaitu Bus. Namun pilihan ini cukup ribet karena dari Gambir tidak ada rute angkutan umum ke lokasi. Pengunjung mesti naik angkutan umum ke Terminal Pasar Senen, kemudian lanjut naik metromini ke Kemayoran dan turun di perempatan besar Jl. Benyamin Suaib. Setelah itu menikmati jalan kaki yang lumayan jauh untuk ke lokasi atau naik ojek yang tarifnya lumayan mahal di saat itu.

Jika ada anggaran yang cukup, menggunakan taksi menjadi pilihan yang pas. Apalagi jika lebih dari seorang. Tarifnya pun dijamin sama bahkan lebih murah dari pada Bajai. Tak lebih dari Rp. 25000 untuk sampai ke lokasi.

Dan itulah yang menjadi pilihan kami yang tidak mau terlalu ribet sekaligus menghemat tenaga.

Perjalanan dari Gambir ke JIExpo cukup lancar. Sekitar pukul 14.40 sampailah kami di lokasi.

Menjelang sore itu cuaca cukup cerah bahkan suhu udara terasa cukup panas. Meski begitu terlihat banyak pengunjung yang tengah berjalan menuju pintu masuk. Kami yang telah berada di sana, langsung saja mengikuti mereka. Sepanjang sisi trotoar terlihat tertata rapi para pedagang makanan terutama kerak telor.

Menyusuri jalanan menuju tempat pembelian tiket masuk, kami mendapati penuhnya tempat parkir kendaraan. Sepertinya bagi mereka yang datang kemudian akan kesulitan untuk mendapatkannya.

Untuk dapat jalan-jalan di dalamnya, pengunjung mesti mengeluarkan uang Rp. 25000 per orang untuk membayar tiket masuk. Untunglah masih sama seperti PRJ tahun 2011 termasuk juga bentuk dan lembaran kupon discount produk-produk tertentu yang dibagikan kepada pengunjung.

Setelah tiket berada di tangan, kamipun siap untuk memulai menjelajah isi PRJ ..🙂 .. tentu saja dengan menyerahkan tiket di pos pemeriksaan dan melewati x-ray machine terlebih dahulu.

Gedung Niaga menjadi tujuan kami pertama. Tentu saja karena mesti lewat gedung tersebut untuk menuju ke pelataran atau hall-hall yang ada di kawasan JIExpo.

Begitu masuk ke gedung tersebut, keramaian yang langsung menyeruak di hadapan kami. Hilir mudik orang berlalu lalang menuju arah dan tujuan berbeda.

Sebelum melanjutkan langkah, kami diingatkan oleh perut kami dengan suara keroncongannya. Maklum sudah hampir jam tiga sore, tapi kami belum mengisi perut sedikitpun. Dari pada masuk angin, kami putuskan untuk menuju Indonesia Food Galery, satu-satunya organizer untuk foodcourt di PRJ, yang kebetulan salah satu area tempat makannya ada di gedung tersebut.

Di antara beragam menu yang ditawarkannya, menu sate ayam dan ayam bakar menjadi pilihan kami.

Setelah menunggu pesanan kami siap, kami langsung saja menuju ruangan untuk menyantap makan siang kami di sana. Meski secara rasa tidak ada yang istimewa bahkan cenderung datar-datar saja, kedua menu tersebut habis oleh kami berdua dalam sesaat. Ternyata rasa lapar mampu mengalahkan rasa makanan.

Untuk kedua menu tersebut plus satu botol air mineral dingin, kami mesti membayar hampir Rp. 80,000. Cukup mahal untuk menu dengan standard rasa seperti itu.

OK. Ceritapun berlanjut. Waktu telah lebih dari jam tiga sore. Dan waktu sholat asharpun hampir tiba. Kami mendapat informasi dari bagian keamanan bahwa lokasi mushola di gedung ini ada di lantai 3.

Tanpa pikir panjang, kami langsung menuju ke lokasi tersebut. Sambil melangkah ke lokasi mushola, kami sempatkan sejenak melihat-lihat aneka produk yang diniagakan di setiap lantainya.

====================================================
photo by : deddy
====================================================

bersambung …


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: