Posted by: deddyek | September 19, 2012

Menjelajah Pekan Raya Jakarta 2012 (Bagian-4)

Malam minggu berdua di Pekan Raya Jakarta. Itulah yang kami tengah lakukan. Tentu saja di antara ribuan orang yang membludak memadati setiap area di PRJ.

Selepas sholat maghrib, kami hendak melanjutkan langkah menjelajah beberapa tempat yang belum kami singgahi. Sekalian sambil mencari camilan untuk menambah stamina.

Kami telah berada di lantai dasar dari gedung tersebut. Di sekitaran lokasi itu ternyata cukup banyak pedagang yang berjualan. Produk utamanya tentu saja beraneka pakaian dan asesorisnya. Pengunjung bisa mendapati beberapa jenis batik, busana muslim, kasual, dan masih banyak lagi.

Layaknya pasar, perpaduan suara para pedagang yang bersahutan menawarkan dagangannya menjadi tampilan yang jamak dijumpai.

Oh ya .. untuk mereka yang membawa anak-anak .. penyelenggara pameran juga menyediakan begitu beragam wahana permainan yang bisa dicoba.

Anak-anak dipastikan betah berlama-lama di sana. Dan tentu saja, suara rengekan akan keluar tatkala waktu permainan berakhir dan mereka masih ingin terus bermain.

Selain arena permainan, di bagian ujung dari kawasan ini terdapat wahana Family Recreation Park “Taman Pelangi”.

Area dibuat laksana taman yang menarik. Beberapa gasebo berdiri di sana. Dua buah kolam tampak berada di dalamnya dengan sebuah jalan yang membelah keduanya. Di tambah lagi pencahayaan yang pas, menjadikan area tersebut layak untuk disinggahi.

Dan sebagai latarnya terdapat relief candi Borobudur. Terlihat begitu banyak pengunjung yang berphoto.

Puas berada di sana, kami berpindah ke area sebelahnya. Di lokasi tersebut berdiri sebuah panggung kesenian Betawi. Malam itu tampak perlahan-lahan para pengunjung tengah menunggu untuk menyaksikan pertunjukkan yang akan diadakan.

Terus melangkah sampailah kami di Gambir Expo. Area inipun tak kalah ramainya. Para pecinta otomotif terutama roda empat terlihat memadati tempat tersebut.

Padatnya area depan Gambir Expo membuat kami cukup susah untuk bergerak. Menerobos kerumunan demi kerumunan, sampailah kami di suatu lokasi untuk membeli camilan.

Sambil mengantri, kami saksikan area sekililingnya yang kian-kian dan kian padat. Kepadatan itu ternyata tak membuat para penjaja snack oleh-oleh PRJ jera untuk terus menawarkan jualannya. Dan terbukti, begitu banyak pengunjung yang memang tertarik untuk membeli satu plastik snack dengan beragam isi itu.

Melarikan diri dari kerumunan, sampailah kami di Hall D. Hall D ini tersambung dengan Hall A. Di dalam gedung yang luas tersebut, dipamerkan dan dijajakan begitu banyak produk yang menarik.

Peralatan dapur atau memasak adalah salah satunya. Begitu banyak jenis dan merek hadir menggoda para pengunjung untuk membungkusnya pulang. Tentu saja dengan rayuan berupa discount yang menarik.

Beragam produk tas mulai dari tas backpack hingga tas kerja ada di sana. Mulai dari merek nomor wahid hingga yang biasa-biasa saja.

Tak ketinggalan beragam jenis produk tas dan dompet khusus wanita digelar di sana.

Penyelenggara TV Belaja tampaknya secara besar-besaran hadir untuk menawarkan aneka produk yang selama ini dipasarkan lewat iklan di TV. Untuk lebih memikat, beberapa di antaranya mengadakan kegiatan demonstrasi penggunaan produknya.

Berbelanja karpet di sini bisa jadi merupakan pilihan yang tepat. Terdapat beberapa stand yang menjual beragam jenis karpet dengan corak yang menarik. Kualiatasnya bermacam-macam. Dan harganya cukup miring.

Furniture seperti tempat tidur, kursi tamu, kursi makan hingga lampu kristal hadir dengan harga mulai jutaan hingga ratusan juta rupiah.

Melihat jam di HP, waktu ternyata sudah jam delapan lebih. Kami putuskan untuk mengakhiri penjelajahan kami di PRJ. Kami lantas segera meninggalkan Hall A.

Dan begitu keluar .. waduh .. lorong yang menghubung Hall D-A menuju Gedung Niaga benar-benar susah untuk dilalui karena padatnya pengunjung.

Belum lagi perjuangan untuk memasuki Gedung Niaga. Pengunjung yang hendak keluar dan masuk ke pelataran mesti melalui pintu yang sama. Butuh waktu hampir 15 menit untuk masuk ke gedung tersebut. Sukses masuk ke dalam gedung, tidak berarti dengan mudah bisa berjalan menuju pintu keluar. Ribuan pengunjung yang masuk bertemu dengan ribuan pengunjung yang hendak keluar.

Wuh .. bener-bener mantap pokoknya. Penuhnya orang membuat udara serasa menipis dan suhu ruangan menjadi kian panas. Lima belas menit lebih berada di ruangan, membuat butiran-butiran keringat mulai mengalir deras di wajah dan tubuh kami.

So, ga recommended banget bagi siapapun terutama yang datang bersama anak-anak atau manula untuk pulang dari PRJ di atas jam tujuh malam. Bisa menyiksa rasanya.

Akhirnya kami berhasil keluar dan wussssss .. angin malam berhembus serasa menghapus gerah yang menjalar.

Waktu kian malam dan pengunjungpun masih terus berdatangan. Hingga antrian roda dua menuju loket masukpun terlihat panjang mengular.

Sudah berada di luar gerbang bukan berarti permasalahan selesai. Sekarang kami benar-benar kesulitan untuk menuju Stasiun Juanda. Mengapa ? … Ternyata hampir di setiap malam takkala PRJ berlangsung, tak ada taksi yang lewat di kawasan tersebut. Menurut pak polisi, kami mesti jalan ke depan tepat di sisi Jl. Benyamin Suaib.

Terpaksa, kamipun bersama pengunjung yang lain jalan ke sana.

Untuk pertama kali, pemandangan berbeda kami lihat di jalan raya tersebut. Jika siang hari ramai penuh dengan kendaraan yang berlalu lalang, tapi malam ini menjadi tempat parkir kendaraan. Hal itu dikarenakan lahan parkir di PRJ sudah tak mampu menampung lagi.

Dan kami yang sudah hampir 30 menit berdiri di tepi jalan, ternyata masih belum mendapatkan taksi. Usut punya usut hampir semua taksi tak berminat terjebak macet di area tersebut. Kalaupun ada, pengemudi taksinya hanya mau untuk mengantar dengan sistem borongan yang tarifnyapun tentunya jauh lebih mahal dari tarif normal.

Lelah dan mengantuk tengah melanda kami. Hingga akhirnya kami melihat deretan bajai di sisi yang lain. Kami mencoba melangkah perlahan mendekatinya.

Setelah menyampaikan maksud, tawar menawarpun terjadi. Untuk rute dari PRJ ke Stasiun Juanda tidak kurang dari Rp. 35000 yang mesti dibayar.

Ya udahlah .. malam telah mulai beranjak dan kami juga tak mau ketinggalan KRL jurusan Bogor. Deal, kamipun menggunakan bajai menuju Stasiun Juanda.

Bajai melaju melewati jalan raya dan gang-gang kampung. Sekali-kali puter balik karena gang ditutup atau diportal. Menit demi menit berlalu. Dan sampailah kami di Stasiun Juanda.

Setelah membeli tiket, beberapa saat kemudian kami telah terlelap di dalam KRL Commuter Line jurusan Bogor. Kantuk yang mendera membuat kami hanyut bersama lajunya dan berharap stasiun Cilebut tak terlewat saat kami terbangun nanti.

====================================================
photo by : deddy
====================================================

selesai


Responses

  1. Terima kasih atas konten dan info yg menarik dan menginspirasi….thk u

    • you’re welcome

  2. Seumur-umur belum pernah mencoba ke PRJ, hanya mendengar beritanya saja kalau PRJ sangat meriah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: