Posted by: deddyek | July 27, 2011

Keraton Ngayogjokarto

Menyusuri jalan Malioboro dengan menaiki becak membawa kami sampai ke perempatan kantor pos besar. Berhenti sejenak menunggu lampu lalulintas berubah dari merah ke hijau, kami dapat melihat jauh di sana sebuah lapangan yang merupakan alun-alun kota Jogja. Tak lama kemudian becakpun melintasi perempatan tersebut, lurus mendekati alun-alun tersebut. Di belakang alun-alun di sana terdapat bangunan megah yang menjadi simbul kejayaan kasultanan Jogjakarta. Bangunan itu adalah Keraton Jogjakarta. Dan siang itu kami hendak menuju ke sana.

Sebuah hamparan lapangan yang lumayan luas dengan pohon beringin di tengahnya menjadi pemandangan yang kami temui saat becak tersebut berbelok ke kanan untuk menyusuri jalan yang ada di sekeliling alun-alun tersebut.

Suatu tampilan yang membuat kami penasaran adalah baleho bertuliskan Ijab Qabul yang dipasang di beberapa sudut jalan. Ternyata baleho tersebut merupakan Amanah dari Sultan Hamengkubuwono IX pada 5 Sep 1945 mengenai Negara Jogjakarta bergabung dengan Republik Indonesia. Sepertinya mengikuti suasana politik Jogjakarta yang sistem pemilihan pemimpinnya sedang diotak-atik oleh pihak-pihak tertentu di Jakarta.

Tak lama kemudian becak yang kami tumpangi sampai juga di halaman Keraton Jogjakarta. Setelah membayar ongkos becak, kamipun melangkah menuju tempat pembelian tiket masuk. Dengan membayar Rp. 5000 per orang, kamipun dapat memulai jalan-jalan ke Kerator Jogjakarta.

Di pintu masuk, nampak beberapa orang menawarkan jasa pemandu wisata. Hari itu nampak pula beberapa turis asing dari beberapa negara mengunjungi keraton. Beberapa pemandu wisata yang mahir dalam berbahasa Perancis ataupun Inggris, laris manis di-booking oleh sang turis untuk memandu kunjungan mereka ke keraton.

Kamipun melangkahkan kaki melalui sisi barat, melewati tempat penjualan suvenir, untuk menuju Bangsal Pagelaran.

Bangunan ini dulunya bernama Tratag Rambat, merupakan bangunan utama yang fungsinya adalah sebagai tempat para punggawa kesultanan menghadap kepada Sultan pada acara/upacara resmi.

Bangunan ini berbentuk joglo namun tanpa ada dindingnya. Banyak tiang berdiri tegak di sana untuk menopang bangunan tersebut beralasakan lantainya yang putih bersih.

Di samping bangunan ini, di sisi kanan kirinya nampak bangunan yang disebut Bangsal Pengapit/Pasewakan. Setelah puas berjalan-jalan di Bangsal Pagelaran, kami langsung menuju Bangsal Pasewakan yang berada di sisi timur.

Di sana kami mendapati beberapa boneka berkostum khas keraton ada sana. Boneka-boneka tersebut sepertinya menggambarkan seragam dari berbagai posisi pegawai atau abdi dalem keraton ataupun prajurit keraton pada jamannya.

Beranjak dari lokasi tersebut, kami menuju ke sebuah bangsal yang lebih kecil yang dinamakan Bangsal Pangrawit. Bangsal ini dulunya digunakan oleh Sultan dalam proses pelantikan patih kasultanan.

Dari lokasi ini kamipun melanjutkan langkah menuju bangunan selanjutnya yang ada di sisi selatan. Sebuah bangunan besar yang dari Bangsal Pagelaran terlihat berdiri kokoh di sana.

Sebelum menuju pintu gerbang menuju lokasi tersebut, kami menyaksikan relief-relief perjuangan para sultan Jogjakarta dahulu kala saat melawan para penjajah. Relief-relief tersebut berwarna putih dan menempel pada dinding tembok pagar.

Setelah melihat-lihat relief tersebut, kami langsung masuk menuju lokasi selanjutnya yaitu Bangsal Sitinggil. Untuk menuju ke sana kami mesti melalui anak tangga.

Jika kita menoleh ke belakang tampaklah di sana Bangsal Pagelaran berdiri megah.

Kami berdua langsung saja muter-muter di sana, melihat sana-sini sambil mengambil beberapa photo.

Bangsal Sitinggil ini digunakan untuk acara-acara resmi kerajaan. Di tengah-tengah Bangsal Sitinggil terdapat tempat duduk sultan. Tempat tersebut dinamakan Bangsal Manguntur Tangkil.

Selain itu masih ada bangsal lain yang disebut Bangsal Witono yang digunakan sebagai tempat untuk meletakkan simbul-simbuk dan pusaka keraton pada saat acara-acara resmi diselenggarakan.

Puas berada di tempat tersebut kami selanjutnya menuju ke bangunan yang berada di sebelah timur bangsal Sitinggil. Bangunan tersebut bernama Bale Bang yang dulunya merupakan tempat untuk menyimpan perangkat gamelan istana. Saat ini di sana dijadikan semacam museum dengan menampilkan photo-photo jaman dahulu mengenai keluarga kesultanan, para prajuritnya, kereta-keretanya dan lain-lain.

Beberapa saat kemudian kamipun keluar dari bangunan tersebut. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30. Waktu sholat dzuhur sudah hampir tiba. Kami memutuskan untuk menyelesaikan jalan-jalan di keraton Jogjakarta ini.

Sambil melangkah keluar kami masih melihat beberapa bangunan yang ada di dalam lingkungan keraton seperti Bale Angun-angun, dan bale yang digunakan untuk meletakkan seperangkat gamelan.

Melangkahkan kaki melalui jalur yang sama membawa kami menuju pintu keluar. Setelah istirahat sejenak sambil menikmati air mineral yang kami bawa, kami segera melanjutkan perjalanan menuju Masjid Gede.

====================================================
photo by : deddy
====================================================


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: