Posted by: deddyek | September 23, 2010

Lapangan Semut, Riwayatmu Kini

Masih teringat suasana riuh dan membahana seiring gocekan, tendangan dan gol yang tercipta pada 15 ~ 20 tahun yang lalu. Ribuan penonton membludak hingga ke tepian garis lapangan. Tua, muda, laki-laki, perempuan, anak-anak semua berkumpul menikmati laga yang selalu panas. Saking panasnya hingga dapat dipastikan di tengah ataupun di akhir laga, keributan terjadi. Kejar-kejaran, pukul-pukulan sesama penonton menjadi suguhan terakhir yang seru.

Masih teringat pula rerumputan yang hijau dan nyaris rata di seluruh arealnya. Hampir setiap minggu, aneka jenis kegiatan olahraga dilangsungkan oleh beberapa sekolah yang berada di sekitar. Karena dulu bersekolah di SMA1 Cepu, yang lokasinya cukup dekat dengannya, lapangan itu terasa akrab bagi ku dan temen sekolah semuanya.

Lapangan Semut… begitu lah dulu warga Cepu khususnya Balun menyebutnya.

Lapangan yang setiap menjelang HUT Kemerdekaan RI selalu menjadi saksi kemeriahan dengan aneka macam kegiatan olahraga. Di situ juga dulu aku mengenal “Macan Bola”. Suatu klub sepak bola yang cukup disegani di wilayah Cepu..🙂 ..

Itu 15 ~ 20 tahun lalu. Hari ini, lapangan Semut telah berganti nama menjadi Lapangan Ronggolawe. Lapangan yang diapit oleh Jl. Diponegoro dan Tug Buntung itu memang masih ada. Namun kondisinya jelas menyedihkan.

Deretan pertokoan yang mengeliling lapangan tersebut telah berdiri di sana. Tak apalah itu karena pertokoan tersebut merupakan pencaharian dari warganya.

Memasuki lapangan tersebut, sepi senyap terasa seperti halnya rerumputan yang mulai gundul habis terpanggang panas matahari. Pasir-pasir menyeliputi hampir separoh arealnya.

Gawang-gawang yang sudah berkarat, kusam, masih tersisa dan berdiri di sana. Mungkin rindu akan riuhnya suasana dan lesakan bola yang masuk ke dalamnya.

Secuil tribun mini masih ada di salah satu sisinya. Tribun mini yang telah ada sejak 15~20 tahun yang lalu.

Meski begitu lapangan ini masih tetap memberikan manfaat bagi warganya. Paling tidak, lapangan ini menjadi tempat yang aman untuk berlatih mengendarai sepeda motor atau mobil.

Atau setidaknya setiap tahun, dua kali lapangan ini menjadi tempat untuk diselenggarakannya sholat ied bagi warga kecamatan Cepu.

Apapun kondisinya sekarang, Lapangan Semut akan tetap selalu dikenang oleh warganya dengan segenap cerita yang pernah dialaminya.


Responses

  1. Wah tambah gersang…udah lama kagak maen ke Cepu..Klub ane dulu namanya Putra Balun, ntah sekarang masih ada ato tidak

  2. waduh jadi ingat masa kecil di cepu ternyata sudah banyak berubah dulu belum ada warung atau pertokoann yang di ujung gawang deretan rumah penduduk sebelahnya seperti Rumah dinas (kawasan elit pada jamanya (sekitar tahun 84-85an) rumahku dulu di Jl. Diponegoro Lr. 6 depan Polsek Cepu naik sepeda Mini jam 1siang dudah meluncur agar bisa masuk gratis sebelum jalan jalan ditutup untuk masuk area Lapangan yang pada waktu itu memang club yang terkenal adalah “Macan Bola” dan ada pemainnya yang lincah dijuluki si Kancil


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: